Penyelundupan 2.300 Ekor Burung Ciblek dan Gelatik Batu dari Medan ke Yogyakarta Digagalkan

Kompas.com - 17/06/2020, 06:43 WIB
Sebanyak 1.700 ekor burung ciblek/perenjak Jawa dan 600 ekor burung gelatik batu, yang akandiselundupkan ke Yogyakarta diamankan petugas di Bandara Internasional Kualanamu pada Senin (15/6/2020). Pengiriman ribuan burung tersebut tanpa disertai dokumen resmi. Dok. BBKSDA SumutSebanyak 1.700 ekor burung ciblek/perenjak Jawa dan 600 ekor burung gelatik batu, yang akandiselundupkan ke Yogyakarta diamankan petugas di Bandara Internasional Kualanamu pada Senin (15/6/2020). Pengiriman ribuan burung tersebut tanpa disertai dokumen resmi.

MEDAN, KOMPAS.com - Sebanyak 1.700 ekor burung ciblek atau perenjak Jawa dan 600 ekor burung gelatik batu, yang akand diselundupkanke Yogyakarta diamankan petugas di Bandara Internasional Kualanamu pada Senin (15/06/2020).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) Hotmauli Sianturi mengatakan, pengiriman ribuan burung tersebut tanpa disertai dokumen resmi. 

Ribuan burung itu diamankan setelah adanya kegiatan pembinaan dan pemantauan kinerja Resort Konservasi Bandara nternasional Kualanamu (KNIA) oleh Kepala Bidang Teknis BBKSDA Sumatera Utara.

Baca juga: Kronologi Pria Tersengat Listrik Saat Tangkap Burung Love Bird, Kaki Tersangkut Besi

Pemantauan itu dilakukan oleh petugas Resort Konservasi Bandara Kuala Namu Internasional, Kepala Bidang Teknis setelah koordinasi ke Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandara Kuala Namu serta pemantauan di area Kargo baik di dalam area bandara maupun di luar area bandara. 

Pada saat melakukan pemantauan di salah satu area kargo di luar area bandara, pihaknya menemukan ada 4 koli barang yang dicurigai merupakan satwa yang dikirim tanpa dilengkapi dengan dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN), sehingga dilakukan pemeriksaan terhadap barang tersebut. 

"Dari hasil pemeriksaan didapat, bahwa benar barang tersebut merupakan satwa yang akan dikirim melalui Bandara Kuala Namu Internasional tanpa dilengkapi dengan dokumen SATS-DN," kata Hotmauli Sianturi dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (16/06/2020).

Baca juga: MaLing Tobat, Kembalikan Burung Jalak yang Dicuri ke Toko Hewan

Mengetahui barang tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen SATS-DN, Kepala Bidang Teknis memerintahkan petugas Resort Konservasi Bandara Kualanamu Internasional untuk menahan keberangkatan barang tersebut, serta menugaskan Team Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk segera menelusuri dan menindaklanjuti hasil temuan tersebut. 

Dari hasil penelusuran TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta petugas Resort Konservasi Bandara Kuala Namu Internasional, didapatkan dokumen dari Karantina mengenai barang temuan tersebut, yaitu satwa yang berada dalam 4 koli tersebut terdiri dari 1.700 ekor Burung ciblek atau perenjak Jawa dan 600 ekor burung Ggelatik batu, yang akan dikirim ke Yogyakarta.

Tim kemudian mengamankan dan membawanya ke kantor BBKADA Sumut. Saat dilakukan pembongkaran terhadap 4 koli tersebut, ditemukan setiap koli terdapat 16 keranjang kecil, sehingga dari total 4 koli ada 64 keranjang kecil. 

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masyarakat Adat Dayak Lundayeh Bentangkan Merah Putih di Ketinggian 1.103 Meter, Ini Tujuannya

Masyarakat Adat Dayak Lundayeh Bentangkan Merah Putih di Ketinggian 1.103 Meter, Ini Tujuannya

Regional
Cerita Pedagang Pasar Ciranjang, seperti Mimpi 2 Kali Jadi Korban Kebakaran

Cerita Pedagang Pasar Ciranjang, seperti Mimpi 2 Kali Jadi Korban Kebakaran

Regional
Menengok Bekas Tambang di Bangka yang Disulap Jadi Lokasi Agrowisata

Menengok Bekas Tambang di Bangka yang Disulap Jadi Lokasi Agrowisata

Regional
Jaringan Telkomsel di Sumatera Kembali Normal Pasca Kebakaran

Jaringan Telkomsel di Sumatera Kembali Normal Pasca Kebakaran

Regional
Warga Enggan Pinjamkan Cangkul karena Takut Tertular, Makam Pasien Covid-19 Ditutup Pakai Tangan

Warga Enggan Pinjamkan Cangkul karena Takut Tertular, Makam Pasien Covid-19 Ditutup Pakai Tangan

Regional
Seorang Istri di Bengkulu Tengah Merekayasa Kasus Pembunuhan Suaminya

Seorang Istri di Bengkulu Tengah Merekayasa Kasus Pembunuhan Suaminya

Regional
Kronologi Avanza Terbakar di Tol Bawen, Polisi Kejar Truk yang Diduga Kabur

Kronologi Avanza Terbakar di Tol Bawen, Polisi Kejar Truk yang Diduga Kabur

Regional
Kisah Agus, Penyandang Tunanetra Dirikan Rumah Belajar Gratis Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Kisah Agus, Penyandang Tunanetra Dirikan Rumah Belajar Gratis Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Regional
Kasus Pembubaran Paksa Acara Midodareni di Solo, Kapolda Jateng: Kita Kejar Pelaku Lainnya

Kasus Pembubaran Paksa Acara Midodareni di Solo, Kapolda Jateng: Kita Kejar Pelaku Lainnya

Regional
2 Staf Sekwan DPRD Kabupaten Bogor Dinyatakan Positif Covid-19

2 Staf Sekwan DPRD Kabupaten Bogor Dinyatakan Positif Covid-19

Regional
Polisi Mulai Selidiki Kasus Kebakaran Lahan di Ogan Ilir

Polisi Mulai Selidiki Kasus Kebakaran Lahan di Ogan Ilir

Regional
'Pak Ganjar, Saya Ingin Kaki Saya Sembuh, Saya Ingin Sekolah...'

"Pak Ganjar, Saya Ingin Kaki Saya Sembuh, Saya Ingin Sekolah..."

Regional
Polemik Potret Nyonya Meneer di Kemasan Minyak Telon, Ini Kata Saksi Ahli dalam Sidang

Polemik Potret Nyonya Meneer di Kemasan Minyak Telon, Ini Kata Saksi Ahli dalam Sidang

Regional
Fakta Gedung Telkom di Pekanbaru Terbakar, Toko Kartu Perdana Laris Manis hingga Keluhan Warga

Fakta Gedung Telkom di Pekanbaru Terbakar, Toko Kartu Perdana Laris Manis hingga Keluhan Warga

Regional
[POPULER NUSANTARA] Anak Gugat Ibu agar Harta Warisan Dibagikan | Kesaksian Warga Melihat Awan Tsunami

[POPULER NUSANTARA] Anak Gugat Ibu agar Harta Warisan Dibagikan | Kesaksian Warga Melihat Awan Tsunami

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X