Wali Kota Medan Nonaktif Divonis 6 Tahun Penjara, Edy Rahmayadi Pilih Mendoakan agar Kuat

Kompas.com - 11/06/2020, 21:55 WIB
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat dimintai komentarnya terkait vonis Wali Kota Medan Nonaktif Dzulmi Eldin memilih mendoakan, Kamis (11/6/2020) KOMPAS.COM/MEI LEANDHA ROSYANTIGubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat dimintai komentarnya terkait vonis Wali Kota Medan Nonaktif Dzulmi Eldin memilih mendoakan, Kamis (11/6/2020)

MEDAN, KOMPAS.com - Terbukti menerima suap sebesar Rp 2,1 miliar dari para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pejabat eselon dua di Pemerintahan Kota Medan, Wali Kota Medan Nonaktif Dzulmi Eldin divonis enam tahun penjara, denda Rp 500 juta dan subsider empat bulan kurungan.

Hakim Ketua Majelis Abdul Aziz yang menyidangkan perkara ini di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan menilai terdakwa terbukti bersalah.

Terdakwa melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Baca juga: Saat Wali Kota Medan Duduk di Kursi Pesakitan

Hak politik dicabut

"Hak politik terdakwa juga dicabut selama empat tahun setelah bebas nanti," kata Abdul Aziz dalam sidang virtual di PN Medan, Kamis (11/6/2020).

Mendengar vonis tersebut, terdakwa melalui Ketua Tim Penasihat Hukum Junaidi Matondang dan Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Siswandono kompak mengatakan pikir-pikir dahulu.

Sidang ditutup usai ketukan palu ketua majelis hakim.

Vonis yang diterima Eldin lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut tujuh tahun penjara, denda Rp 500 juta dan subsider enam bulan kurungan serta mencabut hak politiknya selama lima tahun.

Baca juga: Belasan Pejabat Pemkot Medan Diperiksa dalam Kasus Wali Kota Medan

Didoakan Edy Rahmayadi

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang dimintai komentarnya terkait vonis Wali Kota Medan Nonaktif Dzulmi Eldin memilih mendoakan.

"Okelah, itu urusan hukum, ya... Saya tak ikut campur, kita tunggu nanti, udah vonis rupanya?" tanya dia yang langsung dijawab, "Sudah, baru saja, Pak."

"Ya, semoga saudara kita itu kuat, apapun keputusan itu, lebih baik dihukum di dunia dari pada nanti di akhirat," kata Edy saat ditemui di Rumah Sakit Khusus Bedah Accuplast, Kota Medan, Kamis (11/06/2020). 

 

Ditangkap saat OTT KPK

Terdakwa Wali Kota Medan non-aktif Dzulmi Eldin duduk di bangku barisan paling depan Pengadilan Tipikor pada PN Medan, menunggu majelis hakim yang akan menyidangkan perkaranya, Kamis (5/3/2020)KOMPAS.COM/MEI LEANDHA ROSYANTI Terdakwa Wali Kota Medan non-aktif Dzulmi Eldin duduk di bangku barisan paling depan Pengadilan Tipikor pada PN Medan, menunggu majelis hakim yang akan menyidangkan perkaranya, Kamis (5/3/2020)
Dzulmi Eldin ditangkap KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 15 dan 16 Oktober 2019 di Kota Medan. Dia menjadi tahanan KPK mulai Kamis, 17 November 2019 dini hari.

Pria berusia 60 ini ditahan penyidik di Rutan Klas I Jakarta Timur cabang KPK pada Rutan Pomdam Jaya Guntur sejak 16 Oktober 2019 sampai 4 November 2019.

Terakhir, penahanan oleh penuntut umum di Lapas Klas I Tanjunggusta Medan sejak 11 Februari 2020 sampai dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor pada PN Medan. 

KPK menangkap Eldin bersama Kadis PU Kota Medan Isa Ansyari, Kasubbag Protokoler Kota Medan Samsul Fitri Siregar, dan dua ajudan Eldin masing-masing Aidiel Putra Pratama dan Sultan Solahudin.

Baca juga: Penyuap Wali Kota Medan Isa Ansyari Dituntut 30 Bulan Penjara

Isa duluan menjalani persidangan, dia divonis dua tahun penjara, denda Rp 200 juta dan subsider empat bulan kurungan. Atas vonis tersebut, Isa tidak melakukan upaya hukum banding, dia menerima sementara jaksa pikir-pikir.

Awal Maret 2020, Samsul Fitri menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor pada PN Medan dengan Ketua majelis hakimnya Abdul Aziz. Eldin dituding menerima uang sebesar Rp 450 juta dari Isa Ansyari melalui Samsul.

Selain Isa, dalam persidangan tersebut 20 nama kepala dinas yang menurut jaksa memberikan uang Eldin melalui perantara Samsul.

Baca juga: Kasus Suap Wali Kota Medan, Biaya Pelesir ke Jepang hingga Ajudan Nyaris Tabrak Tim KPK

Warga Komplek Citra Wisata Blok VII-12 LK XIV, Kelurahan Pangkalanmansyur, Kecamatan Medanjohor, Kota Medan menjadi kepala daerah ke-49 yang di-OTT KPK.

Dilantik pada 17 Februari 2016, Eldin harusnya menjabat sebagai wali kota sampai 2021. Pria kelahiran 4 Juli 1960 ini diangkat menjadi wali kota menggantikan wali kota Rahudman Harahap yang juga terkena kasus korupsi.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Calon Tunggal di Pilwalkot Semarang Kampanye Lewat Virtual Box

Calon Tunggal di Pilwalkot Semarang Kampanye Lewat Virtual Box

Regional
Bupati Aceh Tengah Dukung Pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara

Bupati Aceh Tengah Dukung Pemekaran Provinsi Aceh Leuser Antara

Regional
Fakta Beras Bansos Bercampur Biji Plastik di Cianjur, Ditemukan Usai Dimasak hingga Ada Indikasi Sabotase

Fakta Beras Bansos Bercampur Biji Plastik di Cianjur, Ditemukan Usai Dimasak hingga Ada Indikasi Sabotase

Regional
Menggembalakan Sapi, Nurhati Tewas Terlilit Tali, Ini Kronologinya

Menggembalakan Sapi, Nurhati Tewas Terlilit Tali, Ini Kronologinya

Regional
[POPULER NUSANTARA] Sejarawan UGM Tanggapi Film G30S/PKI | Driver Ojol Korban Order Fiktif 14 Ayam Geprek

[POPULER NUSANTARA] Sejarawan UGM Tanggapi Film G30S/PKI | Driver Ojol Korban Order Fiktif 14 Ayam Geprek

Regional
KA Serayu Pagi Jurusan Pasar Senen-Purwokerto Anjlok di Ciamis, Ganggu Perjalanan KA Lain

KA Serayu Pagi Jurusan Pasar Senen-Purwokerto Anjlok di Ciamis, Ganggu Perjalanan KA Lain

Regional
Pakai GPS, Sulkifli Kayuh Perahu Sejauh 17 Km untuk Daftar Jadi Anggota TNI AL, Ini Kisahnya

Pakai GPS, Sulkifli Kayuh Perahu Sejauh 17 Km untuk Daftar Jadi Anggota TNI AL, Ini Kisahnya

Regional
Aniaya Anak Pakai Tang, Ini Keanehan Sikap Seorang Ayah Saat Berhadapan dengan Polisi

Aniaya Anak Pakai Tang, Ini Keanehan Sikap Seorang Ayah Saat Berhadapan dengan Polisi

Regional
Detik-detik Paidi Pingsan Lihat Sang Istri Tewas Terlilit Tali Sapi yang Digembalakan

Detik-detik Paidi Pingsan Lihat Sang Istri Tewas Terlilit Tali Sapi yang Digembalakan

Regional
Kontak Erat dengan Pasien Corona, Wakil Bupati Kubu Raya Positif Corona: Saya Tak Ingin Ini Klaster Baru

Kontak Erat dengan Pasien Corona, Wakil Bupati Kubu Raya Positif Corona: Saya Tak Ingin Ini Klaster Baru

Regional
'Kalau Risma Jadi Juru Kampanye Pasangan Nomor 1, Mengundurkan Diri Dulu'

"Kalau Risma Jadi Juru Kampanye Pasangan Nomor 1, Mengundurkan Diri Dulu"

Regional
Kisah Febfi Sebarkan Kebaikan dengan Sediakan Internet Gratis Keliling, Berawal dari Meninggalnya Sang Anak

Kisah Febfi Sebarkan Kebaikan dengan Sediakan Internet Gratis Keliling, Berawal dari Meninggalnya Sang Anak

Regional
Ini Jawaban Kapolres Blitar Dituding Maki Kasat Sabhara dan Biarkan Penambangan Liar

Ini Jawaban Kapolres Blitar Dituding Maki Kasat Sabhara dan Biarkan Penambangan Liar

Regional
Cerita Bambang Surono, Dapat Tawaran Nyanyi karena Mirip Didi Kempot

Cerita Bambang Surono, Dapat Tawaran Nyanyi karena Mirip Didi Kempot

Regional
Setelah Mengundurkan Diri karena Dimaki, Kasat Sabhara Laporkan Kapolres Blitar ke Polda Jatim

Setelah Mengundurkan Diri karena Dimaki, Kasat Sabhara Laporkan Kapolres Blitar ke Polda Jatim

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X