Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kejengkelan Gubernur Kalbar Hadapi Warga yang Tak Percaya Adanya Virus Corona

Kompas.com - 03/06/2020, 13:32 WIB
Hendra Cipta,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

PONTIANAK, KOMPAS.com – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, mengaku ada berbagai macam orang dalam menghadapi pandemi virus corona.

Namun yang paling menyebalkan adalah orang yang tidak mau disiplin, karena berpikir virus corona hanya bualan jadi dianggap tidak berbahaya.

“Jika virusnya hanya menjangkiti orang yang ngomong, tidak apa-apa, artinya dia berani. Tapi kan dia akan menjangkitkan ke orang-orang,” kata Sutarmidji, Rabu (3/6/2020).

Midji menegaskan, virus corona itu nyata. Karena tidak mungkin pemerintah mengorbankan ribuan nyawa meninggal dunia hanya karena Covid-19.

Baca juga: Bupati Landak Kalbar Keluhkan Lamanya Hasil Swab Test Covid-19

Jadi, dia harap masyarakat betul-betul menyaring omongan orang-orang yang tidak percaya virus ini ada.

“Kalau saya, yang ngomong lagak itu suruh jadi relawan di RSUD Soedarso, mandikan jenazah pasien Covid-19. Kemarin ada yang saya suruh, lari satu-satu. Waktu ngomong, boleh-boleh,” ungkap Sutarmidji.

Dia menerangkan, saat ini Kalimantan Barat tengah mempersiapkan penerapan new normal.

Pasalnyam dalam beberapa hari terakhir, jumlah warga yang positif lebih kecil dari yang dinyatakan sembuh. Namun demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga.

“Kita new normal tetap berjalan, kewaspadaan tetap kita jaga. Saya rasa, data hari ini yang positif lebih kecil dari yang sembuh. Ini artinya kurva kita akan terus menurun ke depan, saya yakin menurun terus,” harap Sutarmidji.

Baca juga: Bupati Melawi Kalbar dan Keluarganya Positif Terinfeksi Virus Corona

Menurut dia, ada prediksi sejumlah pakar, pada 14 Mei 2020, jumlah keterjangkitan di Kota Pontianak akan mencapai 45 persen, yang artinya sebanyak 200.000 orang.

Jika itu terjadi, maka akan sangat merepotkan, karena harus disiapkan 380 ruangan ICU dengan ventilator.

“Dengan sejumlah kebijakan yang dilakukan, dan kita jaga betul, ternyata itu tidak terjadi. Nah orang mau marah-marahlah. Kan banyak masyarakat tidak mau disiplin, tidak mau tahu dan ada yang bilang bohong,” ungkap Sutarmidji.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com