Duduk Perkara Kepala Dusun Ancam Ratusan Warga, Bermula dari Upah Proyek Bronjong

Kompas.com - 29/05/2020, 13:40 WIB
Proyek bronjong di Dukuh Kopen Desa Gonggang yang  diributkan warga. Warga rencananya akan membelikan  tanah untuk lapangan voli dari upah pengerjaan  proyek tersebut, namun oleh kepala dusun upah tersebut dibelikan tanah kuburan. KOMPAS.COM/SUKOCOProyek bronjong di Dukuh Kopen Desa Gonggang yang diributkan warga. Warga rencananya akan membelikan tanah untuk lapangan voli dari upah pengerjaan proyek tersebut, namun oleh kepala dusun upah tersebut dibelikan tanah kuburan.

MAGETAN, KOMPAS.com - Ratusan warga Dusun Kopen, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, mengaku diancam kepala dusun jika tidak menandatangani surat kesepakatan pembelian tanah perluasan kuburan seharga Rp 15 juta.

Tanah perluasan kuburan itu dibeli menggunakan uang upah pekerjaan proyek bronjong atau keranjang kawat untuk membungkus batu kali.

Padahal, 125 warga Dusun Kopen sepakat menggunakan upah itu untuk membeli tanah yang biasa digunakan warga untuk bermain voli.

Ketua Karang Taruna Dusun Kopen Supri menyebut, banyak warga yang melapor kepadanya mendapat ancaman pada Selasa (26/5/2020).

"Ancamannya melalui lisan oleh kepala dusun saat meminta dukungan warga terkait pembelian tanah perluasan kuburan seharga Rp 15 juta. Kalau tidak tanda tangan, tidak boleh dikuburkan di situ," kata Supri saat ditemui di rumahnya, Desa Gonggang, Magetan, Kamis (28/5/2020).

Baca juga: 5 Hari Hilang di Hutan, Pria Ini Makan Beras dan Minum Air dari Lumut untuk Bertahan Hidup

Proyek bronjong sepanjang enam meter dan tinggi lebih dari meter itu dianggarkan sebesar Rp 44 juta dari program padat karya.

Proyek itu selesai dikerjakan pada Desember 2018. Hampir setahun setelah proyek selesai, tak ada kejelasan terkait pembayaran upah sesuai kesepakatan.

Warga pun melaporkan kasus tersebut ke polisi pada November 2019.

“Kita laporkan ke polisi pada bulan November 2019, kita menerima laporan perkembangan kasus pada 3 Maret 2020. Kasusnya dikembalikan ke Inspektorat Magetan,” imbuhnya.

Inspektorat Magetan telah melakukan mediasi beberapa waktu lalu, tapi belum ada kesepakatan antara warga dan kepala dusun.

Supri menambahkan, pembelian tanah untuk perluasan kuburan dilakukan kepala dusun setelah warga melaporkan kasus ketidakjelasan upah ke polisi.

Ia berharap, kepala dusun bisa memberikan penjelasan rinci penggunaan uang proyek dalam mediasi berikutnya. Menurutnya, penggunaan anggaran tak sesuai dengan kesepakatan warga.

“Tuntutan kami uang dikembalikan, berikan kemauan masyarakat dan mereka mengakui adanya kesalahan dalam pengelolaan uang tersebut,” jelasnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buang Bayinya di Tempat Sampah, Pasangan Ini Ditangkap Polisi

Buang Bayinya di Tempat Sampah, Pasangan Ini Ditangkap Polisi

Regional
Dampak PSBB Selama Pandemi, Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Subang Menurun

Dampak PSBB Selama Pandemi, Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Subang Menurun

Regional
Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Saat Pernikahan Anaknya, Ini Penjelasan Kades

Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Saat Pernikahan Anaknya, Ini Penjelasan Kades

Regional
Satu Perusahaan Minyak Sawit Ditutup gegara 9 Karyawan Positif Corona

Satu Perusahaan Minyak Sawit Ditutup gegara 9 Karyawan Positif Corona

Regional
Di Purbalingga, Tak Bermasker Dihukum Kerja Bakti di Kantor Kecamatan

Di Purbalingga, Tak Bermasker Dihukum Kerja Bakti di Kantor Kecamatan

Regional
Petugas Perlindungan Anak yang Cabuli Siswi SMP Korban Perkosaan Diduga Kabur

Petugas Perlindungan Anak yang Cabuli Siswi SMP Korban Perkosaan Diduga Kabur

Regional
Detik-detik Jembatan Gantung Putus, Warga Sakit yang Ditandu Tewas Usai Jatuh ke Sungai

Detik-detik Jembatan Gantung Putus, Warga Sakit yang Ditandu Tewas Usai Jatuh ke Sungai

Regional
Ada Klaster Komunitas Senam di Karawang, yang Positif Sudah 7 Orang

Ada Klaster Komunitas Senam di Karawang, yang Positif Sudah 7 Orang

Regional
Pungutan Sekolah Harus Dikembalikan, Kepsek: Kami Sudah Terlanjur Belikan Seragam untuk Siswa Baru

Pungutan Sekolah Harus Dikembalikan, Kepsek: Kami Sudah Terlanjur Belikan Seragam untuk Siswa Baru

Regional
Pulang Hadiri Wisuda Anak di Makassar, Seorang Guru di Manggarai Barat Positif Covid-19

Pulang Hadiri Wisuda Anak di Makassar, Seorang Guru di Manggarai Barat Positif Covid-19

Regional
Es Krim Pengantin Baru dan Maut Bocah 5 Tahun di Pasuruan...

Es Krim Pengantin Baru dan Maut Bocah 5 Tahun di Pasuruan...

Regional
Cemburu Ada Pria Lain, Kakek Aniaya Pacarnya hingga Meninggal

Cemburu Ada Pria Lain, Kakek Aniaya Pacarnya hingga Meninggal

Regional
Viral, Video Seorang Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Ingin Batalkan Pernikahan Anaknya

Viral, Video Seorang Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Ingin Batalkan Pernikahan Anaknya

Regional
Warga Lampung Tewas di Freezer Kapal Cina, Diduga Tergiur Loker Agen Ilegal di Facebook

Warga Lampung Tewas di Freezer Kapal Cina, Diduga Tergiur Loker Agen Ilegal di Facebook

Regional
Pungutan Masuk Sekolah Negeri hingga Jutaan Rupiah, Wali Murid Berharap Bisa Dicicil

Pungutan Masuk Sekolah Negeri hingga Jutaan Rupiah, Wali Murid Berharap Bisa Dicicil

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X