Mereka yang Tidak Pulang Saat Lebaran: Bu, Aku Kangen sama Ibu

Kompas.com - 23/05/2020, 06:01 WIB
Kontrakan Ratih di Tangerang Haryo Wirawan/BBC News Kontrakan Ratih di Tangerang
Editor Rachmawati

"Setiap tahun para pekerja migran di kota besar ini diberi kesempatan bagi kantor untuk libur, bahkan sering kali difasilitasi ketika Lebaran. Ini waktu yang berkualitas sekali, mereka bisa bertemu keluarga, bisa bersenda gurau, bisa melibatkan emosi, tanpa khawatir terputus-putus, bisa bersenda gurau tidak dibatasi oleh kuota atau listrik, mereka bisa bersentuhan, mencurahkan perasaan."

Baca juga: Travel Gelap Patok Tarif Mudik hingga 4 Kali Lipat, Tiket Jakarta-Brebes dari Rp 150.000 Jadi Rp 500.000

"Ini makna tidak bisa digantikan dengan perjumpaan virtual, itu hanya bisa terjadi setahun sekali, bayangkan," kata Bayu.

Meski demikian, Bayu menambahkan bahwa ia setuju dengan langkah pemerintah dalam melarang mudik untuk menekan penyebaran virus corona ke daerah-daerah.

Berencana potong kambing

Ratih dan keluarga besarnya telah merencanakan berbagai hal untuk merayakan Lebaran, seperti memotong seekor kambing untuk dimakan bersama-sama.

Untuk membeli kambing tersebut, ia telah meminta iuran sebesar Rp 50.000 per orang. Ratih juga telah membeli koper, tikar, kompor gas, dan bantal untuk dibawa ke rumahnya di Lampung.

"Kami mau ketemu keluarga, keponakan dari Jambi pada mau datang ke rumah, mau bikin acara syukuran potong kambing buat makan-makan bersama," kata Ratih.

"Biasanya kalau mau Lebaran seperti ini saya belanja ke Tanah Abang beli keperluan anak saya, (seperti) baju, sepatu, sandal, tapi karena kasus (virus) corona ini saya belum sempat ke mana-mana, kan Tanah Abang juga tutup."

Baca juga: Cerita Warga Nekat Mudik di Tengah Wabah Corona, Pingsan di Toilet hingga Sembunyi di Bagasi Bus

"Menunggu" kuota internet untuk bisa video call

Ketika Ratih pertama kali memberi tahu Fahmi bahwa ia tidak bisa pulang saat Lebaran nanti, Fahmi meminta kepada ibunya untuk tetap pulang.

"Kalau telepon anak saya suka nanya, 'Ibu kapan pulang?' Terus saya bilang, 'Lebaran, tapi Lebaran kali ini enggak bisa pulang karena (virus) corona. Dia bilang, 'Apa sih itu corona, biarin aja, yang penting ibu pulang, masak aku Lebaran enggak ada ibu," ujar perempuan berusia 43 tahun itu.

Ratih adalah orang tua tunggal setelah bercerai dari suaminya pada 2010 lalu. Ia bekerja di Tangerang dan terpaksa meninggalkan Fahmi bersama tantenya di Lampung sejak Fahmi masih berusia 1,5 tahun.

Baca juga: Tak Ada Kendaraan, Perempuan Ini Nekat Mudik Jalan Kaki ke Pati, Pingsan di Toilet Minimarket di Madiun

"Kita berpisah ketika dia masih kecil, awalnya (saya) mau (kerja) di sana, cuma kalau di kampung cari uangnya agak susah, kalau di sini kan saya bisa (kerja) buat keperluan dia, di sini saya karyawan tetap, sayang, cari kerja susah. Jadi ya waktu itu sedih, saya menangis pertama kali (meninggalkan) dia di sana," ujar Ratih.

"Biasanya sih (saya) setahun itu pulang dua kali, saat dia ulang tahun saya kadang pulang, sama Lebaran... begitu saja, terus kalau ada acara keluarga, pernikahan atau apa, baru pulang karena ambil cuti susah."

Meski banyak orang tidak bisa bertemu dengan keluarganya pada Lebaran tahun ini, larangan mudik terasa lebih menyedihkan bagi Ratih yang telah lama tidak bertemu anak satu-satunya.

Baca juga: Nekat Mudik ke Tegal, Pemudik Siap-siap Dikarantina di GOR

"Saya merasa karena saya single (parent), saya merasa kalau tidak ada orang tua, Lebaran itu seperti apa gitu, sedihnya dia, melihat teman-temannya ada orang tuanya, walaupun dia sama kakak saya, tapi kan beda sama saya. Saya orang tua satu-satunya, jauh, dia tidak punya (ayah), perasaan saya sedihlah," ujar Ratih.

Ratih juga tidak bisa melihat anaknya dengan leluasa karena Fahmi tidak memiliki ponsel. Ponsel yang ada di rumah adalah milik saudaranya.

Saat ingin melakukan panggilan video hari itu, Ratih harus menunggu lama sampai saudaranya mengisi kuota internet.

Baca juga: Nekat Mudik, Puluhan Pengendara Dipaksa Putar Balik di Exit Tol Ngawi

Dalam panggilan videonya dengan Ratih, Fahmi mengatakan, ia ingin sekali memeluk ibunya.

"Kalau tahun lalu (Lebaran) kan ada ibu, enak, kalau sekarang misah (karena ibu) dikarantina (karena virus) corona," kata Fahmi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berpacaran dengan Orang yang Sama, 3 Oknum TNI Aniaya Pelajar SMA di Depan Rumah si Gadis

Berpacaran dengan Orang yang Sama, 3 Oknum TNI Aniaya Pelajar SMA di Depan Rumah si Gadis

Regional
519 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh Dalam 5 Hari, Ini Rahasia Risma

519 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh Dalam 5 Hari, Ini Rahasia Risma

Regional
Viral, Nenek 67 Tahun di Minahasa Menolak BLT, Alasannya Bikin Terharu

Viral, Nenek 67 Tahun di Minahasa Menolak BLT, Alasannya Bikin Terharu

Regional
Filosofi dan Janji Ridwan Kamil Soal Pandemi di Balik Sebuah Rompi..

Filosofi dan Janji Ridwan Kamil Soal Pandemi di Balik Sebuah Rompi..

Regional
Dalam Waktu 3 Hari, 2 Jenazah PDP di Makassar Diambil Paksa Keluarga, Ini Fakta Lengkapnya

Dalam Waktu 3 Hari, 2 Jenazah PDP di Makassar Diambil Paksa Keluarga, Ini Fakta Lengkapnya

Regional
[POPULER NUSANTARA] Detik-detik Sofian Dicakar Harimau | 3 Oknum TNI Keroyok Remaja SMA gara-gara Berebut Pacar

[POPULER NUSANTARA] Detik-detik Sofian Dicakar Harimau | 3 Oknum TNI Keroyok Remaja SMA gara-gara Berebut Pacar

Regional
Jalani Rapid Test Massal, 69 Pengunjung dan Pedagang Pasar di Brebes Reaktif

Jalani Rapid Test Massal, 69 Pengunjung dan Pedagang Pasar di Brebes Reaktif

Regional
Organisasi Profesi Nakes Laporkan Akun yang Rendahkan Perjuangan Lawan Corona

Organisasi Profesi Nakes Laporkan Akun yang Rendahkan Perjuangan Lawan Corona

Regional
PSBB Kabupaten Bogor Diperpanjang, 5 Kecamatan Zona Merah

PSBB Kabupaten Bogor Diperpanjang, 5 Kecamatan Zona Merah

Regional
Mulai 8 Juni 2020, Karawang Gelar Tes Swab Massal

Mulai 8 Juni 2020, Karawang Gelar Tes Swab Massal

Regional
Bertambah 71 Pasien Positif, Kasus Corona di Kalsel Capai 1.213

Bertambah 71 Pasien Positif, Kasus Corona di Kalsel Capai 1.213

Regional
Disangka Perampok ATM, Ternyata Polisi Lagi Menghisap Sabu

Disangka Perampok ATM, Ternyata Polisi Lagi Menghisap Sabu

Regional
Update Covid-19 di Sumut, Jumlah Pasien Semakin Bertambah

Update Covid-19 di Sumut, Jumlah Pasien Semakin Bertambah

Regional
Sepuluh Pasien Baru Covid-19 di Sulut, 1 dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Sepuluh Pasien Baru Covid-19 di Sulut, 1 dari Klaster Pasar Pinasungkulan Manado

Regional
Warga Pasuruan Tewas Dilempar Bom Ikan Saat Sedang Tidur

Warga Pasuruan Tewas Dilempar Bom Ikan Saat Sedang Tidur

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X