Kasus Korupsi Lahan Kuburan, Wakil Bupati OKU Dilepaskan dari Tahanan

Kompas.com - 12/05/2020, 22:26 WIB
Wakil Bupati OKU Johan Anwar (tengah) yang menjadi tersangka atas dugaan kasus mark up lahan kuburan akhirnya dikembalikan karena masa penahanananya di Polda Sumsel telah habis, Selasa (12/5/2020). KOMPAS.COM/AJI YK PUTRAWakil Bupati OKU Johan Anwar (tengah) yang menjadi tersangka atas dugaan kasus mark up lahan kuburan akhirnya dikembalikan karena masa penahanananya di Polda Sumsel telah habis, Selasa (12/5/2020).

PALEMBANG, KOMPAS.com - Setelah ditahan selama 120 hari di Rumah Tahanan Polda Sumatera Selatan, Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Johan Anwar akhirnya dilepaskan, Selasa (12/5/2020).

Tersangka dalam kasus dugaan mark up anggaran lahan kuburan itu dibebaskan dari tahanan karena berkas penyidikannya ditolak oleh jaksa, lantaran kurang lengkap.

Sementara, masa tahanan bagi penyidik hanya 120 hari untuk melengkapi berkas tersebut.

Baca juga: Update Corona di Sumsel, 70 Orang Dinyatakan Sembuh

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel akhirnya melepas Johan.

Titis Rachmawati selaku kuasa hukum Johan mengatakan, ia menduga kasus korupsi lahan kuburan yang menjerat Johan bermuatan politis.

Sebab, Johan sebelumnya pernah menang dalam gugatan praperadilan pada 2017 lalu.

Namun, pada 31 Desember 2019, penyidik Polda Sumsel kembali membuka kasus tersebut hingga akhirnya Johan ditetapkan tersangka dan ditahan pada Selasa Januari 2020 lalu.

"Sudah terlihat bukti dari awal muatan politis. Pembuktiannya sangat lemah sekali, sehingga kasus ini terkesan dipaksakan. Dari awal kita sudah menang praperadilan," kata Titis saat menggelar konfrensi pers, Selasa.

Baca juga: Beri Makan Gajah yang Stres, Pria Ini Diangkat dengan Belalai lalu Diinjak

Titis mengatakan, muatan politis yang dimaksud adalah menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada tahun ini, di mana Johan akan maju sebagai calon kepala daerah.

Menurut Titis, Johan akan meminta perlindungan hukum ke Mabes Polri untuk mengantisipasi kliennya tersebut kembali menjadi korban kriminalisasi.

"Kami akan minta perlindungan kasus ini ke Mabes Polri dan Kompolnas. Takutnya nanti akan ada dipaksakan lagi agar berkasnya P21 di Jaksa. Saat ini masa penahanannya sudah habis, Pak Johan dibebaskan," ujar Titis.

Baca juga: Wakil Bupati OKU Ditahan Setelah Diperiksa 12 Jam Terkait Dugaan Mark Up Lahan Kuburan

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumsel Kombes Supriadi membenarkan bahwa Johan telah dilepas karena masa tahanan telah habis.

Meski demikian, Supriadi mengatakan, status Johan saat ini masih sebagai tersangka dari kasus dugaan mark up tersebut.

"Dikeluarkan karena habis masa penahanannya. Sampai saat ini penyidik masih melengkapi berkas sesuai petunjuk jaksa. Tetapi proses penyidikan tetap berjalan dan statusnya tetap tersangka," ujar Supriadi saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fenomena Hujan Es di Bali dan Lombok, Ini Hal Penting yang Perlu Diketahui

Fenomena Hujan Es di Bali dan Lombok, Ini Hal Penting yang Perlu Diketahui

Regional
BMKG Ingatkan Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Kepri

BMKG Ingatkan Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Kepri

Regional
'Jadi yang Menolak Itu Masyarakat Secara Umum Kampung Taliwang, bukan FPI'

"Jadi yang Menolak Itu Masyarakat Secara Umum Kampung Taliwang, bukan FPI"

Regional
Belajar Tatap Muka Dimulai Tahun Depan, Ini Sikap Para Kepala Daerah

Belajar Tatap Muka Dimulai Tahun Depan, Ini Sikap Para Kepala Daerah

Regional
Pemuda di Gunungkidul Buat Miniatur Kapal Pesiar dari Bambu, Harganya hingga Rp 12 Juta

Pemuda di Gunungkidul Buat Miniatur Kapal Pesiar dari Bambu, Harganya hingga Rp 12 Juta

Regional
386 Narapidana di Riau Masih Positif Covid-19, Polisi Beri Bantuan

386 Narapidana di Riau Masih Positif Covid-19, Polisi Beri Bantuan

Regional
Warga Tolak Penertiban Baliho Rizieq Shihab, Satpol PP: Mereka Minta Dipasang Kembali

Warga Tolak Penertiban Baliho Rizieq Shihab, Satpol PP: Mereka Minta Dipasang Kembali

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kisah Bocah Kleptomania yang Bikin Balai Rehabilitasi Menyerah | Pesta Pernikahan Anak Kepala BPBD Dibubarkan Polisi

[POPULER NUSANTARA] Kisah Bocah Kleptomania yang Bikin Balai Rehabilitasi Menyerah | Pesta Pernikahan Anak Kepala BPBD Dibubarkan Polisi

Regional
Fakta Napi Kendalikan Rumah Pabrik Sabu di Lombok Timur

Fakta Napi Kendalikan Rumah Pabrik Sabu di Lombok Timur

Regional
BKSDA Yogyakarta Lepasliarkan 1.000 Ekor Tukik di Pantai Trisik Kulon Progo

BKSDA Yogyakarta Lepasliarkan 1.000 Ekor Tukik di Pantai Trisik Kulon Progo

Regional
Kasus Covid-19 Kota Tegal Capai 1.043, 49 di Antaranya Meninggal Dunia

Kasus Covid-19 Kota Tegal Capai 1.043, 49 di Antaranya Meninggal Dunia

Regional
Unggah Program Salah Satu Paslon di Twitter, KPU Sleman Dilaporkan Bawaslu ke DKPP

Unggah Program Salah Satu Paslon di Twitter, KPU Sleman Dilaporkan Bawaslu ke DKPP

Regional
Debat Pilkada Pandeglang, Thoni Ingin Buka Pendopo untuk Rakyat, Irna Ngantor di Desa

Debat Pilkada Pandeglang, Thoni Ingin Buka Pendopo untuk Rakyat, Irna Ngantor di Desa

Regional
Heboh Video Porno ABG di Medsos, Pelaku Raup Rp 8 Juta Setiap Beraksi

Heboh Video Porno ABG di Medsos, Pelaku Raup Rp 8 Juta Setiap Beraksi

Regional
Bocah SD Hanyut di Sungai Saat Mandi, Jasadnya Ditemukan hingga 4 Kilometer

Bocah SD Hanyut di Sungai Saat Mandi, Jasadnya Ditemukan hingga 4 Kilometer

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X