Obituari Didi Kempot: Tentang Rasa Perih

Kompas.com - 11/05/2020, 06:16 WIB
Penyanyi campursari, Didi Kempot saat cek sound sebelum acara program Rosi di Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (1/8/2019). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPenyanyi campursari, Didi Kempot saat cek sound sebelum acara program Rosi di Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

KEMATIAN seniman pelantun lagu Campursari, Didi Kempot, melaburkan rasa perih personal pun komunal. Almarhum tak hanya milik orang Jawa.

Perasaan sejenis lumrah menyembul saat ini, jika mengingat, Didi Kempot mengungkap soal luka hati berlarat-larat.

Didi Kempot mendekatkan siapa saja, mewariskan kenangan cukup kuat dengan mudah. Sebab, lagu-lagunya punya cita rasa melodius nan mendayu, plus komposisi yang gampang dicerna.

Hampir tiap tema-tema lagunya mengaduk-aduk emosi, membuat “sakit tak terperi yang tak mati-mati’, dan secara sukarela pengagumnya malahan merayakan bepergian ke “kedalaman patah hati”.

Baca juga: Digalang, Petisi Pendirian Patung Didi Kempot di Stasiun Balapan Solo

Konser-konsernya tahun lalu mengguncang jagat media sosial, lalu menjadikannya mega bintang yang menghilangkan sama sekali kendala bahasa (Jawa).

Didi Kempot berulang kali membuat "remuk-hati", usai akhir 90-an tenar denga hits-nya "Stasiun Balapan", sekarang ia ditabalkan sebagai Sang Maharaja Patah Hati.

Maka, para milenial menangis-tertawa berjoget bersamanya. Menciptakan kehebohan di luar panggung dan di dalam panggung studio televisi.

Didi Kempot kemudian berpulang, purna sebagai manusia. Namun ia bisa jadi tak hanya mewariskan syair-syair pedih, tapi soal lain yang mengulik peristiwa-peristiwa komunal seperti kesakitan karena diingkari janji, tuntutan keadilan, atau malahan kesenjangan sosial.

Didi Kepot tampil di acara Kemendikbud yaitu Pekan Kebudayaan Nasional, Oktober 2019. Dok. Dokumentasi PKN 2019, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Didi Kepot tampil di acara Kemendikbud yaitu Pekan Kebudayaan Nasional, Oktober 2019.
Sebuah kondisi kejiwaan yang tak hanya personal, tapi suasana “luka sosial”. Mari kita berhulu pada rasa dulu, yang para fans fanatiknya memanifestasikan kondisi batin yang gundah-gulana itu sebagai ambyar, remuk berkeping-keping.

Baca juga: Monumen Didi Kempot di Stasiun Balapan, Bermula Petisi hingga Wali Kota Surati Menteri..

Coba kita cermati lirik lagu Didi Kempot, utamanya 3 lagu paling fenomenal, beberapa cuplikan syair, yang pertama ini, lagu " Ambyar":

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X