Penolakan Pemakaman Perawat di Semarang Dibawa ke Ranah Hukum, PPNI: Harus Ada Pembelajaran

Kompas.com - 10/04/2020, 14:02 WIB
Ketua DPW PPNI Jateng Edy Wuryanto KOMPAS.com/DIAN ADE PERMANAKetua DPW PPNI Jateng Edy Wuryanto
Editor Setyo Puji

KOMPAS.com - Penolakan warga terhadap pemakaman jenazah seorang perawat RSUP Kariadi di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sewakul, Ungaran Timur, pada Kamis (9/4/2020) menjadi perhatian serius DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia ( PPNI) Jawa Tengah.

Menyikapi kondisi itu, DPW PPNI Jateng akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

Hal itu dilakukan agar ada pembelajaran dan efek jera, agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari.

Pasalnya, ia menganggap penolakan yang dilakukan warga tersebut dianggap ada oknum yang melakukan provokator.

"Harus ada pembelajaran terkait kejadian ini. Kami sudah mengumpulkan ahli-ahli hukum yang tergabung di PPNI untuk memberi masukan dan kajian," kata Ketua DPW PPNI Jateng, Edy Wuryanto, Jumat (10/4/2020).

"Itu nanti mau masuk delik aduan atau gimana, biar ahli hukum yang menentukan. Kami hanya mengumpulkan bukti dan segala yang diperlukan, lalu kami ambil langkah selanjutnya," tambahnya.

Baca juga: Pemkab Semarang Prihatin Adanya Penolakan Pemakaman Perawat yang Positif Corona

Lebih lanjut dikatakan, penolakan yang dilakukan warga terhadap jenazah perawat tersebut sangat disayangkan.

Terlebih, tenaga medis merupakan garda terdepan yang paling rawan terpapar corona atau Covid-19.

Sebab, mereka melakukan kontak langsung terhadap pasien yang bersangkutan.

"Kerawanan paling tinggi itu adalah tenaga kesehatan yang tidak ada di ruang isolasi. Kalau di ruang isolasi, mereka sudah sadar sehingga memakai alat pelindung diri. Kalau di bagian lain, APD-nya hanya secukupnya, jadi rawan terpapar," jelasnya.

Baca juga: Sebut Muslim Menjadi Kafir jika Tak Shalat Jumat, Seorang Khatib Diamankan Polisi

Tidak hanya membawa kasus tersebut ke ranah hukum, pihaknya juga mendesak pemerintah untuk lebih serius memperhatikan keselamatan perawat melalui penyediaan APD yang sesuai standar.

Sebab, tidak semua perawat mengetahui pasien yang ditangani tersebut masuk dalam kategori orang dalam pemantauan (ODP) atau orang dalam pengawasan (PDP).

"Perawat yang meninggal tersebut, bekerja di bagian geriatri. Seharusnya jauh dari pasien ODP atau PDP, tapi ada pasien yang masuk dan tidak jujur sehingga perawat terpapar," tandasnya.

Penulis : Kontributor Ungaran, Dian Ade Permana | Editor : Khairina



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Viral, Video TikTok Goyang Perempuan Berdaster di Tugu Pangkalpinang

Viral, Video TikTok Goyang Perempuan Berdaster di Tugu Pangkalpinang

Regional
Jenazah Rizki dan Rosi Korban Sriwijaya SJ 182 Tiba di Pangkalpinang dan Diterima Gubernur

Jenazah Rizki dan Rosi Korban Sriwijaya SJ 182 Tiba di Pangkalpinang dan Diterima Gubernur

Regional
Derita Kakek Koswara Digugat Rp 3 Miliar oleh Anak Kandung: Dia Pelototi Saya Seperti Bukan Orangtuanya

Derita Kakek Koswara Digugat Rp 3 Miliar oleh Anak Kandung: Dia Pelototi Saya Seperti Bukan Orangtuanya

Regional
Ruang Isolasi di RSUP Kota Madiun Penuh, Sementara Tak Terima Pasien Covid-19, Satu Bangsal Ditutup

Ruang Isolasi di RSUP Kota Madiun Penuh, Sementara Tak Terima Pasien Covid-19, Satu Bangsal Ditutup

Regional
Fakta Baru Kasus Mayor Sugeng yang Dikabarkan Meninggal Usai Divaksin, Pelaku Hoaks Tersebar di Sejumlah Tempat

Fakta Baru Kasus Mayor Sugeng yang Dikabarkan Meninggal Usai Divaksin, Pelaku Hoaks Tersebar di Sejumlah Tempat

Regional
BPBD Gunungkidul Sebut Tak Ada Kerusakan akibat Gempa Magnitudo 5,0

BPBD Gunungkidul Sebut Tak Ada Kerusakan akibat Gempa Magnitudo 5,0

Regional
Awal Januari 2021, Sebanyak 10 TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Awal Januari 2021, Sebanyak 10 TKI Ilegal Asal NTT Meninggal di Malaysia

Regional
Di Balik Pembunuhan Mahasiswa Telkom, Mayat Dibungkus 3 Lapis, Pelaku Sempat Makan Sate dan Merokok

Di Balik Pembunuhan Mahasiswa Telkom, Mayat Dibungkus 3 Lapis, Pelaku Sempat Makan Sate dan Merokok

Regional
Terbawa Arus, Tongkang Batu Bara Terdampar dan Terjang Warung di Pulo Kodok Tegal, Ini Kronologinya

Terbawa Arus, Tongkang Batu Bara Terdampar dan Terjang Warung di Pulo Kodok Tegal, Ini Kronologinya

Regional
Anggota DPR Sumbangkan Gaji dan Tunjangan 2 Bulan untuk Korban Bencana

Anggota DPR Sumbangkan Gaji dan Tunjangan 2 Bulan untuk Korban Bencana

Regional
Soal Garut Peringkat Ketiga Tak Patuhi Jaga Jarak, Angka Kematian Tertinggi di Jabar, Ruang Isolasi Penuh

Soal Garut Peringkat Ketiga Tak Patuhi Jaga Jarak, Angka Kematian Tertinggi di Jabar, Ruang Isolasi Penuh

Regional
Kabupaten Tasikmalaya Paling Tak Patuh Protokol Kesehatan, Satgas: Setiap Hari Operasi Yustisi

Kabupaten Tasikmalaya Paling Tak Patuh Protokol Kesehatan, Satgas: Setiap Hari Operasi Yustisi

Regional
Dalam 6 Jam, Gunung Merapi Keluarkan 3 Kali Awan Panas dan 47 Kali Guguran Lava Pijar

Dalam 6 Jam, Gunung Merapi Keluarkan 3 Kali Awan Panas dan 47 Kali Guguran Lava Pijar

Regional
Update Covid-19 di Riau, Kasus Positif Mencapai 27.592 Orang

Update Covid-19 di Riau, Kasus Positif Mencapai 27.592 Orang

Regional
Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 20 Kilogram Sabu dari Malaysia

Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 20 Kilogram Sabu dari Malaysia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X