Soal Ratusan Siswa SD Panjat Tembok agar Sampai ke Sekolah, Pemilik Lahan: Itu Tak Benar

Kompas.com - 07/03/2020, 19:20 WIB
Murid SD Kristen Petra Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat memanjat tembok setinggi 4 meter, Jumat (6/3/2020) KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BEREMurid SD Kristen Petra Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat memanjat tembok setinggi 4 meter, Jumat (6/3/2020)

KUPANG, KOMPAS.com - Bobby Pitoby, pemilik lahan di Kelurahan Penkase/Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, membantah telah menuntup jalan sehingga murid SD Kristen Petra Alak, yang hendak pergi ke sekolah terpaksa memanjat tembok.

Menurut Bobby, apa yang disampaikan pihak sekolah maupun, murid kepada wartawan adalah tidak benar.

"Tidak ada satu anak sekolah pun yang lompat pagar. Karena jika lompat, maka anak-anak itu pasti masuk ke lokasi lahan milik saya. Karena itu tidak benar anak lompat pagar saat ke sekolah," ujar Bobby kepada sejumlah wartawan di Kupang, Sabtu (7/3/2020) siang.

Baca juga: Setiap Hari Ratusan Murid SD di Kupang Harus Panjat Tembok 4 Meter agar Bisa Sampai ke Sekolah

Bobby menuding, ada pihak tertentu yang mempolitisasi hal itu dengan tujuan ingin merusak nama baiknya.

Bobby menjelaskan, dirinya memang memiliki lahan di wilayah tersebut dan berencana akan membangun gudang.

Karena itu, pada Oktober 2019, dia membangun tembok pembatas di lahan miliknya.

"Memang sebelumnya saat mereka ke sekolah, mereka melewati lahan saya. Tapi kan itu lahan saya sehingga wajar saya bangun gudang di lahan saya," ujarnya.

"Ketika saya hendak membangun, maka saya harus membuat pagar. Apakah itu salah kalau saya buat pagar di lahan saya," sambung Bobby.

Bobby kemudian menunjukkan bukti kepemilikan tanah, berupa sertifikat dan juga sketsa lahan.

Ia mengatakan, tidak ada satupun yang bisa memaksanya membuka jalan tersebut. Apalagi bentuk lahannya ke jalan umum di Jalan Yos Sudarso sudah sempit.

Bobby telah memberikan tanah seluas 4 meter x 120 meter untuk akses jalan bagi masyarat setempat.

"Jadi yang bisa menentukan titik batas adalah BPN. Jika BPN Kota Kupang turun pasti semua mengetahui secara jelas titik batas tanah itu," ujar Bobby.

Sebelumnya diberitakan, ratusan murid SD Kristen Petra Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan ke sekolah karena harus memanjat tembok setinggi empat meter.

Tembok yang menghalangi akses menuju SD Kristen Petra itu dibangun oleh seorang pengusaha sukses di Kota Kupang.

Baca juga: Cerita di Balik Perjuangan Ratusan Murid SD di Kupang Panjat Tembok 4 Meter agar Sampai ke Sekolah

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Amankan 3 Pengibar Bendera RMS di Saparua

Polisi Amankan 3 Pengibar Bendera RMS di Saparua

Regional
Wisatawan Membludak, Pantai Selatan Garut Ditutup, Polisi Lakukan Penyekatan

Wisatawan Membludak, Pantai Selatan Garut Ditutup, Polisi Lakukan Penyekatan

Regional
Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Beberapa Titik di Medan Dilanda Banjir, Bobby Pastikan Warga Terdampak Tak Kekurangan Pangan

Regional
Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Bupati Bener Meriah Alami Pecah Pembuluh Darah, Dibawa ke Medan

Regional
Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X