Pengakuan Bekas Narapidana Teroris, Sempat Kafirkan Orangtua, Ibu Meninggal Jadi Titik Balik Hidupnya

Kompas.com - 23/02/2020, 11:01 WIB
Muslim Indonesia berkumpul memperingati kematian para korban bom teroris di sejumlah gereja di Surabaya 13 Mei 2019 lalu. Getty Images/JUNI KRISWANTOMuslim Indonesia berkumpul memperingati kematian para korban bom teroris di sejumlah gereja di Surabaya 13 Mei 2019 lalu.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Mata Choirul Ihwan alias Agus alias Heru, 40 tahun, merah dan berkaca-kaca saat menceritakan titik balik perjalanan hidupnya.

Wajah mendiang ibunya terbayang-bayang di pelupuk mata bekas narapidana terorisme ini. Selama tiga hari berturut-turut, ibunya hadir dalam mimpinya.

"Esoknya saya telepon rumah. Di ujung telepon suara kakak perempuan menangis dan menyampaikan ibu meninggal beberapa jam yang lalu," kata Choirul saat memberi kesaksian dalam kursus singkat liputan terorisme berperspektif korban di Malang, 4-5 Februari 2020.

Baca juga: Bebas, Napi Teroris di Ngawi Dikawal Saat Pulang Kampung ke NTB

Kematian ibunya menjadi titik balik untuk menjauhi jaringan terorisme di Indonesia.

Ikatan batin antara anak dan ibu nyata, katanya, padahal sebelumnya ia merasa tak mendapat kasih sayang keluarga.

Setelah telepon, ia menangis sejadi-jadinya. Padahal Choirul mengkafirkan kedua orang tua dan keluarganya, dan memilih meninggalkan rumah pada 2009.

Choirul terpapar paham radikalisme sejak 2001 dan bergabung Jamaah Thaliban Melayu 2008. Ia ahli perakit senjata api dan bom, serta merekrut puluhan jamaah baru.

Baca juga: Pengakuan Napi Terorisme Tolak Baiat ISIS di Nusakambangan, Waswas Takut Dibunuh Saat Tidur

Belasan tersangka teroris ditangkap dalam rangkaian Pemilu 2019 lalu (17 Mei 2019). Sebagian ditangkap karena berencana memasang bom dalam aksi unjuk rasa Pemilu. Getty Images/BAY ISMOYO Belasan tersangka teroris ditangkap dalam rangkaian Pemilu 2019 lalu (17 Mei 2019). Sebagian ditangkap karena berencana memasang bom dalam aksi unjuk rasa Pemilu.
Dari tangannya puluhan senjata api diproduksi diberikan kepada para pelaku teror. Pada 2010, kelompoknya bertanggungjawab atas bom di Polres Cirebon.

Sebagian besar anggota memilih bergabung dengan ISIS ke Suriah dan Irak. "Sebagian meninggal di sana," katanya kepada BBC News Indonesia.

Ia ditangkap di Bekasi 2013 dan menjalani hukuman di Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah menjalani hukuman selama empat tahun, ia dibebaskan pada 2017.

Selama menjalani hukuman, Aliansi Indonesia Damai (Aida) berdialog dengan Khoirul. Kini, ia bergabung dengan tim perdamaian Aida.

Sejak dua tahun lalu, ia beberapa kali dipertemukan dengan keluarga korban aksi terorisme.

Baca juga: Mereka Menuduh Kami Lebih Kafir dari Polisi, Kata Adik Trio Bom Bali I Soal Perangnya Melawan Radikalisasi

Dalam forum itu, Choirul meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan jaringannya dan penderitaan yang dialami korban.

"Saya bukan pelaku langsung, tapi saya pernah mendukung aksi pelaku. Di akhirat akan menjadi tanggungan saya kalau tak mendapat maaf," katanya.

Aida melakukan pendekatan cukup lama sekitar setahun. Keduanya tidak langsung dipertemukan untuk menghindari gesekan.

Alhamdullah, ujar Khoirul, saat dipertemukan kedua belah pihak saling memaafkan.

Baca juga: Khilaf dan Maaf di Balik Jeruji Pelaku Bom Kedutaan Australia di Nusakambangan

Aksi doa bersama memperingati korban serangan Bom Bali II (3 Oktober 2005). Serangan bom ini menewaskan 26 orang. Getty Images/Dimas Ardian Aksi doa bersama memperingati korban serangan Bom Bali II (3 Oktober 2005). Serangan bom ini menewaskan 26 orang.
"Alhamdulillah, responsnya sangat baik. Mereka baik, dekat dan kekeluargaan. Kini seperti keluarga, saling tanya kabar keluarga," ujarnya.

Choirul memberikan kesaksian bersama Christian Salomo korban bom Kedutaan Besar Australia 9 September 2004.

Christian mengaku awalnya sulit memaafkan pelaku lantaran menyebabkan penderitaan berkepanjangan. Bahkan ada serpiham logam yang tertanam di dalam tubuhnya.

"Saya harus menjalani operasi berulang kali," kata Christian.

Bahkan, kejadian itu menimbulkan trauma berkepanjangan. Hingga kini, ia mengaku ketakutan saat berdekatan dengan mobil boks.

Trauma atas kejadian 16 tahun itu belum hilang dari memorinya.

Baca juga: 36 Napi Terorisme dari Cipinang dan Gunung Sindur Dipindahkan ke Nusakambangan

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Rohani Ketika Suaminya Disebut Mirip Jokowi dan Viral

Cerita Rohani Ketika Suaminya Disebut Mirip Jokowi dan Viral

Regional
Sepatu dan Helm Klub Moge Jadi Barang Bukti Pengeroyokan 2 Anggota TNI di Bukittinggi

Sepatu dan Helm Klub Moge Jadi Barang Bukti Pengeroyokan 2 Anggota TNI di Bukittinggi

Regional
Diduga Sedang Tertidur Pulas, Satu Keluarga Tewas Terbakar

Diduga Sedang Tertidur Pulas, Satu Keluarga Tewas Terbakar

Regional
Terungkap Penyebab Kematian Karyawati SPBU di Kupang, Bukan Kecelakaan

Terungkap Penyebab Kematian Karyawati SPBU di Kupang, Bukan Kecelakaan

Regional
Disebut Covid-19 Usai 'Rapid Test', Pasien Melahirkan Merasa Dipingpong Rumah Sakit

Disebut Covid-19 Usai "Rapid Test", Pasien Melahirkan Merasa Dipingpong Rumah Sakit

Regional
Kasus Pengeroyokan Anggota TNI di Bukittinggi, 14 Motor Gede Diamankan Polisi

Kasus Pengeroyokan Anggota TNI di Bukittinggi, 14 Motor Gede Diamankan Polisi

Regional
Anggota Klub Moge Diduga Menganiaya dan Mengancam 2 Prajurit TNI

Anggota Klub Moge Diduga Menganiaya dan Mengancam 2 Prajurit TNI

Regional
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan Berencana

Cemburu Buta Berujung Pembunuhan Berencana

Regional
Buruh di DIY Kecewa walaupun UMP Ditetapkan Naik, Apa Sebabnya?

Buruh di DIY Kecewa walaupun UMP Ditetapkan Naik, Apa Sebabnya?

Regional
Pemprov Jabar Tetapkan UMP 2021, Berapa Besarnya?

Pemprov Jabar Tetapkan UMP 2021, Berapa Besarnya?

Regional
Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Bawa Kabur Biaya Pernikahan Rp 10 Juta, Makcomblang di Lampung Ditangkap Polisi

Regional
Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Mendapat Berkah dari Hidroponik Barokah

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 31 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 31 Oktober 2020

Regional
Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X