Gara-gara Belum Cukur Rambut, Siswa MTs di Ciamis Ditampar dan Dipukul Guru Olahraga

Kompas.com - 19/02/2020, 17:33 WIB
Ilustrasi kekerasan pada anak shutterstockIlustrasi kekerasan pada anak

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya menerima laporan A, seorang siswa kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Ciamis, Jawa Barat, menjadi korban penamparan dan pemukulan guru olahraganya sendiri.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan, kekerasan tersebut dipicu gara-gara korban belum mencukur rambut.

"Guru olahraganya menampar dan memukul dua kali sampai mencekik. Korban mengalami trauma, luka lebam di pelipis kedua matanya. Karena di Ciamis tak ada KPAID, jadi korban bersama ayahnya dan kepala dusunnya melapor ke sini," ujar Ato  kepada wartawan di kantornya, Rabu (19/2/2020).

Baca juga: Polisi Siap Tindaklanjuti Guru Pukul Murid di SMAN 12 jika...

Sesuai pengakuan korban, kata Ato, kejadian bermula saat korban berada di kantin sekolahnya, Senin (17/2/2020).

Korban ditanyakan oleh guru olahraganya belum mencukur rambut dengan kata-kata kasar sambil menampar pipinya.

A sempat menanyakan alasan ke sang guru tersebut menamparnya hanya gara-gara belum cukur rambut.

Baca juga: Nasib Guru Pukul Murid di SMAN 12 Bekasi, Dibela Anak Didik tapi Berujung Dimutasi

Usai menanyakan hal itu, dirinya kembali dipukul dua kali di bagian wajah secara brutal.

"Korban mengalami luka lebam di dua pelipis matanya sampai menutupi penglihatannya. Saat dipukul oleh guru olahraganya, guru lainnya bersama teman-teman korban berupaya melerai sampai akhirnya guru itu berhenti memukuli korban," ujar Ato.

Selanjutnya, kata Ato, pihaknya langsung mendampingi korban untuk melapor secara resmi ke Polres Ciamis.

Sebab, kejadian terjadi di lingkungan sekolah yang masuk wilayah Kabupaten Ciamis.

"Kalau untuk data lengkapnya nama sekolah, besok (Kamis) kita akan buka saat melaporkan ke Polres Ciamis. Kita pun akan mendampingi korban saat melaporkan kejadian itu," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat di lingkungan korban Emuh Sutarjo nengatakan, selama kejadian penamparan dan pemukulan itu belum ada itikad baik pihak sekolah yang datang ke rumah korban.

"Sekarang anaknya trauma berat dan takut untuk masuk sekolah. Sejak kejadian Senin kemarin, anak ini tidak masuk sekolah karena ketakutan oleh guru olahraganya," pungkasnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X