Pelarian Dorfin Felix, Gembong Narkoba asal Perancis yang Berakhir di Nusa Kambangan...

Kompas.com - 10/02/2020, 10:11 WIB
Dorfin Felix (43), WNA Francis yang merupakan terpidana mati, masih ditahan di Lapas Mataram. Dorfin dilaporkan  sempat kabur dari Rutan Polda NTB, Januari 2019 silam, hingga kasus Suap Kompol Tuti terungkap. KOMPAS.com/FITRI RDorfin Felix (43), WNA Francis yang merupakan terpidana mati, masih ditahan di Lapas Mataram. Dorfin dilaporkan sempat kabur dari Rutan Polda NTB, Januari 2019 silam, hingga kasus Suap Kompol Tuti terungkap.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Dofrin Felix (35) ditangkap aparat Polda NTB pada 21 September 2018 karena membawa 2,4 kilogram narkotika jenis sabu dan ekstasi senilai Rp 3 miliar.

Ia pun dijebloskan ke penjara yang ada di Mapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menjalani pemeriksaan.

Setelah empat bulan di tahanan, Minggu (20/1/2019) malam, Dofrin kabur melewati jendela berjeruji ukuran 70 x 70 sentimeter di bagian belakang ruang tahanan Dit Tahti Polda NTB yang berada di lantai dua.

Namun, berdasarkan pantauan Kompas.com pada Senin (21/1/2019) pagi, tidak ada satu pun jeruji jendela di bagian belakang maupun depan Rumah Tahanan Polda NTB yang rusak.

Baca juga: Polwan Pembawa Kabur Tersangka Narkoba Dorfin Felix Segera Diadili

Dari pengakuan sejumlah buruh tukang di Polda NTB, tidak ada proses perbaikan apa pun di rumah tahanan.

Dofrin sempat diduga melarikan diri dibantu oleh Kompol Tuti Maryati, seorang anggota Polda NTB yang menjabat sebagai Kasubdit Pamtah (Pengamanan Tahanan).

Kaburnya Dofrin membuat sejumlah informasi bermunculan. Salah satunya aliran dana Rp 10 miliar yang mengalir ke Polda NTB.

Namun, hal tersebut segera dibantah oleh Kabid Humas Pokda NTB Kombes I Komang Suartana.

Baca juga: Tak Ditahan, Polwan yang Diduga Bantu Gembong Narkoba Dorfin Felix Kabur Tunggu Sidang

Pada Kamis (31/1/2019), Suartana mengatakan, pihaknya telah mengklarifikasi isu tentang aliran dana Rp 10 miliar dari tersangka Dorfin Felix kepada Kompol Tuti Maryati.

"Dari hasil penelusuran aliran tersebut, setelah Polda NTB berkoordinasi dengan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), tidak ditemukan aliran dana dengan jumlah tersebut, tidak ada dana Rp 10 miliar tersebut," katanya.

Namun, polisi melacak adanya aliran dana sebesar Rp 14,5 juta kepada Kompol Tuti Maryati dengan dua tahap pengiriman. Pertama sebesar Rp 7 juta, dan kedua sebanyak Rp 7,5 juta.

"Baru dua kali TM menerima dana dari keluarga Dorfin," katanya.

Baca juga: Penyidik Polda NTB Sebut Dorfin Kabur Tanpa Bantuan Kompol Tuti

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Beredar Prediksi Gempa Lebih Besar dan Warga Harus Tinggalkan Mamuju, BMKG: Hoaks

Beredar Prediksi Gempa Lebih Besar dan Warga Harus Tinggalkan Mamuju, BMKG: Hoaks

Regional
Pemuda Ini Bunuh Pamannya Gegara Harta Warisan, Ditembak Polisi Saat Hendak Kabur dan Terancam Hukuman Mati

Pemuda Ini Bunuh Pamannya Gegara Harta Warisan, Ditembak Polisi Saat Hendak Kabur dan Terancam Hukuman Mati

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 17 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 17 Januari 2021

Regional
Melanggar PTKM, Satgas Covid-19 Gunungkidul Bubarkan Acara Hajatan

Melanggar PTKM, Satgas Covid-19 Gunungkidul Bubarkan Acara Hajatan

Regional
Banjir dan Longsor Manado, 6 Orang Tewas, Salah Satunya Polisi Berpangkat Aiptu

Banjir dan Longsor Manado, 6 Orang Tewas, Salah Satunya Polisi Berpangkat Aiptu

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 17 Januari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 17 Januari 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 17 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 17 Januari 2021

Regional
Pengakuan Warga Probolinggo yang Terdampak Hujan Abu Semeru: Perih di Mata

Pengakuan Warga Probolinggo yang Terdampak Hujan Abu Semeru: Perih di Mata

Regional
Peluk Anak Istri Saat Atap Runtuh karena Gempa, Sertu Palemba Korbankan Punggungnya

Peluk Anak Istri Saat Atap Runtuh karena Gempa, Sertu Palemba Korbankan Punggungnya

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 17 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 17 Januari 2021

Regional
BPBD DIY Tak Mau Terburu-buru Pulangkan Pengungsi Gunung Merapi

BPBD DIY Tak Mau Terburu-buru Pulangkan Pengungsi Gunung Merapi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 17 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 17 Januari 2021

Regional
Maling Bobol Rumah Satu Keluarga Korban Sriwijaya Air, Warga: Tega, Biadab, Padahal Lagi Berduka

Maling Bobol Rumah Satu Keluarga Korban Sriwijaya Air, Warga: Tega, Biadab, Padahal Lagi Berduka

Regional
Banjir di Halmahera Utara, Ribuan Warga Bertahan di Sejumlah Titik Pengungsian

Banjir di Halmahera Utara, Ribuan Warga Bertahan di Sejumlah Titik Pengungsian

Regional
Ketua DPRD Kabupaten Semarang Nilai PPKM Tebang Pilih dan Kurang Tegas

Ketua DPRD Kabupaten Semarang Nilai PPKM Tebang Pilih dan Kurang Tegas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X