Petinggi King of The King Kaltim Baru Sadar Tertipu Setelah 2 Teman Tersangka

Kompas.com - 30/01/2020, 22:02 WIB
Foto Abdullah (kemeja kotak) tertera di Baliho King of The King yang tersebar lima titik di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (29/1/2020). IstimewaFoto Abdullah (kemeja kotak) tertera di Baliho King of The King yang tersebar lima titik di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (29/1/2020).

SAMARINDA, KOMPAS.com - Abdullah (65), warga Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur ditunjuk jadi Koordinator Indonesia Mercusuar Dunia (IMD) King of The King di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Dia baru sadar tertipu setelah dua temannya ditetapkan sebagai tersangka, Kamis (30/1/2020).

Keduanya, Buntoha (45) sebagai Ketua IMD Kaltim dan Zakaria (54) sebagai Koordinator Kaltim.

Abdullah mengatakan, ia tergiur karena termakan janji bayar utangnya dan utang negara.

Baca juga: King of the King Masuk Kalimantan Timur, Polisi Periksa 2 Petinggi

Selain bayar utang, dia juga dijanjikan kesejahteraan, bangun rumah orang miskin, pesantren, masjid, pertanian, dan diberi uang miliaran rupiah.

"Ternyata semua itu tipu setelah dibongkar polisi," ungkap dia saat dihubungi Kompas.com, Kamis (30/1/2020).

Abdullah menuturkan, selama ini, dua pimpinannya yang kini jadi tersangka, menarik biaya pendaftaran dari anggota. Jika ada anggota yang tak mampu bayar Rp 1,7 juta, bisa mencicil.

Tapi, dirinya tak pernah menikmati uang itu. Dia sudah diperiksa polisi tapi tak terbukti menikmati pungutan liar itu.

"Saya enggak tahu-tahu apa-apa. Saya hanya ditunjuk jadi koordinator. Saya tertarik karena program (janji) itu," tutur dia.

Abdullah mengaku tak paham dengan istilah King of The King. Begitu juga dengan Indonesia Mercusuar Dunia meski dirinya jadi koordinator wilayah Kutai Timur.

"Saya enggak tahu. Hanya tahu kepanjangannya IMD (Indonesia Mercusuar Dunia)," kata Abdullah.

Baca juga: Dua Petinggi King of The King di Kaltim Ditetapkan Sebagai Tersangka

Awal jadi anggota, dirinya pernah komunikasi dengan Mr Donny Pedro yang disebut-sebut sebagai Presiden King of The King melalui sambungan telepon.

Mr Pedro menetap di Bandung, Jawa Barat.

Dalam pembicaraan itu, menurut Abdullah, Mr Pedro meyakinkan dirinya tentang harta kekayaan triliunan rupiah tersimpan di Bank Swiss.

"Saya enggak tahu apa, saya percaya saja," tuturnya tertawa.

Setelah jadi koordinator, tak ada kegiatan apapun yang dibuat Abdullah. Bahkan, fotonya tersebar di baliho King of The King pun tanpa sepengetahuan dirinya.

"Semua itu Buntoha yang cetak Baliho. Saya tidak tahu," kata Abdullah.

Abdullah mengaku ikut jaringan ini hanya mengisi waktu luangnya setelah pensiun sebagai karyawan swasta.

Selama terlibat, ada 40 anggota King of The King tersebar di Sangatta, Samarinda dan Berau.

"Saya mengajak orang juga tidak pernah. Apalagi ambil uang orang. Saya bahkan tidak tahu berapa uang yang ditarik, saya tidak mau begitu," kata dia.

Setelah dua temannya ditetapkan tersangka, Abdullah baru mengetahui jika organisasi yang ia jalani selama ini adalah tipuan. Dirinya berjanji tak akan mengikuti lagi jaringan ini.

"Saya kira program itu benar. Padahal tipu muslihat. Sumpah, saya tidak mau ikut lagi," tutup Abdullah.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X