PVMBG: Penyebab Bencana di Bogor Akibat Curah Hujan Tinggi

Kompas.com - 16/01/2020, 22:08 WIB
Foto udara anggota tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tanah longsor dan banjir bandang yang masih belum ditemukan di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/1/2020). Basarnas memperpanjang masa pencarian selama tiga hari atau hingga 14 Januari untuk melakukan pencarian tiga korban yang masih belum ditemukan dikawasan tersebut. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAFoto udara anggota tim SAR gabungan melakukan pencarian korban tanah longsor dan banjir bandang yang masih belum ditemukan di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (11/1/2020). Basarnas memperpanjang masa pencarian selama tiga hari atau hingga 14 Januari untuk melakukan pencarian tiga korban yang masih belum ditemukan dikawasan tersebut.

KABUPATEN BOGOR, KOMPAS.com - Secara umum bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Bogor, terjadi karena interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani. 

"Curah hujan 301.6 mm dalam satu hari juga sebagai pemicu," kata Kasbani dari keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (16/1/2020).

Selain itu, lanjut Kasbani, faktor penyebabnya karena tanah pelapukan yang bersifat sarang yang mudah meloloskan air, sehingga longsoran terjadi pada batuan gunung api Endut (Qpv), tuf dan breksi terdiri dari tuf batu apung, breksi tufan, batu pasir tuf, lempung tufan dan batu pasir berlapis silang (Tmtb).

Baca juga: Hilang 13 Hari, Korban Banjir Bandang dan Longsor di Jasinga Bogor Ditemukan

"Batuan gunung api yang tak terpisahkan terdiri dari breksi dan aliran lava (Qvu), Tuf batu apung pasiran (Qvst) kemudian bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan batuan yang lebih segar sebagai bidang gelincir dan kelerengan yang curam bahkan beberapa tempat hampir tegak," paparnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, beberapa tempat juga terlihat kontak endapan gunung api dengan batu lempung (formasi Bojongmanik) dengan bidang perlapisan yang searah dengan kemiringan ke arah sungai.

Seperti terlihat di longsor di Harkat Jaya, Sipayung, Jayaraharja, Sukamulih, Pasir Madang masuk ke dalam DAS Sungai Cidurian sehingga dampaknya banjir membawa material longsor dan batu di sepanjang Sungai Cidurian dan melanda pemukiman di kanan-kiri sungai tersebut.

"Aliran bahan rombakan ini merusak rumah dan bangunan lainnya di sepanjang aliran sungai," ujar dia.

Baca juga: ACT Berencana Bangun ICS untuk Korban Banjir Bandang dan Longsor Lebak

Ada potensi longsor susulan

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih terdapatnya potensi longsoran susulan akibat pergerakan tanah itu.

Pihaknya pun merekomendasikan secara teknis kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan camat setempat untuk mengantisipasinya agar penduduk yang bermukim di bawah longsoran, sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman dari ancaman longsor.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fakta Mayat Luka Tembak di Purwakarta, Ada Pelat Mobil Ganda, Diduga Kelompok Pembobol Rumah

Fakta Mayat Luka Tembak di Purwakarta, Ada Pelat Mobil Ganda, Diduga Kelompok Pembobol Rumah

Regional
Gara-gara Terjangkit Corona, 3 Calon Siswa Tamtama Kubur Impiannya Jadi Polisi Tahun Ini

Gara-gara Terjangkit Corona, 3 Calon Siswa Tamtama Kubur Impiannya Jadi Polisi Tahun Ini

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 6 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 6 Agustus 2020

Regional
'Kacung WHO' dan 'Tua Bego', Dua Unggahan Jerinx yang Berujung Laporan Polisi

"Kacung WHO" dan "Tua Bego", Dua Unggahan Jerinx yang Berujung Laporan Polisi

Regional
BNPB Beri Bantuan 2 Juta Masker untuk Jawa Barat

BNPB Beri Bantuan 2 Juta Masker untuk Jawa Barat

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 6 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 6 Agustus 2020

Regional
Orangtua Siswa Positif Corona, SMP di Kota Tegal Hentikan Belajar Tatap Muka

Orangtua Siswa Positif Corona, SMP di Kota Tegal Hentikan Belajar Tatap Muka

Regional
Plt Wali Kota Medan Positif Covid-19, Ini Kata Gubernur Edy Rahmayadi

Plt Wali Kota Medan Positif Covid-19, Ini Kata Gubernur Edy Rahmayadi

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 6 Agustus 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 6 Agustus 2020

Regional
Hutan Baluran Situbondo yang Terbakar Meluas Capai 15 Hektar

Hutan Baluran Situbondo yang Terbakar Meluas Capai 15 Hektar

Regional
Identitas Jenazah Bocah Bercelana SD di Tasikmalaya Belum Diketahui

Identitas Jenazah Bocah Bercelana SD di Tasikmalaya Belum Diketahui

Regional
Kebakaran di Kawasan Padat Penduduk Samarinda, 40 Rumah Habis Terbakar

Kebakaran di Kawasan Padat Penduduk Samarinda, 40 Rumah Habis Terbakar

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 6 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 6 Agustus 2020

Regional
Pengakuan Sukartayasa Nikahi 2 Pacarnya Sekaligus: Mungkin Mereka Merasa Nyaman

Pengakuan Sukartayasa Nikahi 2 Pacarnya Sekaligus: Mungkin Mereka Merasa Nyaman

Regional
Guru TK Wanita Pacaran dan Mesum Bersama Pria Beristri di Taman

Guru TK Wanita Pacaran dan Mesum Bersama Pria Beristri di Taman

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X