Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 15/01/2020, 19:01 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com - Kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo menggegerkan warga. Bahkan bangunan yang disebut istana tersebut sempat menjadi tempat wisata dadakan.

Bangunan di Desa Pogung Jurutengah, Bayang Purworejo didirikan di bangunan rumah yang sudah disulap layaknya keraton.

Dari beberapa unggahan gambar dan video yang tersebar di media sosial istana tersebut dilengkapi sepasang singgasana yang didominasi warna hitam, merah, dan kuning.

Singgasana yang berada di tengah ruangan digunakan untuk pertemuan raja dan ratu.

Baca juga: Pengikut Keraton Agung Sejagat Diiming-imingi Jabatan dengan Gaji Dollar

Tak hanya itu, di dalam ruangan terdapat beberapa lambang nazi berwarna emas yang dipajang

Walaupun bagian dalam istana tampak singgasana mewah, namun bagian luar bangunan rumah terlihat biasa saja.

Tidak ada lambang khusus di luar bangunan yang menunjukkan adanya  kerajaan di tempat tersebut.

Baca juga: Raja Keraton Agung Sejagat Buka Angkringan di Kontrakan Sejak 2018

Didirikan di tanah milik 'adipati'

Batu prasasti di Kerajaan Keraton Agung Sejagat (KAS) atau Kerajaan Agung Sejagat Purworejo, Senin (13/1/2020).TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati Batu prasasti di Kerajaan Keraton Agung Sejagat (KAS) atau Kerajaan Agung Sejagat Purworejo, Senin (13/1/2020).
Istana Keraton Agung Sejagat didirikan di rumah dan lahan Cikmawan (53) warga asli RT 3 RW 1 Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan.

Cikmawan adalah Adipati Djajadiningrat dan bagian dari punggawa keraton dan juga koordinator ndalem Keraton Agung Sejagat.

Dilansir dari Tribunnews.com, di halaman istana terdapat bangunan kerangka mirip tiang dari kayu yang berdiri kokoh.

Baca juga: Pengukuhan Raja Keraton Agung Sejagat Dilakukan di Dieng Saat Musim Embun Es

Masyarakat sekitar menyebut bangunan tersebut bakal untuk pendopo.

Tidak jauh terdapat sebuah kolam yang memiliki sumber air yang tidak terlalu jernih.

Di sudut lain, terlihat sebuah batu besar yang diletakkan di pendopo kecil sehingga tidak terkena hujan dan panas secara langsung. Di batu tersebut ada ada ukiran huruf Jawa yang artinya Bumi Mataram Keraton Agung Sejagat.

Baca juga: Cerita Tetangga Kontrakan Raja Keraton Agung Sejagat: Selalu Dijaga Orang Berseragam

Prasasti tersebut dibuat oleh Wijoyo Guni sekitar tiga bulan yang lalu. Selama 2 minggu, Wijoyo mengukir cakra, trisula, macan, serta gambar telapak kaki dan beberapa simbol siang malam.

Di bagian bawah batu terdapat ukiran baruna naga

Saat pertama kali di bawa ke rumah Cikmawan, batu yang disebut Prasasti 1 Bumi Mataram itu dibungkus kain putih.

SUMBER: Tribun-video.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Fakta dan Kronologi Bentrokan Warga 2 Desa di Lombok Tengah, 1 Orang Tewas

Regional
Komunikasi Politik 'Anti-Mainstream' Komeng yang Uhuyy!

Komunikasi Politik "Anti-Mainstream" Komeng yang Uhuyy!

Regional
Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Membedah Strategi Komunikasi Multimodal ala Komeng

Regional
Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Kisah Ibu dan Bayinya Terjebak Banjir Bandang Berjam-jam di Demak

Regional
Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Warga Kendal Tewas Tertimbun Longsor Saat di Kamar Mandi, Keluarga Sempat Teriaki Korban

Regional
Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Balikpapan Catat 317 Kasus HIV Sepanjang 2023

Regional
Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Kasus Kematian akibat DBD di Balikpapan Turun, Vaksinasi Tembus 60 Persen

Regional
Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Puan: Seperti Bung Karno, PDI-P Selalu Berjuang Sejahterakan Wong Cilik

Regional
Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Setelah 25 Tahun Konflik Maluku

Regional
BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

BMKG: Sumber Gempa Sumedang Belum Teridentifikasi, Warga di Lereng Bukit Diimbau Waspada Longsor

Regional
Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Gempa Sumedang, 53 Rumah Rusak dan 3 Korban Luka Ringan

Regional
Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di 'Night Market Ngarsopuro'

Malam Tahun Baru 2024, Jokowi Jajan Telur Gulung di "Night Market Ngarsopuro"

Regional
Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Sekolah di Malaysia, Pelajar di Perbatasan Indonesia Berangkat Sebelum Matahari Terbit Tiap Hari

Regional
Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di 'Rumah' yang Sama...

Kisah Pengojek Indonesia dan Malaysia di Tapal Batas, Berbagi Rezeki di "Rumah" yang Sama...

Regional
Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Menara Pengintai Khas Dayak Bidayuh Jadi Daya Tarik PLBN Jagoi Babang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com