Macan Tutul Mati di Pati Diduga karena Cuaca Ekstrem

Kompas.com - 14/01/2020, 19:57 WIB
Seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) ditemukan mati di kawasan hutan Pegunungan Muria wilayah Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (12/1/2020). Dokumen BKSDA JatengSeekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) ditemukan mati di kawasan hutan Pegunungan Muria wilayah Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (12/1/2020).

PATI, KOMPAS.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng bekerja sama dengan Semarang Zoo masih berupaya mengidentifikasi penyebab kematian seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang ditemukan di kawasan hutan Pegunungan Muria wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah. 

Sebelumnya, bangkai macan tutul jantan berusia 1,5 tahun tersebut telah dikuburkan oleh warga hingga akhirnya dievakuasi dan dibawa oleh tim BKSDA Jateng untuk diperiksa lebih lanjut.

Kepala BKSDA Jateng Darmanto, mengatakan, macan tutul yang ditemukan dengan kondisi anus berdarah itu bukanlah korban perburuan.  

Baca juga: Macan Tutul Ditemukan Mati Dekat Kandang Sapi di Pati

BKSDA Jateng pun menggandeng dokter hewan, Hendrik dari Semarang Zoodalam proses "nekropsi" untuk mengetahui penyebab kematian macan tutul.

Dari hasil pemeriksaan dengan fasilitas sinar X Ray di klinik hewan, tidak ditemukan adanya proyektil, benda asing maupun luka baru di fisik macan tutul dan struktur tulang macan tutul juga tak mengalami perubahan.

Langkah selanjutnya, kata dia, akan dilakukan uji laboratorium lambung dan usus di Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya.

"Jadi bukan korban perburuan. Tidak ditemukan luka-luka yang mengarah ke situ. Untuk selanjutnya akan dilakukan uji lab lambung dan usus di Universitas Airlangga. Di sana ada alatnya," kata Darmanto saat dihubungi Kompas.com melalui ponsel, Selasa (14/1/2020).

Dijelaskannya, dari hasil analisa awal oleh tim medis Semarang Zoo, macan tutul tersebut diduga mati akibat faktor cuaca ekstrem yang kian memperburuk kondisi kesehatan atau kekebalan tubuh macan tutul.

Di sisi lain, sambung dia, asupan makanan yang disantap macan tutul hingga dibiarkan berhari-hari tersebut terkontaminasi bakteri akibat hujan.

"Kondisi cuaca yang ekstrem memengarungi kesehatan macan tutul tersebut. Terlebih lagi, macan tutul makan tidak langsung habis. Bangkai makanannya dibiarkan berhari-hari hingga terkontaminasi bakteri karena cuaca ekstrem. Itu dugaan awalnya karena sakit," ujarnya.

Baca juga: 13 Macan Tutul Terekam Kamera Trap di Gunung Muria, Ada Betina dan 2 Anaknya

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Jam Mengapung di Lautan Pakai Jeriken, 2 ABK Diselamatkan Tim SAR, Ini Ceritanya

15 Jam Mengapung di Lautan Pakai Jeriken, 2 ABK Diselamatkan Tim SAR, Ini Ceritanya

Regional
Pemuda di Yogyakarta Sulap Saluran Irigasi Jadi Tempat Budi Daya Ikan

Pemuda di Yogyakarta Sulap Saluran Irigasi Jadi Tempat Budi Daya Ikan

Regional
Kisah Perawat Terpapar Covid-19, Isolasi 4 Bulan dan Fitnes Saat Bosan, Sembuh Setelah 11 Kali Test Swab

Kisah Perawat Terpapar Covid-19, Isolasi 4 Bulan dan Fitnes Saat Bosan, Sembuh Setelah 11 Kali Test Swab

Regional
Ayah Cabuli Anak Tiri, Diduga Paksa Korban Menikah Tutupi Aib dan Ancam Ceraikan Istri

Ayah Cabuli Anak Tiri, Diduga Paksa Korban Menikah Tutupi Aib dan Ancam Ceraikan Istri

Regional
Cerita MTs Lubuk Kilangan, Sekolah Gratis yang Luluskan 100 Persen Siswa di SMA Negeri

Cerita MTs Lubuk Kilangan, Sekolah Gratis yang Luluskan 100 Persen Siswa di SMA Negeri

Regional
Puluhan Pengungsi Rohingya Dipindahkan ke BLK Lhokseumawe

Puluhan Pengungsi Rohingya Dipindahkan ke BLK Lhokseumawe

Regional
Fakta 37 Pasangan ABG Terjaring Razia di Hotel, Berawal dari Laporan Masyarakat, Diduga Hendak Pesta Seks

Fakta 37 Pasangan ABG Terjaring Razia di Hotel, Berawal dari Laporan Masyarakat, Diduga Hendak Pesta Seks

Regional
Jenazah Positif Corona Dimakamkan Tanpa Protokol Covid-19, 209 Orang Tes Swab Massal

Jenazah Positif Corona Dimakamkan Tanpa Protokol Covid-19, 209 Orang Tes Swab Massal

Regional
Terombang-ambing 15 Jam, 2 ABK KM Ismail Jaya Ditemukan Selamat

Terombang-ambing 15 Jam, 2 ABK KM Ismail Jaya Ditemukan Selamat

Regional
Cabuli Anak Tiri Selama 2 Tahun, Ayah di Pinrang Nikahkan Korban dengan Penyandang Disabilitas, Ini Motifnya

Cabuli Anak Tiri Selama 2 Tahun, Ayah di Pinrang Nikahkan Korban dengan Penyandang Disabilitas, Ini Motifnya

Regional
Terbawa Arus Sungai Usai Mendaki Gunung Tambusisi, Anggota Mapala Untad Meninggal

Terbawa Arus Sungai Usai Mendaki Gunung Tambusisi, Anggota Mapala Untad Meninggal

Regional
Gadis di Bawah Umur Dicabuli Ayah Tiri 2 Tahun, Lalu Dinikahkan, Diduga untuk Tutupi Aib

Gadis di Bawah Umur Dicabuli Ayah Tiri 2 Tahun, Lalu Dinikahkan, Diduga untuk Tutupi Aib

Regional
Pelaku Pembunuhan Perempuan Muda di Palembang Sempat Cabuli Mayat Korban

Pelaku Pembunuhan Perempuan Muda di Palembang Sempat Cabuli Mayat Korban

Regional
Dinilai Rugikan Pemprov Babel, Erzaldi Rosman Minta UU Minerba Dikaji Lagi

Dinilai Rugikan Pemprov Babel, Erzaldi Rosman Minta UU Minerba Dikaji Lagi

Regional
Kisah Dr Andani, Pahlawan Sumbar Melawan Covid-19: Jihad Melawan Wabah, Swab dan Tracing Cepat Jadi Kuncinya (2)

Kisah Dr Andani, Pahlawan Sumbar Melawan Covid-19: Jihad Melawan Wabah, Swab dan Tracing Cepat Jadi Kuncinya (2)

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X