Kisah Relawan Jalan Kaki Dua Jam Tembus Lumpur Kirim Bantuan untuk Korban Bencana di Lebak

Kompas.com - 14/01/2020, 16:06 WIB
Seorang pria menggendong istrinya yang sedang sakit di tengah kondisi bencana di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. AFP/Getty ImagesSeorang pria menggendong istrinya yang sedang sakit di tengah kondisi bencana di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Dua minggu setelah banjir dan longsor melanda Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, akses jalan ke daerah bencana itu masih sulit ditembus sehingga menyulitkan penyaluran bantuan bagi para korban.

Para relawan mengisahkan mereka harus melakukan perjalanan dua tahap untuk menjangkau warga yang terisolir akibat banjir dan longsor kampung Cigobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Tahap pertama dengan menggunakan helikoper pemerintah, dan selanjutnya dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar dua jam ke kampung yang dituju.

Baca juga: ACT Berencana Bangun ICS untuk Korban Banjir Bandang dan Longsor Lebak

Langkah tersebut ditempuh karena jalan menuju kampung masih tertimbun lumpur tebal akibat banjir bandang dan longsor awal Januari lalu, yang disebabkan hujan deras, sebagaimana diceritakan Muhammad Arif Kirdiat, relawan dari organisasi Relawan Kampung Indonesia.

"Sama sekali tidak bisa baik roda dua maupun roda empat karena lumpurnya itu sudah sampai seleher, sepinggang, dan kita harus memutar cari jalan baru alternatif," tutur Arif.

"(Kami) hanya bisa jalan, didrop pakai helikopter," ujar Arif.

Dengan menggunakan tali sling, Arif dan relawan-relawan lainnya berjibaku dengan lumpur yang menyulitkan langkah kakinya, demi memberikan makanan dan bantuan dasar lainnya pada para korban bencana.

Baca juga: Sempat Viral, Jalan Ambles di Kabupaten Lebak Sudah Bisa Dilalui Kendaraan

Tidak semua mengungsi

Sebuah jembatan putus akibat banjir di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak. Banyaknya jembatan dan jalan yang putus menyulitkan distribusi bantuan kepada para korban. AFP/Getty Images Sebuah jembatan putus akibat banjir di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak. Banyaknya jembatan dan jalan yang putus menyulitkan distribusi bantuan kepada para korban.
Arif mengatakan belum semua warga mau meninggalkan rumah mereka karena mereka masih ingin menjaga harta benda mereka, seperti hewan ternak dan kendaraan roda dua, agar tidak dicuri orang.

Menurut Arif, masih ada sekitar 30 kepala keluarga di Cigobang yang bersikukuh tinggal di rumah mereka meski lokasi itu belum dialiri listrik lagi.

Penuturan Arif dikuatkan oleh Muto Sanusi, warga Gajrug, Kabupaten Lebak, yang tidak ingin meninggalkan rumahnya yang setengah hancur akibat banjir bandang.

Baca juga: 12 Titik Longsor Sempat Tutup Akses Jalan Warga Lebak Gedong

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

HKTI Siap Bantu Petani di Tegal untuk Pasarkan Hasil Pertanian

Regional
Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Video Viral Lima Perempuan ABG Rebutan Cowok di Ponorogo

Regional
Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Kasus Covid-19 Melonjak, Gubernur Sulteng Minta Bupati dan Walkot Ajukan PSBB

Regional
Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Staf TU IPDN Lombok Tengah Positif Covid-19

Regional
Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Separuh Wilayah Jatim Masuk Zona Kuning Covid-19, Khofifah: Ini Kerja Keras Semua Elemen...

Regional
Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami 'Lockdown' Kampus

Dua Pejabatnya Meninggal karena Covid-19, Rektor UNS: Kami "Lockdown" Kampus

Regional
Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Kasus Aktif Covid-19 Tersisa 41 Orang, Wali Kota Malang Minta Masyarakat Tak Terlena

Regional
LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

LBH Ansor Pati Ikut Polisikan Gus Nur yang Dianggap Menghina NU

Regional
Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Satgas Covid-19 Papua: 3.359 Pasien Positif Covid-19 Masih Dirawat

Regional
PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

PDI-P Pecat Kadernya yang Maju Pilkada Demak Lewat Partai Lain

Regional
16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani 'Rapid Test'

16.000 Petugas KPPS di Kota Makassar Bakal Jalani "Rapid Test"

Regional
Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa 'Nyambi' Kerja

Siswa Kelas Virtual di Jateng Masih Bisa "Nyambi" Kerja

Regional
Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Nakes dan Petugas Lapangan Jadi Prioritas Pemberian Vaksin Covid-19 di Jateng

Regional
Polisi Selidiki Ambruknya Atap IGD Rumah Sakit Ciamis, Ambil Sampel dari TKP

Polisi Selidiki Ambruknya Atap IGD Rumah Sakit Ciamis, Ambil Sampel dari TKP

Regional
Polisi Temukan 6 Bom Molotov Saat Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law di Makassar

Polisi Temukan 6 Bom Molotov Saat Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law di Makassar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X