Susi Ivvaty
Penulis Kolom

Founder alif.id. Magister Kajian Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Pernah menjadi wartawan Harian Bernas dan Harian Kompas. Menyukai isu-isu mengenai tradisi, seni, gaya hidup, dan olahraga.

Masureq Lagaligo: Merawat Ingatan Dunia, Membaca Suara Zaman

Kompas.com - 30/12/2019, 16:54 WIB
Masureq oleh tiga generasi Pasureq yakni Indo Masse (tengah), Indo Waro (kiri), dan Rahmadani (kanan) Asosiasi Tradisi Lisan Masureq oleh tiga generasi Pasureq yakni Indo Masse (tengah), Indo Waro (kiri), dan Rahmadani (kanan)

BULAN bulat menerangi malam, menemani Indo Masse membaca selembar naskah Lagaligo (La Galigo, I La Galigo).

Indo Masse tidak sembarang membaca, ia menembangkannya, membaca dengan irama tertentu yang khas, kadang meliuk, kadang melengking, seperti mengaji.

Penerangan cukuplah dengan lampu minyak. Di sampingnya, satu sisir pisang dan satu kelapa utuh sebagai sesaji, yang akan dikonsumsi nanti.

Apa yang Indo Masse lakukan, disebut Masureq atau lengkapnya Masureq Lagaligo, yakni proses pembacaan naskah La Galigo. Pembacanya dinamai Pasureq. Adapun tradisi membaca dengan melantunkan syair itu disebut Sureq.

Baca juga: Menjaga Asa Pelestarian Tradisi Lisan

Setelah beberapa bait, Indo Wero (putri Indo Masse), menggantikan ibunya, meneruskan pembacaan naskah Lagaligo.

Giliran membaca selanjutnya adalah Rahmadani, putri Indo Wero. Pertunjukan sureq oleh tiga generasi, Indo Masse—Indo Wero—Rahmadani dalam satu masa itu seolah meretas waktu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Masureq oleh Indo Masse, Indo Wero, dan Rahmadani, yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi Pakurusumange oleh para Bissu di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan itu terekam di dalam film pendek yang diproduksi Asosiasi Tradisi Lisan Film bekerjasama dengan Pradaksina Kreasi Film Yogyakarta.

Produsernya, Ketua ATL Pudentia MPSS dan sejarawan Mukhlis PaEni membuat film pendek tersebut untuk mendokumentasikan tradisi lisan Sureq yang saat ini masih bertahan di Wajo.

Sepanjang film berdurasi sekitar 18 menit itu, lantunan suara Indo Masse, Indo Wero, dan Rahmadani menjadi latar belakang gambar-gambar maupun pernyataan beberapa narasumber.

Tidak dibutuhkan beragam musik pengiring (theme song/scoring) untuk mempercantik film, karena lantunan lagu dalam Sureq dan Pakurusumange yang ditimpali dengan alat musik pukul setempat justru telah sempurna menunjukkan pernyataan produser dan sutradara, Margaretha Rini, atas film itu, yakni menonjolkan tradisinya.

Bangga rasanya masih ada tiga generasi yang tidak putus menekuni Sureq dan mereka massureq terus jika ada kesempatan, seperti diundang “manggung” atau melakukannya atas kesadaran sendiri, melestarikan tradisi.

Baca juga: Untuk Mempertahankan Tradisi Lisan Harus Disokong Anggaran Memadai

Apreasiasi yang tinggi kepada Indo Masse yang telah mewariskannya kepada Indo Wero, dan terutama Indo Wero yang tidak “berhenti di dia”, tapi mewariskannya kepada Rahmadani, warga Generasi Z yang kini masih remaja.

Aksara Bugis diajarkan di Sekolah Budaya Bugis Kabupaten Wajo. Asosiasi Tradisi Lisan Aksara Bugis diajarkan di Sekolah Budaya Bugis Kabupaten Wajo.

Simak lantunan Indo Masse, Indo Wero, dan Rahmadani, dalam bahasa Indonesia ini:

“Di pertiwi merasa tersinggung setiap hari. Menjawablah Sangka Malewa, saya jugalah di bumi. Yang dinamakan awal ke mana, kurencanakan meletakkan tempat di pertiwi. Suami istri di Attawareng berkeinginan anak dewata. Ketajaman, iya memang, jelmaan sang pencipta.

“Orang yang menikmati madu di dalam rasa hatinya penguasa Lappe Tana. Memandang saudaranya beradu kipas keemasan orang Limpo Bonga. Saling bersahutan penyeruh semangat di atas Peterana.”

“Saling bergandengan dan bersaudara, menengadah sembari berkata Muttia Unru. Marilah ke sini guru Ri Selling, naiklah duduk bersama saudaramu."

"Berpaling sembari berkata Sang Pencipta: Begitulah turunnya ke bumi. Susunan bayu sangat sempurna di depannya. Sang Manurung Aji Paewang barangkali yang baik. Diantar turun ke bumi.”

"Menjawablah Sang Penentu Takdir: tidak turun, itu mejelma To Punra Ena. Menghimpun tiga tali. Pada “cerek” yang berangkat lebih dulu. Roddo tinggal di belakang. Rue Ajue kemudian sampailah di depan istana bintang-gemintang."

"Ruuu….. di depannya wahai kalian di istana. Batara Guru kemudian We Nyili Tim. Menginjak tangga keemasan berukir. Terhampar kain panampang soda. Menginjak lantai pelapa kemilau. Lalu melewati sekat tengah.”

Butuh waktu berhari-hari menembang jika ingin memenuhi keingintahuan tentang kisah Batara Guru. Kisah tokoh utamanya, Sawerigading, bahkan belum dibacakan oleh Indo Masse.

Baca juga: Alasan Kisah Cinta Sedarah “I La Galigo” adalah Kisah Klasik GSA

Butuh waktu jauuuuuh lebih lama lagi untuk menuntaskan cerita Lagaligo, yang panjang naskahnya mencapai 6.000 lembar kertas folio atau sebanyak 250.000 kata. Apalagi jika kisahnya dilantunkan lewat Masureq, tidak mungkinlah sekali duduk atau sepeminuman kopi.

Masureq Lagaligo bisa dibilang satu media literasi mengenai asal-usul nenek moyang orang Bugis, tradisi yang sangat tua, bahkan setua usia manusia Bugis itu sendiri, menurut sejarawan Mukhlis PaEni.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Regional
Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Regional
Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Regional
Wagub Uu Minta Masyarakat Aktif Kembangkan Potensi Wisata di Desa Jabar

Wagub Uu Minta Masyarakat Aktif Kembangkan Potensi Wisata di Desa Jabar

Regional
Dengarkan Curhat Pekerja Migran, Ganjar Minta Mereka Lapor jika Jadi Korban Pungli

Dengarkan Curhat Pekerja Migran, Ganjar Minta Mereka Lapor jika Jadi Korban Pungli

Regional
Pemprov Jabar Gaet Investor Timur Tengah, Kang Emil: Kami Lakukan lewat Door-to-Door

Pemprov Jabar Gaet Investor Timur Tengah, Kang Emil: Kami Lakukan lewat Door-to-Door

Regional
Pasangan Moka Jabar 2021 Resmi Terpilih, Ridwan Kamil: Semoga Bisa Menjadi Teladan

Pasangan Moka Jabar 2021 Resmi Terpilih, Ridwan Kamil: Semoga Bisa Menjadi Teladan

Regional
Ketua Komisi III DPR Minta Polri Transparan Ungkap Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak di Luwu Timur

Ketua Komisi III DPR Minta Polri Transparan Ungkap Kasus Dugaan Pemerkosaan Anak di Luwu Timur

Regional
Wakil Ketua TP PKK Jabar: Kualitas Pemuda Harus Ditingkatkan lewat Pendidikan

Wakil Ketua TP PKK Jabar: Kualitas Pemuda Harus Ditingkatkan lewat Pendidikan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.