Aksi Bela Uighur, Massa Minta Pemerintah Putus Hubungan Diplomatik dengan RRC

Kompas.com - 28/12/2019, 07:59 WIB
Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Tabagsel menggelar aksi Bela Uighur di Kota Padang Sidempuan, Jumat (27/12/2019). Massa meminta kepada pemerintah untuk memutus hubungan diplomatik dan mengusir Dubes RRC dari Indonesia atas kejadian kemanusiaan di Uighur. KOMPAS.COM/ORYZA PASARIBURatusan massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Tabagsel menggelar aksi Bela Uighur di Kota Padang Sidempuan, Jumat (27/12/2019). Massa meminta kepada pemerintah untuk memutus hubungan diplomatik dan mengusir Dubes RRC dari Indonesia atas kejadian kemanusiaan di Uighur.

PADANG SIDEMPUAN, KOMPAS.com - Ratusan massa dari Aliansi Umat Islam Tabagsel melakukan aksi bela Uighur di Kota Padang Sidempuan, Jumat (27/12/2019) sore.

Massa meminta kepada pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China ( RRC).

"Kami meminta kepada pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik dan mengusir Duta Besar RRC yang ada di Indonesia. Karena masalah Uighur adalah masalah kita, ada kejahatan HAM disana. Dan kami meminta kepada pemerintah untuk hadir dan ikut menyelesaikannya," teriak Khoir Rambe, salah satu peserta aksi di Kota Padang Sidempuan, Jumat (27/12/2019) sore.

Baca juga: Kebijakan Pemerintah Tiongkok mengenai Suku Uighur dan Masyrakat Muslim di Tiongkok


Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini juga menyampaikan, tidak semua yang publik lihat, dengar dan ketahui tengah kondisi di Uighur itu benar. Namun, ada kezaliman, diskriminasi serta penindasan yang memang benar terjadi.

"Yang bisa kita lakukan saat ini hanya sebatas penggalangan dan pembentukan opini untuk membela saudara-saudara kita di sana. Dan itu sudah menunjukkan rasa peduli kita sesama saudara seakidah kita," kata Khoir.

Senada dengan Khoir, Ketua Aliansi Umat Islam Tabagsel Ganti Tua Siregar mengatakan, aksi yang digelar mereka ini murni untuk membela dan sama-sama merasakan apa yang dirasakan masyarakat Uighur.

Menurut Ganti, banyak informasi soal kondisi masyarakat Uighur yang disembunyikan dan bertolak belakang dengan yang terlihat saat ini.

Baca juga: Terkait Muslim Uighur, Mahfud MD Jelaskan Maksud dari Diplomasi Lunak

"Kejahatan HAM ada di sana, dan pemerintah harus peka untuk itu. Mudah-mudahan pemimpin kita dapat ikut merasakannya dan peduli," ujar Ganti.

Bersama ratusan massa, Ganti menyerukan agar semua pihak, khususnya di Kota Padang Sidempuan saling bersinergi. Dan kepada pemerintah daerah dapat menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah pusat.

"Saudara-saudara kita disana dizalimi dan kita sama-sama menyerukan kepada dunia agar PBB menghentikan aksi kekejaman terhadap masyarakat Uighur oleh pemerintah RRC," kata Ganti.

Aksi solidaritas tersebut juga dirangkai dengan penggalangan dana dari peserta aksi. Dan dana yang terkumpul akan disalurkan kepada masyarakat di Uighur.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggota Ormas Demo di Lapas Samarinda, Minta Kasus Napi Tewas Diusut Tuntas

Anggota Ormas Demo di Lapas Samarinda, Minta Kasus Napi Tewas Diusut Tuntas

Regional
Kembali ke Rutan Kabanjahe, 167 Warga Binaan dapat Perlengkapan Mandi dan Tidur

Kembali ke Rutan Kabanjahe, 167 Warga Binaan dapat Perlengkapan Mandi dan Tidur

Regional
Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

Regional
Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

Regional
4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

Regional
Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

Regional
Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

Regional
Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

Regional
Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

Regional
Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

Regional
Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

Regional
Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

Regional
Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

Regional
Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

Regional
Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X