Partai Gelora Klaim sebagai Partai Islam Nasionalis

Kompas.com - 16/12/2019, 07:10 WIB
Ketua DPW Partai Gelora Indonesi Jawa Barat Haris Yuliana (dua dari kanan) bersama pengurus DPD Partai Gelora Indonesia Kabupaten Garut, Minggu (15/12/2019) KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANGKetua DPW Partai Gelora Indonesi Jawa Barat Haris Yuliana (dua dari kanan) bersama pengurus DPD Partai Gelora Indonesia Kabupaten Garut, Minggu (15/12/2019)

GARUT, KOMPAS.com – Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Gelora Indonesia Jawa Barat Harris Yuliana menyebutkan, partainya adalah partai Islam nasionalis yang berasaskan Pancasila.

“Kita ingin menyebut partai ini mengusung Islam nasionalis, ini penting, karena kenyataannya di kita (Indonesia), Islam menjadi kotak kecil dan nasionalis menjadi kotak yang luas. Sekarang kita ingin mengatakan Islam dengan Rahmatan lill Alaminnya bisa mengayomi seluruhnya,” kata Harris, usai soft launching sekaligus menyerahkan Surat Keputusan (SK) DPD Partai Gelora Kabupaten Garut, di Upnormal Cafe, Garut, Minggu (15/12/2019).

Baca juga: Presiden PKS Tak Khawatir Kadernya Pindah ke Partai Gelora

Haris menegaskan, partainya didirikan untuk menegaskan Islam dengan Rahmatan Lil alaminnya, akan mampu mengayomi seluruh elemen bangsa.

Makanya, partainya disebut sebagai partai Islam nasionalis. Hal ini menjadi diksi baru dalam perpolitikan Indonesia.

Menurut Haris, partai Islam perlu narasi baru agar saat menegaskan sebagai partai Islam, tidak menjadi satu kotak yang sempit.

Justru, partainya ingin membuat Islam menjadi sebuah segmen besar yang bisa mengayomi semua elemen bangsa.

Haris melihat, kemiskinan masih menjadi isu penting di masyarakat, di mana kesejahteraan menjadi sesuatu hal yang sulit untuk diwujudkan.

Partai Gelora, menurut dia, akan mencoba menjawab masalah-masalah kemiskinan di masyarakat lewat ruang-ruang demokrasi.

Sebab, ruang ini menjadi ruang strategis untuk melepaskan masyarakat dari kemiskinan.

“Reformasi sudah mendorong kita ke ruang demokrasi yang cukup luas, tapi ternyata demokrasi belum bisa menjawab persoalan-persoalan dasar yang ada di masyarakat, saya kira Partai Gelora ingin menjawab semua hal itu,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPD Partai Gelora Kabupaten Garut Cep Ahmad Mukhtar menegaskan, Partai Gelora hadir untuk menjadi penawar dari perang besar isu politik di Indonesia, yaitu soal agamais dan nasionalis.

Baca juga: Partai Gelora dan Rencana Panjang Fahri Hamzah...

 

Namun, bukan berarti partanya anti-agamais dan anti-nasionalis. Justru, partainya ada untuk menyatukan kelompok-kelompok agamais dan nasionalis.

“Kita ingin menjadi penawar agar peperangan isu ini tidak terus berkecamuk, karena ini akan terus memenjarakan kita, Gelora bercita-cita ingin melepaskan semua belenggu ini, belenggu peperangan ini, hingga semua bisa konsentrasi pada pembangunan bangsa dan negara,” ujar Cep.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Pulau Komodo Berubah Jadi Pulau Mang Dodo

Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Pulau Komodo Berubah Jadi Pulau Mang Dodo

Regional
Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Regional
Ganjar Sebut Pertemuan dengan Ridwan Kamil Bahas Kegiatan Pramuka

Ganjar Sebut Pertemuan dengan Ridwan Kamil Bahas Kegiatan Pramuka

Regional
Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (1)

Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (1)

Regional
Kisah di Balik Balita yang Kerap Bilang 'Maaf', Orangtua Dipenjara, Trauma Dianiaya Paman dan Bibi

Kisah di Balik Balita yang Kerap Bilang "Maaf", Orangtua Dipenjara, Trauma Dianiaya Paman dan Bibi

Regional
Hari Pertama Operasi Zebra Lodaya 2020 di Cianjur, Sasar Warga yang Tak Pakai Masker

Hari Pertama Operasi Zebra Lodaya 2020 di Cianjur, Sasar Warga yang Tak Pakai Masker

Regional
Wali Kota Madiun Izinkan SD, SMP dan SMA Gelar KBM Tatap Muka

Wali Kota Madiun Izinkan SD, SMP dan SMA Gelar KBM Tatap Muka

Regional
Libur Panjang, Pemeriksaan Kendaraan di Puncak Akan Diperketat

Libur Panjang, Pemeriksaan Kendaraan di Puncak Akan Diperketat

Regional
Sensasi Berkeliling Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Aceh Tengah

Sensasi Berkeliling Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Aceh Tengah

Regional
Kurang dari 7 Jam, Pembunuh Pedagang Pakaian di Kudus Berhasil Ditangkap

Kurang dari 7 Jam, Pembunuh Pedagang Pakaian di Kudus Berhasil Ditangkap

Regional
Pengakuan Pemandu Karaoke yang Pingsan Dipukuli Usai Menolak Diantar Pulang Tamu: Kami Baru Kenal

Pengakuan Pemandu Karaoke yang Pingsan Dipukuli Usai Menolak Diantar Pulang Tamu: Kami Baru Kenal

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pernikahan Siswi SMP di Lombok | Puluhan Rumah Rusak akibat Gempa M 5,9 Pangandaran

[POPULER NUSANTARA] Pernikahan Siswi SMP di Lombok | Puluhan Rumah Rusak akibat Gempa M 5,9 Pangandaran

Regional
Debat Pilgub Jambi, Walhi Sebut Semua Cagub Beri Karpet Merah untuk Investor Tambang

Debat Pilgub Jambi, Walhi Sebut Semua Cagub Beri Karpet Merah untuk Investor Tambang

Regional
Tebang Pohon karena Halangi Papan Reklame di Jalan, 4 Orang Ditangkap

Tebang Pohon karena Halangi Papan Reklame di Jalan, 4 Orang Ditangkap

Regional
Fakta Siswi SMP Nikahi Pemuda 17 Tahun, Kenal Setahun, Tak Diketahui KUA

Fakta Siswi SMP Nikahi Pemuda 17 Tahun, Kenal Setahun, Tak Diketahui KUA

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X