Puluhan Pengungsi Syiah Di Sidoarjo Masuk Daftar Penerima PKH 2020

Kompas.com - 13/12/2019, 15:45 WIB
Direktur RSUD Dolopo, dr Purnomo Hadi memeriksa tensi darah salah satu pengungsi Wamena asal Kabupaten Sampang di Pendopo Muda Graha Kabupaten Madiun, Kamis ( 3/10/ 2019) KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWIDirektur RSUD Dolopo, dr Purnomo Hadi memeriksa tensi darah salah satu pengungsi Wamena asal Kabupaten Sampang di Pendopo Muda Graha Kabupaten Madiun, Kamis ( 3/10/ 2019)

SURABAYA, KOMPAS.com - Sebanyak 49 pengungsi Syiah asal Kabupaten Sampang, yang tinggal di Rusun Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur, mulai tahun depan masuk ke Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial.

Selain masuk PKH, mereka juga tercatat mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Kamis (12/2019) malam, mereka menerima kartu kartu keluarga sejahtera sebagai bentuk telah masuk ke program bantuan pemberdayaan pemerintah.

Baca juga: Pemilu 2019, Pengungsi Syiah Sampang Tak Bisa Memilih Caleg

 

Kartu tersebut diberikan langsung oleh Menteri Sosial Juliari Peter Batubara usai membuka acara Peningkatan Kapasitas Pendamping Bantuan Pangan Non Tunai di Surabaya.

"Setelah dilakukan validasi terhadap pengungsi korban konflik Sampang di Kabupaten Sidoarjo, dari 66 pengungsi yang masih tinggal, sebanyak 49 memenuhi syarat mendapatkan bantuan," kata Juliari.

Dia berharap, setelah disentuh program dari pemerintah, para pengungsi Syiah dapat menata hidupnya menjadi lebih baik lagi.

Setelah tercatat sebagai penerima program, para pengungsi Syiah akan didampingi penuh oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK).

Para penganut kelompok Islam tertentu tersebut terpaksa diungsikan ke Rusun Jemundo pada Agustus 2012, karena aktivitas mereka tidak dikehendaki dan dianggap sesat oleh warga di Dusun Nagkrenang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Warga setempat sempat membakar rumah para pengungsi Syiah dan memaksa mereka untuk keluar dari desa.

Aksi pembakaran juga pernah terjadi pada 2011. Ada 81 kepala keluarga dan 335 jiwa yang saat ini berada di rumah susun Jemundo.

Baca juga: Cerita Aminah dan Arifah, Tak Lagi Terima PKH karena Merasa Cukup

Oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur, mereka memperoleh uang jatah hidup Rp 700.000 per bulan.

"Tahun depan para pengungsi Syiah masih mendapatkan jatah hidup dari Pemprov Jawa Timur," kata Plt Kepala Biro Kesejahteraan Sosial Pemprov Jawa Timur, Hudiyono.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X