Sistem Peringatan Dini Tsunami di Ambon Diresmikan

Kompas.com - 11/12/2019, 15:54 WIB
Sistem peringatan dini tsunami di Pelabuhan Perikanan Eri, Ambon diresmikan, Rabu (11/12/2019) KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYSistem peringatan dini tsunami di Pelabuhan Perikanan Eri, Ambon diresmikan, Rabu (11/12/2019)

AMBON, KOMPAS.com - Pemerintah pusat melalui empat kementerian/lembaga yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Maluku meresmikan sistem peringatan dini tsunami, Stasiun Pasang Surut Pelabuhan Perikanan Eri, Teluk Ambon, Ambon, Rabu (11/12/2019).

Peresmian sistem peringatan dini tsunami tersebut dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita oleh Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin, Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno yang disaksikan oleh sejumlah pejabat dan tamu undangan yang hadir.

Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk menjaga sistem peringatan dini yang ditanam di salah satu wilayahnya.

Baginya, sistem tersebut sangat penting karena dapat memberikan informasi dini tentang fenomena tsunami, sehingga melalui alat tersebut diharapkan dapat mencegah jatuhnya korban jiwa apabila terjadi bencana gempa bumi yang disusul tsunami.

Baca juga: Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Pulau Miangas, Sulut, Tak Berpotensi Tsunami

“Saya atas nama warga Ambon mengucapkan terima kasih atas kolaborasi kementerian dan lembaga untuk Ambon. Semoga alat ini tidak hanya menjadi aksesori dan kami dapat bertanggung jawab untuk ke depannya dalam merawat dan menjaganya," ungkap Barnabas, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu.

Sementara itu, Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin mengatakan, sistem peringatan dini seperti yang baru saja diresmikan di PPI Eri tersebut sangat penting, mengingat wilayah Indonesia memiliki potensi bencana alam yang sangat besar.

Terlebih, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa itu dilalui tiga lempeng aktif di dunia yakni eurasia, indo-australia, indo-pasifik.

Selain itu, sebagai putra Bumi Rencong Aceh, Hasanuddin mengatakan, musuh terbesar Indonesia adalah bencana alam.

Sebagaimana hal yang masih diingat dan dipahami ialah peristiwa tsunami 2004 lalu di tanah kelahirannya, yang mana dalam mengatasi hal tersebut, diperlukan sistem peringatan dini dan kolaborasi masyarakat dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat.

“Saya orang Aceh, maka dari itu saya memahami betul bagaimana bahaya dari fenomena tersebut seperti yang terjadi 2004 silam. Bencana alam adalah musuh laten Indonesia yang sebenarnya, oleh karena itu penanggulangan bencana harus lebih baik. Oleh karena itu, sistem ini harus dijaga dengan baik. Saya harap agar warga Ambon juga dapat bersama-sama merawat alat ini dengan baik sebagai peringatan dini,” kata Hasanuddin.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X