Kata Kadinsos soal Rekening Orangtua Kakak Beradik Penderita Gangguan Jiwa Kosong Meski Penerima PKH

Kompas.com - 05/12/2019, 18:52 WIB
Anita hanya bisa berbaring karena gangguan jiwa dan kondisinya kini lemas setelah bertahun tahun dipasung, di rumahnya di Desa Lare-lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Kamis (28/11/2019). KOMPAS.com/Muh. Amran AmirAnita hanya bisa berbaring karena gangguan jiwa dan kondisinya kini lemas setelah bertahun tahun dipasung, di rumahnya di Desa Lare-lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Kamis (28/11/2019).

LUWU, KOMPAS.com -  Halima (60), orangtua dari Anita (34) dan Saldi (31), kakak beradik yang mengidap gangguan jiwa di Desa Lare-Lare, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengaku terdaftar sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan ( PKH) dari pemerintah daerah.

Namun, dia terkejut saat proses pencairan, pihak bank menyatakan tidak ada saldo di rekening itu. 

Terkait hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Baharuddin mengatakan, Halima bisa saja sudah menerima Kartu Keluarga Sehat (KKS) dan buku tabungan, tapi belum ada surat perintah pencairan dana dari Kementerian Sosial. 

“Ini diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan administrasi yang ada pada pihak bank. Mungkin ada kesalahan nama atau kesalahan pada Nomor Induk Keluarga (NIK),” kata Baharuddin saat dikonfirmasi di kantor Dinas Sosial Luwu, Kamis (5/12/2019).


Baca juga: Penerima Bantuan PKH di Luwu Dapat Saldo Kosong dari Pemerintah

Menurutnya, beberapa kasus tidak hanya terjadi pada Halima, tetapi beberapa peserta PKH yang sudah menerima kartu dan punya nomor rekening.  

“Kami sudah berkomunikasi dengan Kementerian Sosial untuk perbaikan data-data yang dialami oleh peserta penerima PKH yang bermasalah baik secara langsung maupun secara persuratan,” ucap Baharuddin.

Baharuddin menambahkan, peserta PKH kabupaten Luwu sebanyak 14.118. Namun, ada 305 peserta yang bermasalah.

305 peserta PKH yang bermasalah itu tidak masuk dalam aplikasi pada Kementerian Sosial, tetapi peserta tersebut sudah diupayakan untuk diakomodir kembali pada tahun 2020.

"Kami sudah koordinasi dengan Subdit Jaminan Sosial untuk mengakomodir semua penduduk yang memang layak mendapat program ini, salah satunya termasuk ibu Halima,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, Halima mengaku tidak dapat menikmati bantuan yang diberikan pemerintah.

Ia mengaku terdaftar sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan ( PKH) dari pemerintah setempat.

Namun, dia terkejut saat proses pencairan, pihak bank menyatakan tidak ada saldo di rekening itu.

“Pendamping PKH bernama Samsiah yang biasa dipanggil Bunda Cia memberikan saya amplop berisi ATM dan buku tabungan. Pada saat saya ke bank untuk pencairan, pihak bank bilang tidak ada saldonya. Jadi saya pulang dengan tangan kosong,” kata Halima saat dikonfirmasi, Selasa (3/12/2019).

Baca juga: Harapan Teman-teman SMP Kakak Adik yang Dipasung 15 Tahun: Semoga Ada Sedikit Memorimu Tentang Kami di Masa Lalu...

Dikatakan Halima, sejatinya dana bantuan PKH sebesar Rp 2,4 juta itu akan digunakan untuk biaya pengobatan kedua anaknya yang mengidap gangguan jiwa. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X