Pengamat Politik: Gibran Terlalu Ngebet Maju Pilkada Solo

Kompas.com - 04/12/2019, 16:11 WIB
Putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan pers kelahiran anak keduanya di RS PKU Muhammadiyah Surakarta Jalan Ronggowarsito No130, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Jumat (15/11/2019) malam. KOMPAS.com/LABIB ZAMANIPutra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka memberikan keterangan pers kelahiran anak keduanya di RS PKU Muhammadiyah Surakarta Jalan Ronggowarsito No130, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Jumat (15/11/2019) malam.

SEMARANG, KOMPAS.com - Pakar politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, M Yulianto menilai, anak Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka terlalu gegabah untuk maju sebagai calon wali kota Solo pada Pilkada Solo 2020.

Yulianto menyarankan putra sulung Jokowi ini sebaiknya tidak terburu-buru maju di bursa Pilkada Solo. 

Pasalnya, keputusan Gibran ini justru berpotensi menimbulkan dinasti politik yang baru di Indonesia. 

"Kalau dibiarkan maka akan diikuti tokoh-tokoh politik PDI-P lainnya dengan meniru pola seperti di Solo dengan membangun klan dinasti. Ini yang patut disayangkan, karena bisa merusak sistem kaderisasi di PDI-P," ujar Yulianto, saat dihubungi, Rabu (4/12/2019). 

Baca juga: Gerindra Atur Pertemuan untuk Jodohkan Gibran dengan Cucu Bung Karno dalam Pilkada Solo

Yulianto menganggap sikap Gibran terlalu ngebet untuk maju pada Pilkada Solo, saat ayahnya masih menjabat sebagai Presiden Indonesia. 

Tak gampang bagi anak muda untuk memimpin sebuah partai politik (parpol) seperti PDI-P, dan tak semudah mengelola perusahaan martabak.

"Jangan mentang-mentang punya power, maka terus ikut maju di kontestasi pemilihan wali kota. Karena organisasi partai itu harus ada komunikasi yang dibangun dan harus mampu menjalankan komitmen bersama seluruh elemen di dalamnya," ujar Yulianto.

Yulianto memperkirakan, tokoh senior di PDI-P Solo seperti Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa yang akan dipilih Ketua Umu PDI-P Megawati Soekarnoputri untuk diusung pada Pilkada Solo 2020. 

Ia menilai karena senioritas yang lebih kuat, serta muncul atas kemauan anak cabang.

"Kalau anaknya Jokowi lebih ditopang milenial yang kepingin perubahan. Tapi kemampuan memimpin bisnis boleh-boleh saja, belum tentu dia mampu di parpol. Itu tidak semudah mengelola perusahaan martabak," kata Yulianto. 

Apabila Gibran masih ngebet mencalonkan diri dengan jalan pintas melalui DPP PDI-P, akan mencederai loyalitas dan kesetiaan kader PDI-P yang bergerak di akar rumput. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Dokter yang Tangani Lina Mantan Istri Sule Dimintai Keterangan Polisi

4 Dokter yang Tangani Lina Mantan Istri Sule Dimintai Keterangan Polisi

Regional
Jurnalis Mongabay asal Amerika Serikat Ditahan Imigrasi Palangkaraya

Jurnalis Mongabay asal Amerika Serikat Ditahan Imigrasi Palangkaraya

Regional
Divonis 2 Bulan, Kakek Samirin yang Pungut Getah Karet Seharga RP 17.000 Akhirnya Bebas

Divonis 2 Bulan, Kakek Samirin yang Pungut Getah Karet Seharga RP 17.000 Akhirnya Bebas

Regional
Gibran Tanggapi Pidato Megawati soal Minta Rekomendasi: Saya Tak Lewat Pintu Belakang

Gibran Tanggapi Pidato Megawati soal Minta Rekomendasi: Saya Tak Lewat Pintu Belakang

Regional
Dua Kali Kabur, Terpidana Mati yang 5 Tahun Jadi Buron Ini Ditembak Polisi

Dua Kali Kabur, Terpidana Mati yang 5 Tahun Jadi Buron Ini Ditembak Polisi

Regional
Beli Motor NMAX Pakai Uang Koin Rp 24 Juta, Pria di Banyuwangi Menabung di Kaleng Biskuit

Beli Motor NMAX Pakai Uang Koin Rp 24 Juta, Pria di Banyuwangi Menabung di Kaleng Biskuit

Regional
Melihat Batik Siswa SLB di Kendal yang Disukai Turis Asing

Melihat Batik Siswa SLB di Kendal yang Disukai Turis Asing

Regional
Risma: Saya Enggak Mau Ditanya Malaikat Kenapa Ada Warga Kelaparan

Risma: Saya Enggak Mau Ditanya Malaikat Kenapa Ada Warga Kelaparan

Regional
Jalur Puncak Rawan Longsor, Pengendara Diminta Hati-hati

Jalur Puncak Rawan Longsor, Pengendara Diminta Hati-hati

Regional
Kronologi ABK Meninggal dan Jenazahnya Dilarung ke Laut, Terakhir Komunikasi Setahun Lalu

Kronologi ABK Meninggal dan Jenazahnya Dilarung ke Laut, Terakhir Komunikasi Setahun Lalu

Regional
Fakta Lengkap Mahasiswa Jember Tewas di Kamar Indekos, dari Bau Menyengat hingga Korban Sempat Mengeluh Sakit

Fakta Lengkap Mahasiswa Jember Tewas di Kamar Indekos, dari Bau Menyengat hingga Korban Sempat Mengeluh Sakit

Regional
Mengenal Lebih Dekat Ikan Dewa, Harganya Jutaan dan Selalu Diburu Jelang Imlek

Mengenal Lebih Dekat Ikan Dewa, Harganya Jutaan dan Selalu Diburu Jelang Imlek

Regional
Seorang Kakek di Temanggung Tewas Disengat Ratusan Lebah

Seorang Kakek di Temanggung Tewas Disengat Ratusan Lebah

Regional
Fakta Kapal Wartawan Istana Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Sebut Layar Belum Sempat Diturunkan

Fakta Kapal Wartawan Istana Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Sebut Layar Belum Sempat Diturunkan

Regional
[POPULER NUSANTARA] ABK Meninggal Dibuang ke Laut | Raja Agung Sejagat Minta Maaf

[POPULER NUSANTARA] ABK Meninggal Dibuang ke Laut | Raja Agung Sejagat Minta Maaf

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X