Ridwan Kamil: Orangtua Jangan Bangga Anak Bisa Main Ponsel Sejak Kecil

Kompas.com - 29/11/2019, 13:42 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat ditemui di Gedung Pakuan, Bandung, Kamis (28/11/2019). KOMPAS.COM/DENDI RAMDHANIGubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat ditemui di Gedung Pakuan, Bandung, Kamis (28/11/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta para orangtua untuk selalu mengawasi pengunaan gawai yang dimainkan anak.

Ia mengaku miris dengan adanya orangtua yang terkesan bangga lantaran anaknya mampu mengoperasikan gawai di usia yang masih kecil.

"Orangtua jangan bangga jika anaknya bisa main hape. Kadang suka dipamerkan bisa main hape di usia masih kecil. Lebih baik kita fokuskan pada kegiatan motorik, pertumbuhan yang normal, berinteraksi dengan alam," tutur Emil, sapaan akrabnya, kepada Kompas.com, Kamis (28/11/2019).

Baca juga: Gratiskan SPP SMA, Ridwan Kamil Pangkas Dana Perjalanan Dinas PNS

Menurut Emil, pada dasarnya sesuatu yang berlebihan itu berbahaya. Dalam konteks anak kecanduan game, yang perlu diperhatikan adalah frekuensi pemakaian.

Karena itu, kata Emil, Pemprov Jabar telah menggagas sejumlah program untuk mengurangi interaksi anak dengan gawai.

Salah satunya, program maghrib mengaji serta sekolah tanpa gangguan gawai (Setangkai).

Menurut dia, kasus anak kecanduan game banyak menyasar kalangan menengah atas.

"Memang tidak terukur hasilnya secara ilmiah, tetapi upaya itu sudah ada. Jadi saya mengapresiasi apapun langkah yang dilakukan untuk mengurangi. Karena sekarang hadir penyakit mental baru yang membuat rumah sakit jiwa di Cisarua akhirnya mengalokasikan ruang dan perawatannya untuk penyakit mental kecanduan hape,' ujar dia.

"Dan kebanyakan menengah atas, justru golongan kaya yang memang karena punya kemudahan memberikan hp di usia lebih muda," kata Emil menambahkan.

Emil juga tengah mengkaji penerapan aturan yang melarang anak mendapat fasilitas gawai hingga usia tertentu. Di beberapa negara, kata Emil, aturan itu telah diterapkan.

"Dan kalau kita berkaca ke luar negeri saya menemukan juga, nanti kita riset. Di sana dilarang memberikan hape ke anak ke usia tertentu. Nah, ini di Indonesia belum ada. Mungkin ini baik kita perhatikan, praktikan, mungkin usia SD mah belum perlu. Nanti di usia yang cukup matang paham menggunakan dengan bijak barulah kita berikan akses yang memang komunikasi itu sekarang jadi kebutuhan lumrah di era digital," ujar dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X