Edy Rahmayadi: Teroris adalah Pemahaman Orang Sakit Jiwa, Bukan Radikal...

Kompas.com - 20/11/2019, 06:19 WIB
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi yang diminta komentarnya soal tudingan radikal kepada pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan mengatakan, teroris adalah pemahaman orang yang sakit jiwa, bukan radikal, Selasa (19/11/2019) KOMPAS.COM/MEI LEANDHA ROSYANTIGubernur Sumut Edy Rahmayadi yang diminta komentarnya soal tudingan radikal kepada pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan mengatakan, teroris adalah pemahaman orang yang sakit jiwa, bukan radikal, Selasa (19/11/2019)

MEDAN, KOMPAS.com - Bom bunuh diri yang dilakukan Rabbial alias RMN alias Dedek (24), warga Kecamatan Medanpetisah, Kota Medan di Mapolrestabes Medan pada Rabu (13/11/2019) pagi, masih menyisakan penangkapan demi penangkapan terduga teroris lainnya. 

Kepala Bidang Humas Polisi Daerah Sumatera Utara Kombes Tatan Dirsan mengatakan, sudah 30 tersangka yang ditangkap di Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh.

Tatan menjelaskan, masih ada kemungkinan penambahan tersangka lain.

Tim gabungan yang terdiri dari Detasemen Khusus 88 (Densus 88) dan Polisi Daerah Sumut masih melakukan pengembangan. Sementara Mabes Polri menyebut total tersangka yang diamankan sudah 71 orang. 


"Rata-rata para tersangka berumur 30 sampai 40 tahunan," kata Tatan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Selasa (19/11/2019).

Para tersangka dituding terpapar paham radikal.

Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto pada Senin (18/11/2019), tak menampik kalau deradikalisasi mangkrak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini luar biasa sehingga para pelaku tidak harus berguru kepada imam-imam, langsung belajar dari media sosial. 

Baca juga: Tersangka Teroris Bom Medan Gunakan Medsos Sebar Ideologi Radikal

Apakah setelah meledakkan orang lain saya masuk surga?  

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi yang diminta komentarnya soal tudingan kepada para tersangka tersebut mengatakan, para terduga pelaku memiliki pemahaman yang salah.

"Pahamnya yang salah, apakah itu radikal? Coba nanti diartikan. Kalau nanti saya meledakkan orang lain, menjadi cedera orang lain, menjadi korban, saya juga jadi korban, saya masuk surga? Itu kan pemahaman yang salah, sehingga orang seenaknya berbuat seperti itu," kata Eddy di rumah dinasnya, Selasa sore. 

"Itu sangat salah, tolong jangan dimasukkan di dalam salah satu komponen yang ada di kita. Gak, itu bukan orang kita, orang sakit jiwa itu." 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X