Teror Harimau Hantui Warga Sumsel, Apa Penyebabnya?

Kompas.com - 19/11/2019, 06:41 WIB
Kemunculan harimau sumatera di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, Riau, Kamis (23/5/2019). Dok. BBKSDA RiauKemunculan harimau sumatera di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, Riau, Kamis (23/5/2019).

PALEMBANG, KOMPAS.com - Warga di kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan akhir-akhir ini menjadi resah sejak munculnya harimau sumatera.

Bahkan, satu korban terkaman harimau meninggal, sementara satu orang lagi menjalani perawatan di rumah sakit.

Kedua korban tersebut adalah wisatawan dan petani kopi di Gunung Dempo, Kota Pagaralam.

Yakni, Irfan (19) wisatawan gunung Dempo, kota Pagaralam. Dia masih menjalani perawatan di rumah sakit pada Sabtu (16/11/2019). 

Korban lainnya yakni Kuswanto (57) petani kopi di Lahat. Dia tewas usai diterkam harimau ketika sedang menebang pohon di kebun, pada Minggu (17/11/2019).

Tak hanya itu, hewan ternak milik juga mati diserang oleh harimau di Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Minggu (17/11) malam.

Baca juga: Untuk Ketiga Kalinya, Lembu Milik Warga Dimangsa Harimau Sumatera

BKSDA pasang kamera trap 

Tim dari BKSDA Sumatera Selatan telah diturunkan untuk menyelidiki kasus munculnya harimau sumatera, satwa liar yang dilindungi tersebut.

Kepala BKSDA Sumsel Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, mereka saat ini memasang kamera trap untuk memantau di beberapa titik wilayah munculnya harimau sumatera. 

Setelah pemasangan kamera trap, tim akan mengkaji penyebab konflik antara manusia dan harimau di lokasi tersebut.

"Masyarakat diimbau segera melaporkan kepada petugas BKSDA Sumsel apabila terdapat perjumpaan dengan harimau baik jejak maupun aktivitas," kata Genman.

Baca juga: Lagi Berkemah, Wisatawan Taman Gunung Dempo Diterkam Harimau

Habitat diduga terganggu akibat kemarau

Fenomena penyerangan satwa liar bernama latin Panthera Tigris Sumatrae ini belum diketahui penyebabnya.

Namun, beberapa faktor bisa saja menjadi pemicu satwa dilindungi ini turun dari gunung. Seperti habitat yang terganggu, atau faktor alam yakni kekeringan.

Seperti diketahui, Sumatera Selatan mengalami kemarau panjang pada tahun ini. Hal itu membuat beberapa sumber air menjadi kering.

"Mungkin dia mencari air, dan keluar dari habitat, istilahnya disorientasi. Katakanlah kesasar, manusia saja bisa tersasar,"ujarnya.

Menurut Genman, jarak antara pemukiman warga dan hutan lindung pun hanya sekitar 7 kilometer. 

Selain itu, tim juga belum bisa masuk ke hutan terlalu dalam karena faktor keselamatan.

"Kemungkinan rumahnya terganggu, seperti ada perusakan hutan atau illegal logging, sehingga mereka keluar. Kemungkinan itu juga bisa terjadi," jelasnya.

Baca juga: Penyerang Petani Kopi dan Wisatawan Gunung Dempo Diduga Harimau yang Sama

Harimau bercorak putih

Harimau yang menyerang Irfan (19) wisatawan gunung Dempo dan  Kuswanto (57) petani kopi di Kabupaten Lahat diduga merupakan harimau yang sama.

Dugaan itu muncul berdasarkan beberapa keterangan saksi mata yang merupakan warga sekitar.

Kepala BKSDA Sumsel Genman Suhefti Hasibuan mengatakan, berdasarkan keterangan para warga, di kawasan taman wisata Gunung Dempo, ciri-ciri harimau yang menyerang manusia itu memiliki corak bewarna putih. 

Hal yang sama juga disebutkan oleh warga di Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti setelah Kuswanto (57) tewas diterkam harimau.

"Karena masyarakat bilang yang datang itu adalah harimau putih. Jarak antara TKP pertama dan kedua juga hanya 13 kilometer jarak datar dan kejadiannya di waktu yang sama. Bisa saja ini adalah harimau yang sama," kata Genman, Senin (18/11/2019).

Baca juga: Penyerang Petani Kopi dan Wisatawan Gunung Dempo Diduga Harimau yang Sama

Aktivitas di Taman Wisata Gunung Dempo dihentikan

Kapolres Pagaralam AKBP Dolly Gumara mengimbau agar aktivitas di taman wisata Gunung Dempo dihentikan sementara waktu, sampai kondisinya kembali steril dari keberadaan hewan buas.

Imbauan itu dikeluarkan, agar tak adanya lagi korban penyerangan satwa liar kepada manusia.

Seperti diketahui, Irfan warga asal kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), diserang harimau ketika sedang camping bersama temannya.

Serangan itu membuat luka para terhadap Irfan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kita minta taman wisata Gunung Dempo tutup sementara sampai kondisinya aman," imbuh Dolly.

Hal yang sama dilakukan oleh BKSDA Sumsel, ia juga meminta warga yang ada di Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat menjauhi lokasi munculnya harimau.

Hal ini dikatakan, pascainsiden harimau serang Kuswanto, petani kopi, ketika sedang menebang pohon di kebun.

"Lebih baik hentikan sementara waktu, kita tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Warga sudah diimbau, jangan ke sana dulu," katanya.

Baca juga: Hasil Investigasi, Petani yang Tewas di Lahat akibat Diterkam Harimau



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X