Kompas.com - 17/11/2019, 19:24 WIB
Seorang pegawai saat mengerjakan proyek pembuatan kolam renang di Gedung Pakuan, Kamis (14/11/2019). KOMPAS.COM/DENDI RAMDHANISeorang pegawai saat mengerjakan proyek pembuatan kolam renang di Gedung Pakuan, Kamis (14/11/2019).

KOMPAS.com - Pengamat kebijakan publik yang juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Dr Undang Sudrajat menilai, penjelasan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil terkait alasan pembangunan kolam renang di Gedung Pakuan, tidak masuk akal dan kurang dipahami publik.

Menurut Undang, alasan pembangunan kolam karena Gubernur Ridwan Kamil sakit lutut malah menambah polemik di publik.

"Memperhatikan dan menganalisis respons publik di media sosial terkait pembangunan kolam renang, sebagian besar negatif atau tidak setuju. Penjelasan yang disampaikan oleh Gubermur tidak meredakan kegaduhan publik," kata Undang kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (17/11/2019).

Undang menyebutkan beberapa alasan publik kurang menerima penjelasan dari Gubernur Ridwan Kamil. Pertama, bahwa rencana rehab rumah dinas Gubernur atau Pakuan sudah diusulkan jauh jauh hari pada tahun 2018.

Baca juga: Proyek Kolam Renang Rp 1,5 Miliar Ridwan Kamil Jadi Sorotan, Ini Faktanya

 

Bahkan, kata Undang, Kepala Biro Umum Iip Hidayat menyatakan bahwa rencananya telah ada sebelum dia menjabat, atau tahun lalu.

"Pertanyaannya, apakah Gubernur sakit lutut sejak tahun lalu? Sementara, kegiatan olahraga Gubernur bersepeda terlihat dalam beberapa kesempatan di tahun 2019. Mestinya, kan dihindari (naik sepeda) kalau memang sejak tahun lalu lututnya cedera," kata Undang.

Kedua, mestinya dokter yang memeriksa gubernur memberikan penjelasan ke publik terkait cedera kaku. Kapan waktu cidera, seberapa parah, dan seperti apa pemulihannya.

"Ibarat pemain sepak bola profesional, ketika cedera bisa dijelaskan soal keparahannya dan berapa lama waktu pemulihan. Termasuk apakah dengan berenang cara paling efektif atau ada cara lain secara medis lebih efektif," kata Undang.

Penjelasan itu untuk meyakinkan publik bahwa memang argumen yang disampaikan gubernur bisa dipahami oleh publik.

Pengamat kebijakan publik Dr Undang Sudrajat.handout Pengamat kebijakan publik Dr Undang Sudrajat.

Alasan ketiga publik kurang memahami penjelasan Gubernur terkait proyek kolam renang itu adalah adanya kesan mencari pembenaran bahwa apa yang dilakukan sekarang, juga dilakukan juga oleh Gubernur Ahmad Heryawan, yaitu dengan membangun masjid dan lapangan tenis.

Pembandingan itu, menurut Undang, bisa saja dilakukan tetapi kurang pas. Sebab, penambahan fasilitas oleh Ahmad Heryawan sifatnya bukan untuk personal.

Tokoh masyarakat Jawa Barat Dr Tatang Farhanul Hakim MPd menilai, pembangunan kolam renang bukan skala prioritas.

Menurutnya, di Jawa Barat masih banyak masalah infrastruktur yang membutuhkan perhatian, mulai dari infrastruktur pendidikan, kesehatan dan lainnya.

"Gubernur sepertinya tidak memahami skala prioritas pembangunan. Kalau infrastruktur pendidikan dan kesehatan sudah bagus, baru silakan bikin kolam renang," kata mantan bupati Tasikmalaya dua periode ini, Minggu.

Kritik serupa disampaikan Sekretaris Ansor Kabupaten Tasikmalaya Fahmi Siddiq. Fahmi menilai, pembangunan kolam renang yang menelan biaya Rp 1,5 miliar itu tidak penting. Malah sebaliknya, program yang penting untuk kemasalahatan umat malah terkesan kurang diperhatikan.

"Ada pun program 'satu pesantren, satu produk unggulan' terkesan ekslusif dan seremonial. Tapi yang nggak penting malah teralisasi seperti kolam renang Pak Gubernur," kata Fahmi kepada Kompas.com, Minggu (17/11/2019).

Baca juga: Kontroversi Kolam Renang Rp 1,5 M di Rumah Dinas, Terapi Renang Kaki Ridwan Kamil yang Cidera dan Ruang Publik

Fahmi mengatakan, Ansor juga mendorong DPRD Jawa Barat untuk melakukan fungsinya sebagai pengawas pembangunan dan kebijakan pemerintah, bukan hanya ikut melegitimasinya.

"DPRD jangan hanya ikut beken dan melegitimasi program gubernur yang tak efektif, seperti penataan rumah dinas gubernur plus dengan kolam renangnya," katanya.

Kolam renang untuk terapi

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beralasan bahwa pembangunan kolam renang di rumah dinasnya bertujuan untuk terapi kakinya mengalami cedera.

"Jadi penambahan fasilitas olahraga itu sesuai kebutuhan, kebutuhannya sangat nyata, kaki saya cedera yang kiri. Dokter menyarankan supaya tetap fit, sebagai gubernur Jabar, tidak boleh lagi berolahraga yang sifatnya impact seperti lari atau loncat-loncat, harus terapi dengan namanya berenang. Maka dalam rutinitas masterplan, perbaikan yang namanya Pakuan saya arahkan dan setujui membuat kolam yang tidak terlalu besar," tutur Emil seusai rapat paripurna di Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Bandung, Jumat (15/11/2019).

Pria yang akrab disapa Emil ini membantah bahwa dirinya mengesampingkan program prioritas Provinsi Jawa Barat. Sebab, semua janji kampanyenya sedang ia kerjakan saat ini.

Baca juga: Ada Kolam Renang di Rumah Dinas Ridwan Kamil, Ini Fasilitasnya

 

Ia menjelaskan, proyek revitalisasi Gedung Pakuan wajar dilakukan mengingat hampir 20 tahun gedung bersejarah itu tak dipermak. Terlebih lagi, kata Emil, bangunan tua itu sudah berusia hampir 200 tahun. Ukarannya pun besar, seluas 2,3 hektare.

Penambahan fasilitas pun lumrah dilakukan, seperti yang pernah dibangun oleh beberapa gubernur sebelumnya.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X