Hari Pahlawan, Mengenal Rasuna Said "Sang Singa Betina" dan Martha Christina Tiahahu Berperang di Usia 17 Tahun

Kompas.com - 10/11/2019, 08:58 WIB
Rasuna Said  dan  Martha Christina Tiahahu adalah dua pahlawan perempuan di Indonesia BBC/Davies SuryaRasuna Said dan Martha Christina Tiahahu adalah dua pahlawan perempuan di Indonesia
Editor Rachmawati

KOMPAS.com- Indonesia memiliki dua sosok pahlawan perempuan yang namanya banyak terpampang. Mereka adalah Rasuna Said asal Sumatera Barat dan Martha Christina Tiahahu asal Maluku.

Nama Rasuna Said diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Jakarta dan sejumlah kantor dan hunian di Ibu Kota.

Sementara Martha Tiahahu menjadi nama sebuah taman di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Dilansir dari BBC Indonesia, Rasuna Said adalah seorang perempuan bangsawan Sumatera Barat berpredikat rangkayo. Nama lengkapnya, Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

Baca juga: Sejak 1958, 10 November Ditetapkan sebagai Hari Pahlawan

Sebagaimana dipaparkan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajang Jahroni, melalui tulisan berjudul "Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan" dalam buku Ulama Perempuan Indonesia (2002), Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat.

Ayah Rasuna, Muhammad Said, adalah seorang aktivis pergerakan dan cukup terpandang di kalangan masyarakat Minang.

Karena berasal dari keluarga bangsawan yang memperhatikan pendidikan, Rasuna disekolahkan. Namun, berbeda dengan saudara-saudaranya yang mengenyam pendidikan di sekolah umum yang didirikan Belanda, Rasuna memilih sekolah agama Islam.

Baca juga: Hari Pahlawan, Kisah Hotel Majapahit Surabaya yang Legendaris

Selepas sekolah dasar, dia belajar di pesantren Ar-Rasyidiyah dan menjadi satu-satunya santri perempuan.

Dari pesantren Ar-Rasyidiyah, Rasuna Said pindah ke Padang Panjang untuk bersekolah di Madrasah Diniyah Putri yang dikelola tokoh emansipasi perempuan Sumbar, Rahmah El Yunusiyah.

Pemikiran Rasuna mengenai kemerdekaan mulai dibentuk sejak dia bergabung dengan Sekolah Thawalib di Maninjau. Sekolah Thawalib sendiri didirikan oleh gerakan Sumatra Thawalib yang dipengaruhi oleh pemikiran Mustafa Kemal Ataturk, tokoh nasionalis-Islam dari Turki.

Baca juga: Kahar Muzakkir Jadi Pahlawan Nasional, Muhammadiyah Berterima Kasih ke Pemerintah

Rasuna Said adalah seorang perempuan bangsawan Sumatera Barat berpredikat rangkayo. Nama lengkapnya, Hajjah Rangkayo Rasuna Said. BBC/Davies Surya Rasuna Said adalah seorang perempuan bangsawan Sumatera Barat berpredikat rangkayo. Nama lengkapnya, Hajjah Rangkayo Rasuna Said.
Dalam catatannya, Jajang Jahroni menulis betapa Rasuna terinspirasi oleh pidato-pidato gurunya, H Udin Rahmani, seorang tokoh pergerakan kaum muda di Maninjau dan anggota Sarekat Islam.

"Ia tumbuh menjadi seorang pribadi yang progresif, radikal, dan pantang menyerah," tulis Jajang.

Di sekolah itu pula, Rasuna wajib mengikuti latihan pidato dan debat.

"[…] pidato-pidato Rasuna kadang-kadang laksana petir di siang hari," tulis A Hasymi dalam buku Semangat Merdeka, 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan dan Perjuangan Kemerdekaan (1985) seperti dikutip Jajang Jahroni.

Baca juga: Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Bagaimana Prosedurnya?

Pada 1926, di usia yang belia, 16 tahun, Rasuna Said memutuskan berkecimpung di ranah politik dengan menjadi sekretaris organisasi Sarekat Rakyat (SR) cabang Sumatera Barat. Tokoh sentral organisasi ini adalah Tan Malaka.

Empat tahun kemudian, Rasuna Said, yang juga tergabung dalam organisasi Sumatra Thawalib, turut merintis pendirian PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia). Pada 1932, PERMI resmi menjadi partai politik yang berlandaskan Islam dan kebangsaan.

Di PERMI, Rasuna bertugas di bagian seksi propaganda. Dia juga berperan mendirikan sekolah, tempat kader-kader muda partai diajar keterampilan membaca dan menulis.

Baca juga: INFOGRAFIK: Mengenal Ruhana Kuddus, Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2019

Dalam aktivitasnya sebagai propagandis, Rasuna kerap berorasi di hadapan publik yang mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Dalam catatan Jajang Jahroni, Rasuna mengecam cara Belanda memperbodoh dan memiskinkan bangsa Indonesia.

"Karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda, ia dijuluki 'singa betina'," sebut Jajang Jahroni dalam "Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Pergerakan" yang dimuat buku Ulama Perempuan Indonesia (2002).

Tak jarang di tengah pidatonya, Rasuna dipaksa berhenti dan diturunkan dari podium oleh aparat pemerintah kolonial Belanda yang khusus mengawasi kegiatan politik (PID).

Baca juga: Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, Ini Profil Prof Dr Sardjito

Puncaknya terjadi ketika Rapat Umum PERMI di Payakumbuh pada 1932. Saat Rasuna berpidato, datang aparat yang memaksanya berhenti. Ia pun ditangkap, diajukan ke pengadilan kolonial, kemudian dipenjara selama satu tahun dan dua bulan dengan dakwaan ujaran kebencian.

Karena ruang gerak PERMI di Minangkabau semakin dipersempit, Rasuna hijrah ke Medan. Di sana dia mulai kiprahnya di dunia jurnalistik bersama sejumlah majalah, termasuk Suntiang Nagari, Raya, dan Menara Poeteri.

Baca juga: Ini Profil Singkat 6 Pahlawan Nasional Baru

Rumah adat Minang di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada era pendudukan kolonial Belanda sebelum 1920.Sepia Times/Universal Images Group via Getty Image Rumah adat Minang di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada era pendudukan kolonial Belanda sebelum 1920.
Di Medan pula, Rasuna mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk kaum perempuan. Sebagaimana dipaparkan Jajang Jahroni, para murid di sekolah itu diajarkan betapa pentingnya peranan kaum perempuan dalam proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Lebih lanjut, perempuan punya hak setara dengan pria di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Selama era penjajahan Jepang sejak 1942, Rasuna Said terus berkiprah. Ia turut menggagas berdirinya perkumpulan Nippon Raya yang sebenarnya bertujuan untuk membentuk kader-kader perjuangan.

Baca juga: Jokowi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke 6 Tokoh Ini

Atas tindakannya ini, dia dituduh menghasut rakyat. Kepada seorang pembesar Jepang, berdasarkan literatur yang ditemukan Jajang Jahroni, Rasuna mengatakan "Boleh Tuan menyebut Asia Raya karena Tuan menang perang. tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini," kata Rasuna sambil menunjuk dadanya sendiri.

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia merdeka, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia, kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia mewakili Sumatera Barat.

Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas, mengatakan peran dan pengaruh Rasuna Said di Sumatera Barat era 1950-an memudar.

Baca juga: Saat Hari Pahlawan, Car Free Day di Solo Ditiadakan

"Karena mungkin dia dicap pro-pusat. Rasuna dikenal dekat dengan Presiden Soekarno dan penentang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)," kata Gusti kepada BBC News Indonesia.

Meski demikian, sosok Rasuna Said tidak kehilangan suara kritisnya.

Gusti Asnan mencatat pada 1953, dua tahun sebelum pemilihan umum 1955, Rasuna Said menekankan bahwa sentimen kedaerahan tidak bisa serta-merta dihilangkan.

"Perasaan provinsialisme yang sudah berabad-abad tumbuhnya, tidak mungkin dalam sedikit waktu bisa hilang dari jiwa!...Buat saya sendiri tidak menjadi soal, bahwa perasaan kedaerahan itu masih ada, ini sewajarnya saja (natuurlijk)."

Baca juga: Ini Enam Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

"Yang menjadi soal sekarang ialah: bagaimana akalnya buat memakai perasaan ini untuk menjadi kawan - di sini terletak kunstnya - sehingga dapat dipergunakan untuk melaksanakan SATU INDONESIA," cetus Rasuna dalam pidatonya di parlemen pada 1953.

Bagaimanapun, kedekatan Rasuna Said dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta membuatnya bertahan di pusaran politik Jakarta.

Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1 (2004) mengungkapkan, Rasuna Said juga masuk keanggotaan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) di Jakarta, lalu menjadi anggota parlemen, atau Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat.

Baca juga: Dua Tokoh Asal Yogyakarta Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Jabatan politik terakhir yang diembannya adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Pada 10 November 1965, setelah berjuang melawan penyakit kanker, Rasuna Said meninggal dunia pada usia 55 tahun.

Martha Christina Tiahahu

Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.BBC/Davies Surya Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.
Di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terdapat sebuah taman tempat warga Ibu Kota sejenak melepas penat. Taman itu bernama Martha Tiahahu.

Sejarah soal pejuang perempuan asal Maluku tersebut jarang diketahui. Literatur mengenai sosoknya pun terbilang langka.

Salah satu sumber yang kerap menjadi rujukan adalah buku berjudul Martha Christina Tiahahu yang disusun L.J.H. Zacharias terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1984.

Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.

Baca juga: Mengenang Ruhana Kuddus, dari Jurnalis Perempuan Pertama hingga Pahlawan Nasional

Martha tumbuh besar di tengah perubahan situasi politik di Maluku. Belanda, yang kekuasaannya di Maluku sempat digantikan Inggris antara 1810-1816, kembali berkuasa sesuai hasil Traktat London.

Berdasarkan penelitian literatur Humaidi, selaku dosen program studi Pendidikan Sejarah dari Universitas Negeri Jakarta, berkuasanya Belanda menimbulkan ketidakpuasan rakyat Maluku karena rakyat dipaksa menanam cengkih dan pala, pohon-pohon ditebang, dan para pemuda dipaksa masuk dinas kemiliteran.

Ketidakpuasan membuat seorang pria bernama Thomas Matulessy dan kawan-kawannya mengadakan rapat pada 3 Mei 1816 dengan kesimpulan memulai gerakan perlawanan.

Baca juga: Dua Tokoh Asal Yogyakarta Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Penduduk Banda Neira menggunakan perahu Kora-Kora saat melintasi perairan Banda. Kepulauan Maluku menjadi incaran penjajah Belanda dan Inggris karena kekayaan rempahnya. Lightrocket/Getty Images Penduduk Banda Neira menggunakan perahu Kora-Kora saat melintasi perairan Banda. Kepulauan Maluku menjadi incaran penjajah Belanda dan Inggris karena kekayaan rempahnya.
Setelah mengobarkan semangat perlawanan, pada 14 Mei 1817 diadakan pertemuan untuk memilih pemimpin perjuangan.

Kapiten Paulus Tiahahu dan kapiten-kapiten di sekitar Saparua lantas memercayakan komando kepada Kapiten Pattimura.

"Thomas Matulessy alias Pattimura adalah bekas sersan Mayor dari tentara milisi Inggeris," tulis Mattijs Sapija dalam Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia (1960: 201).
Hak atas foto Lightrocket/Getty Images
Image caption Penduduk Banda Neira menggunakan perahu 'Kora-Kora' saat melintasi perairan Banda. Kepulauan Maluku menjadi incaran penjajah Belanda dan Inggris karena kekayaan rempahnya.

Baca juga: Sepak Terjang Ruhana Kuddus, Penerima Gelar Pahlawan Nasional 2019

Tapi, berdasarkan catatan literatur, dalam pertemuan itu Kapiten Paulus Tiahahu juga meluluskan keinginan putrinya untuk ikut serta bergabung dengan pasukan perjuangan Pattimura.

Bahkan, Paulus mengajukan permintaan khusus kepada Pattimura:

"Saya akan turut serta dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda. Hanya ada satu permintaan, yaitu ijinkan anak saya Martha Christina ikut mendampingi saya dalam medan pertempuran. Ia telah memohon dengan sangat agar diperkenankan memanggul senjata saya dan terus mendampingi saya," kata Paulus sebagaimana dicantumkan dalam buku yang disusun L.J.H. Zacharias.

Baca juga: Menyandang Nama Pahlawan Nasional, RSUP Ambon Pertama di Indonesia Timur

Thomas Matulessy mengizinkan Martha ikut berjuang. Sejak saat itu, pada usia 17 tahun, Martha Christina Tiahahu mulai bergabung dalam gerakan perlawanan.

Humaidi, dosen program studi Pendidikan Sejarah dari Universitas Negeri Jakarta, menilai itulah tonggak sejarah dalam perjuangan rakyat Maluku melawan penjajah Belanda.

"Bayangkan, seorang remaja perempuan di dalam masyarakat patriarkat, turut bertempur. Itu tidak hanya menunjukkan kegigihan Martha Christina, tapi juga semangat rakyat Maluku yang mengerahkan segala kemampuan untuk berjuang. Tidak lagi pandang gender dan agama," kata Humaidi, sekaligus merujuk beberapa teman seperjuangan Pattimura yang beragama Islam dan Kristen.

Baca juga: Tahap Pertama, Pembangunan Museum Pahlawan di Salatiga Dianggarkan Rp 1,9 Miliar

Sekelompok pemuda Maluku memperagakan tarian Cakalele. Tarian yang sama dilakoni Martha Christina Tiahahu saat melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Antara/JIMMY AYAL Sekelompok pemuda Maluku memperagakan tarian Cakalele. Tarian yang sama dilakoni Martha Christina Tiahahu saat melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Perlawanan Martha Christina dan beragam elemen pasukan yang dikomandoi Pattimura berhasil.

Benteng Duurstede jatuh ke tangan pasukan Pattimura pada 17 Mei 1817.

Akan tetapi, Belanda melawan balik. Beberapa bulan kemudian, Belanda menangkap Pattimura dan melancarkan serangan umum. Martha memimpin pasukan tempur perempuan dengan ikat kepala melingkar.

"Dalam suasana pertempuran bukan saja ia telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi juga telah ikut serta dengan pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya," ujar perwira Belanda Verheul yang dikutip L.J.H Zacharias dalam bukunya.

Baca juga: 4 Oktober 1965, 7 Jenazah Pahlawan Revolusi Dievakuasi dari Sumur Lubang Buaya

Beberapa kapiten ditangkap, termasuk Paulus Tiahahu dan anaknya Martha.

Dalam pemeriksaan pada 15 November 1817, Paulus dijatuhi hukuman mati.

17 November, Paulus Tiahahu dieksekusi hukuman mati di Nusa Laut. Adapun Martha Christina, karena umurnya dianggap masih muda, tidak dijatuhi hukuman mati. Martha berusaha membujuk para pejabat Belanda agar dirinya menggantikan ayahnya dalam menjalani hukuman.

Baca juga: Jejak BJ Habibie di Kota Pahlawan Surabaya

Akhir Desember 1817, kapal Eversten mengangkut Martha Christina ke Pulau Jawa untuk diperkerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Dia mogok makan, mogok pengobatan dan menolak berkomunikasi.

Kesehatannya memburuk dan wafat pada 2 Januari 1818 dalam perjalanan ke Jawa, tepatnya di antara Pulau Buru dan Manippa. Jasadnya dibuang di Laut Banda.

Surat Keputusan Presiden RI Nomor 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tiahahu secara resmi diakui sebagai pahlawan nasional.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemuda 19 Tahun Tewas dengan Tubuh Penuh Luka, Diduga Dianiaya Sejumlah Temannya

Pemuda 19 Tahun Tewas dengan Tubuh Penuh Luka, Diduga Dianiaya Sejumlah Temannya

Regional
Kisah Dalang Jenggleng, Gunakan Cara Abnormal hingga Kuis Berhadiah

Kisah Dalang Jenggleng, Gunakan Cara Abnormal hingga Kuis Berhadiah

Regional
Ini Sosok di Balik Heboh Pasutri di Cianjur Bayar Persalinan Pakai Uang Koin

Ini Sosok di Balik Heboh Pasutri di Cianjur Bayar Persalinan Pakai Uang Koin

Regional
Reklamasi Laut di Bangka, Ada Sarang untuk Cumi Bertelur

Reklamasi Laut di Bangka, Ada Sarang untuk Cumi Bertelur

Regional
Polisi Bisa Identifikasi Kerangka Manusia di Rumah Kosong Bandung, Asal...

Polisi Bisa Identifikasi Kerangka Manusia di Rumah Kosong Bandung, Asal...

Regional
Kerangka Manusia Ditemukan Duduk di Sofa, Tetangga: Harusnya Ada Lalat dan Bau

Kerangka Manusia Ditemukan Duduk di Sofa, Tetangga: Harusnya Ada Lalat dan Bau

Regional
Melacak Jejak Pembalakan Liar Hutan Lindung Sendiki yang Mulai Gundul

Melacak Jejak Pembalakan Liar Hutan Lindung Sendiki yang Mulai Gundul

Regional
PHRI Manggarai Barat Dukung Rencana Jokowi soal G20 di Labuan Bajo

PHRI Manggarai Barat Dukung Rencana Jokowi soal G20 di Labuan Bajo

Regional
Cerita Ganjar Soal Deklarasi Keraton Agung Sejagat: Kena Hukum Alam Kalau Tak Dukung, Wah, Ini Nakut-Nakutin

Cerita Ganjar Soal Deklarasi Keraton Agung Sejagat: Kena Hukum Alam Kalau Tak Dukung, Wah, Ini Nakut-Nakutin

Regional
Jokowi Akan Serahkan 2.500 Sertifikat Tanah untuk Warga Manggarai Barat

Jokowi Akan Serahkan 2.500 Sertifikat Tanah untuk Warga Manggarai Barat

Regional
2 Pekan Tak Hujan, Lahan Padi di Jember Retak karena Kekeringan

2 Pekan Tak Hujan, Lahan Padi di Jember Retak karena Kekeringan

Regional
29 Pemuda Satu Kampung Diamankan Polisi, 19 Orang Positif Narkoba dan 10 Orang Beli Sabu

29 Pemuda Satu Kampung Diamankan Polisi, 19 Orang Positif Narkoba dan 10 Orang Beli Sabu

Regional
Wali Kota Hendi Berikan Penghargaan kepada 2 Dalang Wayang Potehi

Wali Kota Hendi Berikan Penghargaan kepada 2 Dalang Wayang Potehi

Regional
Situs PN Kepanjen Diretas, Isinya Protes Kasus Pelajar yang Bunuh Begal

Situs PN Kepanjen Diretas, Isinya Protes Kasus Pelajar yang Bunuh Begal

Regional
BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega

BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X