Hari Pahlawan, Mengenal Rasuna Said "Sang Singa Betina" dan Martha Christina Tiahahu Berperang di Usia 17 Tahun

Kompas.com - 10/11/2019, 08:58 WIB
Rumah adat Minang di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada era pendudukan kolonial Belanda sebelum 1920. Sepia Times/Universal Images Group via Getty ImageRumah adat Minang di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada era pendudukan kolonial Belanda sebelum 1920.
Editor Rachmawati

Karena ruang gerak PERMI di Minangkabau semakin dipersempit, Rasuna hijrah ke Medan. Di sana dia mulai kiprahnya di dunia jurnalistik bersama sejumlah majalah, termasuk Suntiang Nagari, Raya, dan Menara Poeteri.

Baca juga: Ini Profil Singkat 6 Pahlawan Nasional Baru

Di Medan pula, Rasuna mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk kaum perempuan. Sebagaimana dipaparkan Jajang Jahroni, para murid di sekolah itu diajarkan betapa pentingnya peranan kaum perempuan dalam proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Lebih lanjut, perempuan punya hak setara dengan pria di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Selama era penjajahan Jepang sejak 1942, Rasuna Said terus berkiprah. Ia turut menggagas berdirinya perkumpulan Nippon Raya yang sebenarnya bertujuan untuk membentuk kader-kader perjuangan.

Baca juga: Jokowi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke 6 Tokoh Ini

Atas tindakannya ini, dia dituduh menghasut rakyat. Kepada seorang pembesar Jepang, berdasarkan literatur yang ditemukan Jajang Jahroni, Rasuna mengatakan "Boleh Tuan menyebut Asia Raya karena Tuan menang perang. tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini," kata Rasuna sambil menunjuk dadanya sendiri.

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia merdeka, Rasuna bergabung dengan Badan Penerangan Pemuda Indonesia, kemudian menjadi anggota Komite Nasional Indonesia mewakili Sumatera Barat.

Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas, mengatakan peran dan pengaruh Rasuna Said di Sumatera Barat era 1950-an memudar.

Baca juga: Saat Hari Pahlawan, Car Free Day di Solo Ditiadakan

"Karena mungkin dia dicap pro-pusat. Rasuna dikenal dekat dengan Presiden Soekarno dan penentang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)," kata Gusti kepada BBC News Indonesia.

Meski demikian, sosok Rasuna Said tidak kehilangan suara kritisnya.

Gusti Asnan mencatat pada 1953, dua tahun sebelum pemilihan umum 1955, Rasuna Said menekankan bahwa sentimen kedaerahan tidak bisa serta-merta dihilangkan.

"Perasaan provinsialisme yang sudah berabad-abad tumbuhnya, tidak mungkin dalam sedikit waktu bisa hilang dari jiwa!...Buat saya sendiri tidak menjadi soal, bahwa perasaan kedaerahan itu masih ada, ini sewajarnya saja (natuurlijk)."

Baca juga: Ini Enam Tokoh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

"Yang menjadi soal sekarang ialah: bagaimana akalnya buat memakai perasaan ini untuk menjadi kawan - di sini terletak kunstnya - sehingga dapat dipergunakan untuk melaksanakan SATU INDONESIA," cetus Rasuna dalam pidatonya di parlemen pada 1953.

Bagaimanapun, kedekatan Rasuna Said dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta membuatnya bertahan di pusaran politik Jakarta.

Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Volume 1 (2004) mengungkapkan, Rasuna Said juga masuk keanggotaan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) di Jakarta, lalu menjadi anggota parlemen, atau Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat.

Baca juga: Dua Tokoh Asal Yogyakarta Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Jabatan politik terakhir yang diembannya adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Pada 10 November 1965, setelah berjuang melawan penyakit kanker, Rasuna Said meninggal dunia pada usia 55 tahun.

 

Martha Christina Tiahahu

Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.BBC/Davies Surya Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.
Di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, terdapat sebuah taman tempat warga Ibu Kota sejenak melepas penat. Taman itu bernama Martha Tiahahu.

Sejarah soal pejuang perempuan asal Maluku tersebut jarang diketahui. Literatur mengenai sosoknya pun terbilang langka.

Salah satu sumber yang kerap menjadi rujukan adalah buku berjudul Martha Christina Tiahahu yang disusun L.J.H. Zacharias terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1984.

Martha diperkirakan lahir pada 4 Januari 1800 di Nusa Laut, sebuah pulau berjarak sekitar 70 kilometer dari Kota Ambon, Maluku. Ayahnya adalah Kapiten Paulus Tiahahu, orang terpandang di Nusa Laut.

Baca juga: Mengenang Ruhana Kuddus, dari Jurnalis Perempuan Pertama hingga Pahlawan Nasional

Martha tumbuh besar di tengah perubahan situasi politik di Maluku. Belanda, yang kekuasaannya di Maluku sempat digantikan Inggris antara 1810-1816, kembali berkuasa sesuai hasil Traktat London.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Detik-detik Jazz Tabrak Truk Parkir hingga Membuat 1 Penumpang Tewas

Detik-detik Jazz Tabrak Truk Parkir hingga Membuat 1 Penumpang Tewas

Regional
Sulut Kembali Catatkan Rekor Penambahan Kasus Covid-19, Diduga akibat Libur Akhir Tahun

Sulut Kembali Catatkan Rekor Penambahan Kasus Covid-19, Diduga akibat Libur Akhir Tahun

Regional
Saat Bermain, Anak-anak Temukan Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya Air SJ 182

Saat Bermain, Anak-anak Temukan Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya Air SJ 182

Regional
Mesum di Kamar Hotel dengan Wanita Lain, Oknum PNS Digerebek Istri, Begini Ceritanya

Mesum di Kamar Hotel dengan Wanita Lain, Oknum PNS Digerebek Istri, Begini Ceritanya

Regional
Tipu Warga soal Jual Beli Tanah, Oknum Kades di Demak Ditahan

Tipu Warga soal Jual Beli Tanah, Oknum Kades di Demak Ditahan

Regional
Wakil Ketua DPRD Jadi Tersangka Kasus Perusakan Hutan

Wakil Ketua DPRD Jadi Tersangka Kasus Perusakan Hutan

Regional
Kapal Nelayan Karam Ditabrak Kapal Tanker, 12 ABK Hilang, Hanya 2 Selamat

Kapal Nelayan Karam Ditabrak Kapal Tanker, 12 ABK Hilang, Hanya 2 Selamat

Regional
Karyawan BRI Alihkan Dana KUR untuk Beli Motor Bekas, Negara Rugi Rp 1 M

Karyawan BRI Alihkan Dana KUR untuk Beli Motor Bekas, Negara Rugi Rp 1 M

Regional
Haji Permata Tewas Tertembak, Massa KKSS Datangi Bea Cukai Kepri

Haji Permata Tewas Tertembak, Massa KKSS Datangi Bea Cukai Kepri

Regional
Hari Ini Kasus Covid-19 di Bali Meroket, Tertinggi sejak Pandemi, Ini Penyebabnya

Hari Ini Kasus Covid-19 di Bali Meroket, Tertinggi sejak Pandemi, Ini Penyebabnya

Regional
Permukiman di Medan Ini Banjir Selama 1,5 Bulan, Begini Penjelasan Dinas PU

Permukiman di Medan Ini Banjir Selama 1,5 Bulan, Begini Penjelasan Dinas PU

Regional
Keraton Yogyakarta Bantah Adanya Pencopotan Jabatan GBPH Prabukusumo

Keraton Yogyakarta Bantah Adanya Pencopotan Jabatan GBPH Prabukusumo

Regional
Sedang Antre Diperbaiki, Satu Kapal Tongkang Batu Bara Kembali Terdampar di Tegal

Sedang Antre Diperbaiki, Satu Kapal Tongkang Batu Bara Kembali Terdampar di Tegal

Regional
Cabuli 13 Anak, Seorang Penjaga Masjid Diancam Hukuman Kebiri

Cabuli 13 Anak, Seorang Penjaga Masjid Diancam Hukuman Kebiri

Regional
Penyebar Kabar Hoaks Meninggalnya Mayor Sugeng Setelah Divaksin Ternyata Napi Kasus Pembunuhan, Pelaku Ditangkap

Penyebar Kabar Hoaks Meninggalnya Mayor Sugeng Setelah Divaksin Ternyata Napi Kasus Pembunuhan, Pelaku Ditangkap

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X