Selain Hog Cholera, Babi yang Mati di Sumut Terindikasi Terserang Virus Demam Babi Afrika

Kompas.com - 07/11/2019, 19:57 WIB
Beberapa orang sedang melakukan uji lab di ruang virologi di Balai Veteriner Medan. Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia menyebut bahwa selain serangan hog cholera, pihaknya juga menemukan indikasi virus ASF. KOMPAS.COM/DEWANTOROBeberapa orang sedang melakukan uji lab di ruang virologi di Balai Veteriner Medan. Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia menyebut bahwa selain serangan hog cholera, pihaknya juga menemukan indikasi virus ASF.

MEDAN, KOMPAS.com - Kepala Balai Veteriner Medan Agustia mengatakan, sejak September hingga Oktober, pihaknya telah mengambil sampel babi yang mati di beberapa kabupaten di Sumatera Utara.

Hasilnya, selain mati karena terkena kolera babi, terindikasi babi juga diserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.

Indikasi itu melihat kasus kematian babi yang terus terjadi.

"Begini, kenapa saya katakan indikasi karena selama ini tidak pernah ada dan saya katakan sampai saat ini tidak ada serangan virus ASF, tapi kalau indikasi ASF, iya. Beda antara ada dan indikasi ya," ujar Agustia, saat ditemui di kantornya yang berada satu kompleks dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara, di Jalan Jenderal Gatot Subroto Medan, Kamis (7/11/2019).

Baca juga: Babi yang Mati di Sumut Dipastikan Bukan karena Virus Demam Babi Afrika

Untuk membuktikan bahwa benar virus ASf menyerang, harus dlakukan uji lab berkali-kali dan hasilnya disampaikan oleh atasannya.

Dalam hal ini, pihaknya melaporkan hasil uji lab ke Direktur Jenderal Penyakit dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.  

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dijelaskan Agustia, virus ASF ini belum pernah ada di Indonesia. Serangannya cepat dan sistemik.

Babi yang diserang tidak kelihatan sakit, tapi bisa tiba-tiba mati. Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ.

Dicontohkannya, di hari pertama hingga sepekan serangan, babi tidak terlihat sakit tapi selanjutnya mati. Ada juga yang dalam sepekan serangan, babi tidak langsung mati.

Babi tersebut menjadi sumber penyebar virus.

"Dan ASF ini, di dunia ini belum ada obatnya. Vaksinnya belum ada, jadi itu yang membedakannya dengan hog cholera yang vaksinnya sudah ada," kata dia.

Menurutnya, babi yang terserang virus ASF ini masih bisa dikonsumsi. Namun, harus dimasak dengan suhu 100 derajat celsius.

"Iya, masih bisa dikonsumsi tapi harus dimasak dulu. Kenapa masih bisa dikonsumsi karena tidak zoonosis, tidak menular kepada manusia, tapi pig to pig," ujar Agustia. 

Agustia menambahkan, untuk menghindari penyebaran lebih luas, perlu ada perlakuan di lapangan yang harus mengikuti standar ASF. 

Pertama, masyarakat tidak membeli ternak babi yang harganya murah. Kedua, masyarakat juga harus menerapkan bio sekuriti, yakni tidak saling menjenguk ternak yang sakit. 

Ketiga, bangkai babi tidak dibuang ke sungai atau ke hutan melainkan dikubur. Keempat, perlu dilakukan pengetatan lalu lintas ternak dan menjaga sanitasi kandang.

Kandang harus sesering mungkin dicuci.  

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara Azhar Harahap mengatakan, virus hog cholera sudah mewabah di 11 kabupaten dan mematikan 4.682 ekor babi.

Baca juga: Menelisik Fakta Ratusan Babi Mati di Medan, Hoaks Serang Manusia hingga Peternak Rugi Ratusan Juta

 

Dia juga menduga kuat bahwa bangkai babi yang mengapung di Sungai Bedera maupun Danau Siombak disebabkan hog cholera.  

Namun, Azhar membantah bahwa babi yang mati karena terserang ASF atau virus demam babi Afrika.  

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.