Kompas.com - 03/11/2019, 18:12 WIB
Toko pusat Tahu Bungkeng, perintis tahu sumedang tetap berdiri di tempatnya sejak tahu 1917 di Jalan 11 April Sumedang, Lingkungan Tegalkalong, Kelurahan Talun, Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat. AAM AMINULLAH/KOMPAS.com KOMPAS.COM/AAM AMINULLAHToko pusat Tahu Bungkeng, perintis tahu sumedang tetap berdiri di tempatnya sejak tahu 1917 di Jalan 11 April Sumedang, Lingkungan Tegalkalong, Kelurahan Talun, Sumedang Utara, Sumedang, Jawa Barat. AAM AMINULLAH/KOMPAS.com

SUMEDANG, KOMPAS.com - Siapa tak kenal kuliner khas asal Kabupaten Sumedang, Jawa Barat yang satu ini.

Bahkan, saking tersohornya, nama kabupaten bekas Kerajaan Sumedanglarang ini pun turut terdongkrak popularitasnya.

Ya, berkat tahu sumedang yang melegenda dan sudah ada sejak tahun 1900-an ini pula, Kabupaten Sumedang lebih dikenal sebagai Kota Tahu.

Di balik nama, rasa, dan kekhasannya yang melegenda itu, ada sosok inovatif sehingga warga Indonesia pada umumnya bisa mengenal sekaligus mencicipi rasanya yang gurih dan nikmat hingga saat ini.

Tahu sumedang juga diyakini sebagai produk satu-satunya di Indonesia. Bahkan dunia, karena di negara asalnya sendiri, yaitu China, tak dijumpai tahu seperti layaknya bentuk dan rasa tahu sumedang.

Baca juga: Penjualan Tahu Sumedang Turun Drastis karena Tol Cipali, Pengusaha Ini Merintis Kafe Kopi

Menurut generasi keempat perintis tahu sumedang, yaitu Ong Che Ciang, atau Suriadi (52), tahu sumedang dikenalkan kali pertama oleh uyutnya, yaitu Ong Kino sekitar tahun 1900-an.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ong Kino, kata Suriadi, merupakan keturunan China dan sejak tahun 1900-an itu sudah berada di Indonesia, menetap di Lingkungan Tegalkalong, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.

"Menurut cerita ayah saya, pertama kali Ong Kino mengenalkan tahu sumedang ini hanya sebatas untuk dikonsumsi keluarga. Karena katanya dulu ekonomi lagi sulit, tofu (tahu) yang saat itu ukurannya besar-besar dipotong kecil-kecil seperti sekarang," ujar Suriadi kepada KOMPAS.com di toko pusat tahu sumedang Bungkeng di Jalan Raya 11 April, Sumedang, Jumat (1/11/2019) siang.

Selain dinikmati oleh keluarga, kata Suriadi, tahu sumedang inovasi uyutnya, Ong Kino ini juga kerap disuguhkan kepada tetangga dan tamu yang datang.

Namun, tahu sumedang inovasi Ong Kino ini baru populer setelah dikenalkan oleh salah satu anak dari Ong Kino, yaitu Ong Bung Keng.

"Pada tahun 1917, kakek saya, Ong Bung Keng datang ke Sumedang dari China untuk menemui bapaknya, Ong Kino atau di sini lebih dikenal Babah Eno," tutur Suriadi.

Saat itulah, kata Suriadi, Ong Bung Keng tertarik dengan tahu buatan Ong Kino, yang dinilai bisa lebih mudah dipasarkan karena ukurannya kecil, rasanya gurih, berbeda dengan tahu kuning, tahu putih pada umumnya, yang saat itu sudah ada.

Baca juga: Satu Abad Tahu Sumedang, Olahan Ong Bungkeng yang Jadi Ikon Sumedang

Dengan ketekunannya, Ong Bung Keng kemudian belajar dari ayahnya dalam membuat tahu.

Mulai dari penguasaan resep, proses produksi, hingga tahap penggorengan, ia (Ong Bung Keng) kerjakan.

"Dulu proses produksi, penggorengan dan penjualannya juga di sini (toko pusat saat ini). Dulu itu namanya Jalan Tegalkalong, sekarang Jalan 11 April," kata Suriadi.

Pada awal tahun 1917 , kata Suriadi, meski baru mulai dijual secara umum, namun, citarasa dan kenikmatan tahu buatan Ong Kino yang dijual Ong Bung Keng ini telah diakui oleh Bupati Sumedang kala itu, Pangeran Aria Soeriaatmadja, yang memerintah Sumedang kurun tahun 1883-1919.

"Saat itu, Bupati Sumedang (Pangeran Aria) bilang tahunya enak, dan pasti laku. Ucapan itu terbukti hingga sekarang orang suka tahu sumedang," kata Suriadi.

Sejak saat itu, kata Suriadi, karen dijual dan diproduksi oleh Ong Bung Keng, tahu inovasi dari Ong Kino ini dikenal sebagai Tahu Bungkeng.

Dan hingga saat ini, nama tersebut terus dipakai sebagai nama dagang.

Tahu sumedang sendiri, kata Suriadi, menemui masa kejayaannya pada tahun 1980-an.

Di mana, di tengah tingginya permintaan, mulai banyak pula bermunculan produk serupa di pasaran. Hingga akhirnya tahu inovasi Ong Kino ini dikenal sebagai tahu sumedang.

"Jaya-jayanya tahu sumedang itu sekitar tahun 1980-an. Dan sampai tahun 2015-an permintaan masih tetap tinggi. Tapi sejak tahun 2016, penjualan mulai lesu. Penyebabnya apa kurang tahu juga, mungkin karena daya beli masyarakatnya turun atau karena apa kurang paham juga," sebut Suriadi.

Suriadi menuturkan, rahasia tahu sumedang, khususnya Tahu Bungkeng bertahan hingga 1 abad atau sudah mencapai 102 tahun pada 2019 ini adalah karena kualitas air di Kabupaten Sumedang yang baik.

Sebab, kata Suriadi, selain harus menggunakan kedelai yang bagus dan menghasilkan sari pati yang banyak, kualitas tahu akan baik jika air yang digunakan juga baik.

Dahulu, kata Suriadi, kualitas kedelai di Sumedang sangat baik, di mana Sumedang punya kedelai jenis lurik.

Kedelai jenis ini, kata Suriadi, menghasilkan sari pati yang baik dan banyak.

Sedangkan, air yang digunakan, sampai saat ini wajib menggunakan sumber mata air asli, langsung dari tanah.

"Rahasia utamanya air ya. Karena, kualitas air di Sumedang saat ini masih baik, pencemarannya (lingkungan) belum berpengaruh ke kualitas air tanahnya. Jadi kalau airnya baik, kualitas tahunya juga akan sangat baik, tahunya bisa bertahan hingga 1, 5 hari," kata Suriadi.

Suriadi menambahkan, Tahu Bungkeng sendiri, saat ini memiliki lima outlet di Sumedang dan satu outlet di Kota Bandung.

Perjalanan bisnis Tahu Bungkeng sendiri telah bertahan selama 102 tahun dan berlangsung secara estafet atau turun temurun.

Mulai dari sang pelopor uyut Ong Kino, sang kakek Ong Bung Keng, sang ayah Ong Yu Kim, hingga dirinya.

Ong Che Ciang atau Suriadi, sebagai penerus generasi keempat.

"Meskipun sekarang ini (penjualannya) lagi lesu karena daya beli masyarakat turun, tapi tahu sumedang akan tetap punya pasarnya. Dan saya yakin akan tetap bertahan. Rahasianya sederhana, pertahankan citarasa dan terus kontinyu memproduksi."

"Soal sepi, semua pengusaha tahu sumedang sekarang ini mengeluh sepi, itu artinya kita tidak sendirian, dan masalahnya bukan di kitanya (pengusaha tahu), jadi ya produksi harus tetap jalan, harus kontinyu," kata Suriadi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tekan Dampak PPKM, Pemprov Jabar Akan Salurkan Bansos ke 1,9 Juta Keluarga

Tekan Dampak PPKM, Pemprov Jabar Akan Salurkan Bansos ke 1,9 Juta Keluarga

Regional
Serapan Anggaran Covid-19 Jateng Capai 17,28 Persen, Bukan 0,15 Persen

Serapan Anggaran Covid-19 Jateng Capai 17,28 Persen, Bukan 0,15 Persen

Regional
Ridwan Kamil Janji Usulkan PPKM yang Lebih Proporsional kepada Pemerintah Pusat

Ridwan Kamil Janji Usulkan PPKM yang Lebih Proporsional kepada Pemerintah Pusat

Regional
Ikuti Rakor Virtual Kampanye 3M, Ridwan Kamil Usulkan Tiga Hal ke Pemerintah Pusat

Ikuti Rakor Virtual Kampanye 3M, Ridwan Kamil Usulkan Tiga Hal ke Pemerintah Pusat

Regional
BST Mulai Disalurkan di Semarang, Walkot Hendi Jelaskan Teknis Distribusinya

BST Mulai Disalurkan di Semarang, Walkot Hendi Jelaskan Teknis Distribusinya

Regional
Atasi Dampak Pandemi, Anggota DPRD PDIP hingga Wali Kota Hendi Serahkan Gajinya

Atasi Dampak Pandemi, Anggota DPRD PDIP hingga Wali Kota Hendi Serahkan Gajinya

Regional
Percepat Pemulihan DAS Citarum, Jabar Gandeng Monash University

Percepat Pemulihan DAS Citarum, Jabar Gandeng Monash University

Regional
Kepada Wapres, Ridwan Kamil: Berita Baik, BOR Jabar Turun Terus

Kepada Wapres, Ridwan Kamil: Berita Baik, BOR Jabar Turun Terus

Regional
Percepat Herd Immunity, Pemkot Semarang Lakukan Vaksinasi Keliling

Percepat Herd Immunity, Pemkot Semarang Lakukan Vaksinasi Keliling

Regional
Dibantu Dompet Dhuafa, Para Guru Ngaji di Lampung Bisa Berkurban

Dibantu Dompet Dhuafa, Para Guru Ngaji di Lampung Bisa Berkurban

Regional
Dinilai Efektif, Kebijakan Ridwan Kamil Atasi Covid-19 Disorot Media Australia

Dinilai Efektif, Kebijakan Ridwan Kamil Atasi Covid-19 Disorot Media Australia

Regional
Walkot Madiun Prioritaskan Pembagian Daging Kurban untuk Warga Isoman

Walkot Madiun Prioritaskan Pembagian Daging Kurban untuk Warga Isoman

Regional
Bantu Pulihkan Sektor Kesehatan dan Ekonomi, Disparbud Jabar Ajak Pelaku Ekraf Ikuti Vaksinasi

Bantu Pulihkan Sektor Kesehatan dan Ekonomi, Disparbud Jabar Ajak Pelaku Ekraf Ikuti Vaksinasi

Regional
Jika Kasus Covid-19 Turun, Pemkot Semarang Akan Longgarkan Pembatasan

Jika Kasus Covid-19 Turun, Pemkot Semarang Akan Longgarkan Pembatasan

Regional
Bantu Warga Selama PPKM Darurat, Ganjar Minta Kepala Daerah Keluarkan Bansos

Bantu Warga Selama PPKM Darurat, Ganjar Minta Kepala Daerah Keluarkan Bansos

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X