Khawatir Tsunami, Warga di Seram Barat Bangun Rumah di Pegunungan

Kompas.com - 31/10/2019, 10:35 WIB
Anak-anak pengungsi korban gempa di Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, belajar di tenda darurat di lokasi pengungsian, Jumat (18/10/2019). KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYAnak-anak pengungsi korban gempa di Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, belajar di tenda darurat di lokasi pengungsian, Jumat (18/10/2019).

AMBON, KOMPAS.com - Warga Dusun Waitasi, Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, saat ini mulai membangun rumah di kawasan pegunungan di desa tersebut.

Hal itu dilakukan pasca gempa magnitudo 6,8 yang mengguncang wilayah tersebut beberapa waktu lalu.

Warga memilih membangun rumah di kawasan perbukitan yang jauh dari perkampungan, karena warga terus dihantui kabar akan adanya gempa besar disertai tsunami di wilayah tersebut.

“Warga di sini banyak sudah yang membangun rumah seadanya di gunung,” kata Yati salah seorang warga Dusun Waitasi kepada Kompas.com, Rabu (30/10/2019).


Baca juga: Gadis 16 Tahun di NTT Diikat dan Dianiaya, Ini Motif Para Pelaku

Dia menjelaskan, hingga saat ini warga terus mengungsikan barang-barang berharga, termasuk barang-barang dapur ke lokasi pengungsian.

Warga berbondong-bondong membawa barang-barangnya ke gunung dan membuat rumah di perbukitan.

Warga merasa khawatir terjadi bencana gempa yang jauh lebih besar lagi.

“Di kampung ini semua masih mengungsi sampai saat ini. Mereka hanya datang untuk mengambil barang-barang dan setelah itu naik lagi ke gunung, katanya bulan November ini bertepatan bencana tsunami di Pulau Seram dulu,” kata Yati.

Warga lainnya, Abu Tamnge bersama sejumlah warga memilih mengungsi dan membuat rumah di pegunungan.

Menurut Abu, mereka mendapat informasi bahwa patahan baru di Kairatu itu bisa memicu bencana yang lebih besar.

Selain itu, semua warga memilih mengungsi meninggalkan kampung tersebut, karena patahan baru yang ditemukan di Kairatu itu berada tepat di depan pantai dusun tersebut.

“Apalagi jaraknya sangat dekat dengan kampung kita. Waktu kejadian gempa pertama saja jaraknya hanya sekitar 400 meter dari kampung dan sampai saat ini juga kita masih terus merasakan gempa susulan,” kata Abu.

Baca juga: Kisah Perjuangan Warga di Belu, Berburu Air untuk Bertahan Hidup

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pencemaran di Sungai Avur, Jombang, Diduga dari Pabrik Kertas

Pencemaran di Sungai Avur, Jombang, Diduga dari Pabrik Kertas

Regional
Petugas Masih Berupaya Evakuasi Kereta Api yang Terguling di Blora

Petugas Masih Berupaya Evakuasi Kereta Api yang Terguling di Blora

Regional
Aniaya PSK karena Tak Mau Bayar Usai Berkencan, Pria Ini Kabur Sambil Telanjang

Aniaya PSK karena Tak Mau Bayar Usai Berkencan, Pria Ini Kabur Sambil Telanjang

Regional
Pemkot Surabaya Cairkan Anggaran Pilkada Tahap Pertama Sebesar Rp 1 Miliar

Pemkot Surabaya Cairkan Anggaran Pilkada Tahap Pertama Sebesar Rp 1 Miliar

Regional
Kisah Kakak Beradik 18 Tahun Alami Kulit Melepuh jika Kena Matahari, Sempat Minta Dibunuh

Kisah Kakak Beradik 18 Tahun Alami Kulit Melepuh jika Kena Matahari, Sempat Minta Dibunuh

Regional
Menristek Tantang ITB Rancang Transportasi Kota Bandung Berbasis Kereta

Menristek Tantang ITB Rancang Transportasi Kota Bandung Berbasis Kereta

Regional
Proyek PLTA Jatigede Capai 73 Persen, September 2020 Siap Beroperasi

Proyek PLTA Jatigede Capai 73 Persen, September 2020 Siap Beroperasi

Regional
Oknum Guru SMP Pendamping Olimpiade Sains yang Cabuli Siswinya di Hotel Berstatus Honorer

Oknum Guru SMP Pendamping Olimpiade Sains yang Cabuli Siswinya di Hotel Berstatus Honorer

Regional
Kasus Bayi Penderita Hydrocephalus, RSUD dr Soetomo Fokus Perbaiki Status Gizinya

Kasus Bayi Penderita Hydrocephalus, RSUD dr Soetomo Fokus Perbaiki Status Gizinya

Regional
Ini Alasan Jaksa KPK Tuntut Mantan Kepala Imigrasi Mataram 7 Tahun Penjara

Ini Alasan Jaksa KPK Tuntut Mantan Kepala Imigrasi Mataram 7 Tahun Penjara

Regional
Mau Bertarung di Pilkada Sumbar, Dibutuhkan 'Isi Tas' Minimal Rp 30 Miliar

Mau Bertarung di Pilkada Sumbar, Dibutuhkan "Isi Tas" Minimal Rp 30 Miliar

Regional
Antisipasi Telur Mengandung Dioksin, Pengusaha Tahu di Sidoarjo Mulai Tinggalkan Bahan Bakar Plastik

Antisipasi Telur Mengandung Dioksin, Pengusaha Tahu di Sidoarjo Mulai Tinggalkan Bahan Bakar Plastik

Regional
Kronologi Bus yang Bawa Siswa SMA Terlibat Tabrakan Beruntun

Kronologi Bus yang Bawa Siswa SMA Terlibat Tabrakan Beruntun

Regional
Program Mensos: Satu Kabupaten/Kota Berdiri Dua Puskessos

Program Mensos: Satu Kabupaten/Kota Berdiri Dua Puskessos

Regional
Festival Mlaku Mlaku Nang Tunjungan Surabaya, Suguhkan Aneka Kuliner dari 240 UMKM

Festival Mlaku Mlaku Nang Tunjungan Surabaya, Suguhkan Aneka Kuliner dari 240 UMKM

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X