Driver Ojek Online yang Ditabrak Kendaraan Taktis Polisi Saat Demo Ricuh Tak Lagi Bisa Bekerja

Kompas.com - 21/10/2019, 18:18 WIB
Irfan Rahmatullah (37), pengemudi ojek online yang ditabrak kendaraan taktis milik polisi saat kericuhan aksi unjuk rasa mahasiswa di Jalan Urip Sumoharjo, tak lagi bisa bekerja, Senin (21/10/2019). KOMPAS.COM/HIMAWANIrfan Rahmatullah (37), pengemudi ojek online yang ditabrak kendaraan taktis milik polisi saat kericuhan aksi unjuk rasa mahasiswa di Jalan Urip Sumoharjo, tak lagi bisa bekerja, Senin (21/10/2019).

MAKASSAR, KOMPAS.com - Irfan Rahmatullah (37), driver ojek online di Makassar, tak lagi bisa bekerja setelah kendaraan taktis milik polisi menabrak Irfan saat aksi unjuk rasa di sekitar Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Jumat (27/9/2019).

Saat ini, Irfan hanya bisa terbaring di kasur kamarnya.

Irfan bercerita, saat kejadian ia baru saja mengantarkan istri dan anaknya, serta sedang mencari orderan penumpang.

"Begitu ke arah fly over, saya lihat orang berhamburan. Pas di depan Nipah Mal saya putar balik arah untuk lewat racing. Pas depan kantor gubernur sedikit lagi pembelokan racing center, tidak lama setelah itu saya ditabrak dari arah belakang," kata Irfan saat ditemui di rumahnya di Jalan Tidung VII, Kecamatan Rappocini, Makassar, Senin (21/10/2019).

Baca juga: Selain Lindas Mahasiswa, Kendaraan Taktis Polisi Juga Tabrak Driver Ojol

Kejadian itu menyebabkan Irfan harus dioperasi. Paha kirinya mengalami luka serius yang membuatnya tak bisa berdiri.

Irfan baru dioperasi setelah dua hari pasca-kejadian. 

Irfan menceritakan, sesaat setelah ditabrak, ada beberapa warga yang membawanya ke Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar untuk dioperasi.

Setelah sempat diberikan pertolongan pertama, dokter lalu menanyakan apakah kakinya mau dioperasi dengan pertimbangan harus membayar biaya di atas Rp 10 juta. 

"Dokter menanyakan mau operasi. Dokter tanyakan soalnya saya kan pasien umum. Saya bilang 'tunggu dulu dok. Saya harus berembuk dengan keluarga'. Keluarga tanyakan biayanya, dokter bilang Rp 10 juta ke atas. Estimasi Rp 20- Rp 30 juta," tutur Irfan. 

Biaya sebesar itu membuat Irfan pada akhirnya menolak untuk dioperasi.

Ia memilih melakukan pengobatan alternatif dengan pertimbangan biaya yang lebih murah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X