Pengungsi Korban Gempa: Anggota DPRD Hanya Datang Saat Pileg, Waktu Kami Susah Mereka Hilang

Kompas.com - 16/10/2019, 06:37 WIB
Kondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon, Selasa (15/10/2019). KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYKondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon, Selasa (15/10/2019).

AMBON, KOMPAS.com - Ribuan pengungsi korban gempa yang saat ini mengungsi di perbukitan hutan Dusun Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon, mengeluhkan minimnya bantuan pemerintah di lokasi pengungsian.

Para pengungsi mengaku meski sudah lebih dari dua pekan mengungsi di lokasi tersebut, mereka baru sekali mendapatkan bantuan, itu pun hanya mi instan dan air mineral.

Para pengungsi juga mengaku sangat kecewa karena pemerintah Kota Ambon maupun para wakil rakyat yang berasal dari daerah pemilihan Baguala seolah mengabaikan mereka.

Mereka seperti tidak dianggap, padahal sedang berada dalam kesusahan.

“Pejabat pemerintah Kota Ambon tidak pernah ke sini, tidak tahu kenapa. Anggota DPRD juga sama, mereka kalau butuh suara kita mereka datang seperti mau mengemis, tapi kalau kita sedang susah mereka menghilang,” kata Eddy Wattimena salah satu pengungsi kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi pengungsian tersebut, Selasa (15/10/2019).

Baca juga: Pengungsi Gempa Maluku Bisa Kembali Berobat Gratis di RS Darurat

Eddy mengatakan, ribuan pengungsi yang ada di perbukitan dusun tersebut selama ini tidak pernah diperhatikan pemerintah.

Kondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon. Tampak seorang ibu tidur bersama bayinya di dalam tenda darurat, Selasa (15/10/2019)KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY Kondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon. Tampak seorang ibu tidur bersama bayinya di dalam tenda darurat, Selasa (15/10/2019)
Padahal kondisi mereka sangat buruk karena lokasi pengungsian tempat mereka mengungsi tidak memiliki fasilitas mandi cuci dan kakus (MCK) serta air bersih.

“Di tempat lain MCK dan air bersih disediakan pemerintah, kita di sini tidak. Jadi kita ini seperti anak tiri saja,” ujar Eddy kesal.

Senada dengan Eddy, warga lainnya Ulis menilai anggota DPRD provinsi maupun Kota Ambon selama ini hanya  mendatangi mereka saat membutuhkan suara di pileg.

Namun, saat warga sedang kesulitan tak satu pun dari mereka yang mau mengunjungi lokasi pengungsian, apalagi datang membawa bantuan.

“Baru kemarin pileg mereka datang ke kita bicaranya manis sekali. Janjinya akan susah bersama masyarakat, akan siap mati memperjuangkan hak masyarakat padahal bohong semua,” ujar dia.

Pantauan Kompas.com di lokasi pengungsian, ada ratusan tenda darurat yang berdiri di kawasan itu.

Seorang pengungsi korban gempa memikul jerigen berisi air bersih untuk dibawa ke lokasi pengungsian di hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala Ambon, Selasa (15/10/2019)KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTY Seorang pengungsi korban gempa memikul jerigen berisi air bersih untuk dibawa ke lokasi pengungsian di hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala Ambon, Selasa (15/10/2019)
Di lokasi pengungsian juga ada banyak bayi, ibu hamil, dan juga lansia yang sangat membutuhkan bantuan.

Baca juga: BPJS Kesehatan Bantah Minta Pengungsi Korban Gempa Maluku Membayar Saat Berobat di RS Darurat

Kondisi di lokasi pengungsian ini tampak memperihatinkan lantaran sanitasi yang buruk dan tenda-tenda tempat tinggal para pengungsi sangat tidak layak. 

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Buang Bayinya di Tempat Sampah, Pasangan Ini Ditangkap Polisi

Buang Bayinya di Tempat Sampah, Pasangan Ini Ditangkap Polisi

Regional
Dampak PSBB Selama Pandemi, Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Subang Menurun

Dampak PSBB Selama Pandemi, Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Subang Menurun

Regional
Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Saat Pernikahan Anaknya, Ini Penjelasan Kades

Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Saat Pernikahan Anaknya, Ini Penjelasan Kades

Regional
Satu Perusahaan Minyak Sawit Ditutup gegara 9 Karyawan Positif Corona

Satu Perusahaan Minyak Sawit Ditutup gegara 9 Karyawan Positif Corona

Regional
Di Purbalingga, Tak Bermasker Dihukum Kerja Bakti di Kantor Kecamatan

Di Purbalingga, Tak Bermasker Dihukum Kerja Bakti di Kantor Kecamatan

Regional
Petugas Perlindungan Anak yang Cabuli Siswi SMP Korban Perkosaan Diduga Kabur

Petugas Perlindungan Anak yang Cabuli Siswi SMP Korban Perkosaan Diduga Kabur

Regional
Detik-detik Jembatan Gantung Putus, Warga Sakit yang Ditandu Tewas Usai Jatuh ke Sungai

Detik-detik Jembatan Gantung Putus, Warga Sakit yang Ditandu Tewas Usai Jatuh ke Sungai

Regional
Ada Klaster Komunitas Senam di Karawang, yang Positif Sudah 7 Orang

Ada Klaster Komunitas Senam di Karawang, yang Positif Sudah 7 Orang

Regional
Pungutan Sekolah Harus Dikembalikan, Kepsek: Kami Sudah Terlanjur Belikan Seragam untuk Siswa Baru

Pungutan Sekolah Harus Dikembalikan, Kepsek: Kami Sudah Terlanjur Belikan Seragam untuk Siswa Baru

Regional
Pulang Hadiri Wisuda Anak di Makassar, Seorang Guru di Manggarai Barat Positif Covid-19

Pulang Hadiri Wisuda Anak di Makassar, Seorang Guru di Manggarai Barat Positif Covid-19

Regional
Es Krim Pengantin Baru dan Maut Bocah 5 Tahun di Pasuruan...

Es Krim Pengantin Baru dan Maut Bocah 5 Tahun di Pasuruan...

Regional
Cemburu Ada Pria Lain, Kakek Aniaya Pacarnya hingga Meninggal

Cemburu Ada Pria Lain, Kakek Aniaya Pacarnya hingga Meninggal

Regional
Viral, Video Seorang Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Ingin Batalkan Pernikahan Anaknya

Viral, Video Seorang Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Ingin Batalkan Pernikahan Anaknya

Regional
Warga Lampung Tewas di Freezer Kapal Cina, Diduga Tergiur Loker Agen Ilegal di Facebook

Warga Lampung Tewas di Freezer Kapal Cina, Diduga Tergiur Loker Agen Ilegal di Facebook

Regional
Pungutan Masuk Sekolah Negeri hingga Jutaan Rupiah, Wali Murid Berharap Bisa Dicicil

Pungutan Masuk Sekolah Negeri hingga Jutaan Rupiah, Wali Murid Berharap Bisa Dicicil

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X