20 Hari Mengungsi di Hutan, Korban Gempa Hanya Dapat 5 Bungkus Mi Instan

Kompas.com - 15/10/2019, 19:46 WIB
Kondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon. Tampak seorang ibu tidur bersama bayinya di dalam tenda darurat, Selasa (15/10/2019) KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYKondisi pengungsi korban gempa yang mengungsi di perbukitan hutan Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon. Tampak seorang ibu tidur bersama bayinya di dalam tenda darurat, Selasa (15/10/2019)

AMBON,KOMPAS.com- Kondisi para pengungsi korban gempa bumi yang mengungsi di perbukitan hutan Dusun Tahola, Desa Passo, Kecamatan Baguala, Ambon sungguh memprihatinkan.

Meski sudah mengungsi sejak 20 hari yang lalu atau sejak gempa bermagnitudo 6,8 mengguncang wilayah tersebut, namun bantuan untuk para pengungsi ke perbukitan tersebut belum juga disalurkan.

Pantauan Kompas.com di perbukitan hutan tersebut, tampak ada ribuan pengungsi mulai dari anak-anak, bayi hingga lansia bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang tersebar di lokasi tersebut.


Baca juga: Korban Gempa Maluku yang Masih Dirawat di RS Capai Ribuan Orang

Warga memilih mengungsi di lokasi itu, selain karena merasa trauma dengan gempa susulan yang terus terjadi, juga karena rumahnya rusak parah akibat gempa.

Di lokasi pengungsian itu, tidak ada satu pun fasilitas mandi cuci dan kakus (MCK) yang disediakan, begitupun air bersih untuk keperluan para pengungsi.

Untuk kebutuhan air bersih, warga harus rela berjalan kaki ke bawah perbukitan yang jaraknya sekitar 2 km dari lokasi pengungsian.

“Air kita (pikol) ambil di bawah, kalau mau buang hajat itu yang susah karena tidak ada itu (MCK) disini semua turun ke bawah atau ke hutan,” salah satu pengungsi, Eddy Wattimena kepada Kompas.com, di lokasi pengungsian, Selasa (15/10/2019).  

Adapun untuk bantuan pengungsi, Eddy mengaku, sejak 20 hari mengungsi di lokasi itu sampai saat ini mereka hanya mendapat bantuan berupa mi instan 5 bungkus untuk setiap kepala keluarga dan air mineral enam botol.

Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak merata sehingga banyak pengungsi tidak mendapatkan haknya.

“Kita mengungsi di sini sudah sejak tanggal 26 tapi sampai saat ini tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Kita hanya dapat bantuan lima bungkus mi dan enam botol air mineral, tapi itu dari desa,” kata Eddy.

Baca juga: Pengungsi Korban Gempa Dipungut Biaya Saat Berobat di RS Darurat, Bupati Prihatin

Dia mengaku kesal lantaran banyak pengungsi yang rumah-rumahnya rusak namun tidak pernah mendapat bantuan apapun.

"Kita ini korban dan banyak yang rumahnya rusak, tapi bantuan itu tidak tahu ke mana, di sini terpal kita beli sendiri, kebutuhan lain juga kita beli sendiri, lalu bantuan-bantuan itu untuk siapa?”tanya Eddy.

Warga lainnya, Kristi Leatemia mengaku dia dan pengungsi lainnya sangat membutuhkan bantuan khususnya sembako, selimut dan makanan bayi, sebab mereka yang mengungsi di lokasi tersebut tidak pernah diperhatikan pemerintah.

“Kalau hujan tenda-tenda di sini tergenang, kami butuh selimut, juga sembako dan maknaan bayi itu tidak pernah kita dapatkan di sini, kami mohon karena banyak orangtua di sini juga sakit-sakitan karena tidur di tenda-tenda,”ungkapnya. 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harus Bayar Rp 800.000 Untuk Lauk 2 Ekor Ayam, Pembeli: Ayam Apa Ini?

Harus Bayar Rp 800.000 Untuk Lauk 2 Ekor Ayam, Pembeli: Ayam Apa Ini?

Regional
Warga Dikejutkan Penampakan Surili, Hewan Maskot PON Jabar 2016, Berkeliaran di Permukiman

Warga Dikejutkan Penampakan Surili, Hewan Maskot PON Jabar 2016, Berkeliaran di Permukiman

Regional
Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Jayapura Papua, Akibat Aktivitas Sesar Lokal

Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Jayapura Papua, Akibat Aktivitas Sesar Lokal

Regional
Ini Alasan 4 Keluarga Jokowi Berniat Maju Pilkada 2020

Ini Alasan 4 Keluarga Jokowi Berniat Maju Pilkada 2020

Regional
4 'Kerajaan' yang Pernah Gegerkan Warga, Keraton Agung Sejagat hingga Kerajaan Ubur-Ubur

4 'Kerajaan' yang Pernah Gegerkan Warga, Keraton Agung Sejagat hingga Kerajaan Ubur-Ubur

Regional
[POPULER NUSANTARA] Munculnya Kesultanan Selaco | Viral Tagihan 2 Ekor Ayam Rp 800.000

[POPULER NUSANTARA] Munculnya Kesultanan Selaco | Viral Tagihan 2 Ekor Ayam Rp 800.000

Regional
Ini Identitas 8 Korban Tewas Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang

Ini Identitas 8 Korban Tewas Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang

Regional
Wakil Gubernur Jabar: Sunda Empire dan Kesultanan Selaco Sah-sah Saja

Wakil Gubernur Jabar: Sunda Empire dan Kesultanan Selaco Sah-sah Saja

Regional
Kronologi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang yang Tewaskan 8 Orang

Kronologi Kecelakaan Bus Pariwisata di Subang yang Tewaskan 8 Orang

Regional
Ladang Ganja Ditemukan di Gunung Guntur Garut

Ladang Ganja Ditemukan di Gunung Guntur Garut

Regional
Bus yang Terguling dan Tewaskan 8 Orang Angkut Wisatawan dari Tangkuban Parahu

Bus yang Terguling dan Tewaskan 8 Orang Angkut Wisatawan dari Tangkuban Parahu

Regional
Satu Kantor Desa di Tasikmalaya Diduga Dibakar Orang Tak Dikenal

Satu Kantor Desa di Tasikmalaya Diduga Dibakar Orang Tak Dikenal

Regional
Korban Tewas Kecelakaan Bus di Subang Bertambah Jadi 8 Orang

Korban Tewas Kecelakaan Bus di Subang Bertambah Jadi 8 Orang

Regional
Sultan Putra Kusumah VIII: Kesultanan Selaco Cagar Budaya dan Diakui UNESCO

Sultan Putra Kusumah VIII: Kesultanan Selaco Cagar Budaya dan Diakui UNESCO

Regional
Dibekap, Jasad Dibuang ke Jurang, Anak Hakim Medan Ingin Pelaku Dihukum Seumur Hidup

Dibekap, Jasad Dibuang ke Jurang, Anak Hakim Medan Ingin Pelaku Dihukum Seumur Hidup

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X