Tuturangiana Andala, Tradisi Warga Pulau Makassar Mengetuk Pintu Rezeki di Laut

Kompas.com - 15/10/2019, 09:13 WIB
Masyarakat Pulau Makassar (Puma) yang berada di  Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menggelar tradisi ritual Tuturangiana Andala atau tradisi memberi sesajen di laut. Tradisi memberi sesajen ini digelar dengan tujuan membuka pintu ? pintu rezeki dari laut untuk masyarakat Puma yang mayoritas pekerjaannya adalah nelayan. KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKEMasyarakat Pulau Makassar (Puma) yang berada di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menggelar tradisi ritual Tuturangiana Andala atau tradisi memberi sesajen di laut. Tradisi memberi sesajen ini digelar dengan tujuan membuka pintu ? pintu rezeki dari laut untuk masyarakat Puma yang mayoritas pekerjaannya adalah nelayan.

BAUBAU, KOMPAS.com - Masyarakat Pulau Makassar (Puma) yang berada di  Kota Baubau,  Sulawesi Tenggara, menggelar tradisi ritual Tuturangiana Andala atau tradisi memberi sesajen di laut.

Tradisi memberi sesajen ini digelar dengan tujuan membuka pintu – pintu rezeki dari laut untuk masyarakat Puma yang mayoritas pekerjaannya adalah nelayan.

“Selain itu, mengambil niat utuk menolak bala terhadap ancaman-ancaman bahaya dari laut ketika beraktivitas di laut,” kata seorang Ketua Adat Puma, Armudin, saat ditemui disela-sela kegiatan ritual di Puma, Senin (14/10/2019). 

Kegiatan digelar masyarakat adat Puma sejak masa abad I8 Masehi.

Baca juga: Melihat Ritual Nyalin, Warisan Tradisi Agraris dari Karawang

Sajikan sesajen ke laut

Tradisi ini dimulai ketika puluhan lelaki yang menggunakan jubah adat Buton berjalan sambil membawa empat buah tempat sesajen. 

Kemudian mereka masuk ke dalam tenda yang di dalamnya telah ada tokoh adat, dan pemerintah daerah. 

Sesajen yang terbuat dari batang bambu ini kemudian diletakan di depan orang banyak dan kemudian diletakkan beraneka macam kue kering khas Buton di atas tempat sesajen. 

Seekor kambing disembelih dan darahnya kemudian dimasukkan ke dalam gelas dari batang bambu. 

Gelas dari batang bambu itu kemudian  diletakkan di dalam tempat sesajen bersama buah kelapa merah muda.

Keempat sesajen yang telah berisikan kue kering dan darah kambing tersebut kemudian dibawa ke laut dengan menggunakan perahu warga. 

Keempat sesajen tersebut kemudian diletakan keempat penjuru mata angin di laut yang dianggap keramat oleh warga nelayan Puma.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X