Pendapat Ahli soal Fenomena Ikan dan Biota Laut yang Mati di Maluku

Kompas.com - 14/10/2019, 15:47 WIB
Ratusan ikan dan jenis biota laut ditemukan mati terdampar di pantai Desa Lelinguan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Sabtu (12/10/2019). KOMPAS.com/RAHMAT RAHMAN PATTYRatusan ikan dan jenis biota laut ditemukan mati terdampar di pantai Desa Lelinguan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Sabtu (12/10/2019).

AMBON, KOMPAS.com - Ahli tsunami dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menanggapi soal terdamparnya ratusan ekor ikan dan biota laut di peraiaran Desa Lelingulan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku pada Sabtu (12/10/2019).

Terkiat kejadian itu, Muhari menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian yang menyimpulkan keterkaitan antara biota laut yang mati dengan aktivitas kegempaan di laut, yang biasanya bersumber pada lempeng dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.

“Biota-biota yang selama ini sering kali mati dalam jumlah besar kemudian terdampar di pantai adalah biota permukaan atau biota laut dangkal-karang, bukan biota laut dalam,” ujar Muhari dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (14/10/2019).

Muhari mengatakan, fenomena terdamparnya biota laut dangkal sering kali disebabkan oleh fenomena upwelling.

Fenomena upwelling biasanya menyebabkan arus naik ke permukaan yang biasanya membawa planton atau zat hara yang menjadi makanan biota laut dangkal

”Bukan merupakan efek aktivitas lempeng atau sesar,” ujar Muhari.

Muhari mengatakan, fenomena yang terjadi di pantai Tanimbar Utara itu tidak merujuk pada tanda-tanda akan muncul gempa besar.

Ahli perikanan

Sementara itu, ahli ikan dari Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Pattimura Ambon, J Mosse mengatakan, fenomena ikan mati di perairan Tanimbar Utara bisa terjadi karena beberapa faktor seperti karena faktor fisik, kimia maupun karena kondisi alam.

Mosse menerangkan, ikan maupun biota laut yang mati bisa disebabkan oleh adanya campur tangan manusia seperti penggunaan bom ikan maupun potasium.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X