Kisah Ruben dan Markus,12 Tahun Menunggu Hukuman Mati di Penjara

Kompas.com - 12/10/2019, 06:16 WIB
Jumlah vonis hukuman mati telah meningkat pesat, terutama sejak perang melawan narkoba digencarkan. Padahal, menurut para pegiat HAM, argumentasi hukuman mati untuk memberikan efek jera tak lagi relevan. Di sisi lain, beberapa terpidana mati menghabiskan hari-harinya di lapas dengan layanan kesehatan yang minim dan kualitas makanan tidak layak. Agoes Rudianto /Anadolu Agency/Getty ImagesJumlah vonis hukuman mati telah meningkat pesat, terutama sejak perang melawan narkoba digencarkan. Padahal, menurut para pegiat HAM, argumentasi hukuman mati untuk memberikan efek jera tak lagi relevan. Di sisi lain, beberapa terpidana mati menghabiskan hari-harinya di lapas dengan layanan kesehatan yang minim dan kualitas makanan tidak layak.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Jumlah vonis hukuman mati telah meningkat pesat, terutama sejak perang melawan narkoba digencarkan. Padahal, menurut para pegiat HAM, argumentasi hukuman mati untuk memberikan efek jera tak lagi relevan.

Di sisi lain, beberapa terpidana mati menghabiskan hari-harinya di lapas dengan layanan kesehatan yang minim dan kualitas makanan tidak layak.

Nasib Ruben Pata Sambo dan putranya, Markus Pata Sambo, terkatung-katung selama 12 tahun terakhir. Mereka menanti eksekusi hukuman mati yang belum dilakukan.

Vonis hukuman mati atas pembunuhan berencana yang dijatuhkan kepada mereka sempat menarik dunia internasional beberapa tahun lalu, karena proses hukumnya dianggap tidak sesuai prosedur.

Baca juga: Vonis Hukuman Mati Era Jokowi Lebih Banyak Dibanding Empat Presiden Sebelumnya

Sempat dipindah ke beberapa lapas, kini keduanya menjalani hukuman di Lapas Lowokwaru di Malang, Jawa Timur, yang menurut putri bungsu Ruben, Yuliani Anni, pelayanan kesehatan di lapas 'sangat minim'.

"Kebetulan kakak kemarin mengalami gangguan di mata, dan saya melihat memang di dalam pelayanan terkait kesehatan sangat minim dan ketersediaan dokter sangat minim banget. Jadi sulit untuk pemeriksaan juga," ujar Ani kepada BBC News Indonesia, Kamis (10/10/2019).

Penyakit katarak yang dialami oleh mata Markus, mengharuskannya untuk menjalani operasi ringan. Untungnya, ada pihak yang bersedia membantunya melakukan pemeriksaan kesehatan di luar lapas, setelah melalui proses birokrasi dengan pihak lapas.

Ia juga menyebut kualitas makanan tidak layak.

"Kita tahu kondisi lapas soal makanan itu dibilang layak juga nggak, ya sekadarnya," ujarnya lirih.

Baca juga: Terdakwa Pembunuh dan Pembakar Pria Berkaos Polisi Dituntut Hukuman Mati

Kapasitas berlebih dan minimnya anggaran dianggap menjadi penyebab minimnya pelayanan kesehatan dan makanan yang tidak layak.Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images Kapasitas berlebih dan minimnya anggaran dianggap menjadi penyebab minimnya pelayanan kesehatan dan makanan yang tidak layak.

Ani yang kini tinggal di Jakarta, mengaku terakhir kali bertemu dengan kakak dan ayahnya setahun lalu, ketika sang kakak menjalani operasi di rumah sakit.

Dia mengaku berat harus melihat ayahnya yang terpaksa menghabiskan masa senjanya di penjara untuk sesuatu yang diklaim tidak dia lakukan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bacakan Pembelaan, Pelawak Nurul Qomar Merasa Jadi Korban Politik Cirebon

Bacakan Pembelaan, Pelawak Nurul Qomar Merasa Jadi Korban Politik Cirebon

Regional
Berhasil, Banyuwangi Festival Raih Penghargaan TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik

Berhasil, Banyuwangi Festival Raih Penghargaan TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik

Regional
Balita 3 Tahun yang Tewas dengan Luka Lebam Dianiaya Pacar Ibunya

Balita 3 Tahun yang Tewas dengan Luka Lebam Dianiaya Pacar Ibunya

Regional
Siswa SMP yang Gantung Diri di Kupang Pernah Terima Hadiah Sepeda dari Jokowi

Siswa SMP yang Gantung Diri di Kupang Pernah Terima Hadiah Sepeda dari Jokowi

Regional
Pemkab Ende Kucurkan Rp 2 Miliar Benahi Taman Renungan Bung Karno

Pemkab Ende Kucurkan Rp 2 Miliar Benahi Taman Renungan Bung Karno

Regional
Tulis Komentar Nyinyir di Facebook soal Penusukan Wiranto, Warga Tanjungpinang Diamankan

Tulis Komentar Nyinyir di Facebook soal Penusukan Wiranto, Warga Tanjungpinang Diamankan

Regional
Sambut Ibu Kota Negara, Balikpapan Kirim ASN Belajar di Singapura

Sambut Ibu Kota Negara, Balikpapan Kirim ASN Belajar di Singapura

Regional
Densus 88 Tangkap Pasangan Suami Istri di Semarang

Densus 88 Tangkap Pasangan Suami Istri di Semarang

Regional
Kisah Siswa SD di Flores Pikul Jeriken Isi 5 Liter Air Tiap Hari, Bangun Lebih Pagi hingga Jalan Kaki 5 Km

Kisah Siswa SD di Flores Pikul Jeriken Isi 5 Liter Air Tiap Hari, Bangun Lebih Pagi hingga Jalan Kaki 5 Km

Regional
Temui Para Guru di Wamena, Mendikbud Jamin Keamanan

Temui Para Guru di Wamena, Mendikbud Jamin Keamanan

Regional
Sayembara Menangkap Pelaku Pembakaran Gunung Kareumbi Jabar, Hadiahnya Jutaan Rupiah

Sayembara Menangkap Pelaku Pembakaran Gunung Kareumbi Jabar, Hadiahnya Jutaan Rupiah

Regional
Penusukan Wiranto, Menteri Agama Minta Semua Pihak Gaungkan Moderasi Beragama

Penusukan Wiranto, Menteri Agama Minta Semua Pihak Gaungkan Moderasi Beragama

Regional
Kisah Anak Bawa Pulang Jasad Ibu karena Rindu, Sempat Diinapkan di Rumah dan Alami Gangguan Jiwa

Kisah Anak Bawa Pulang Jasad Ibu karena Rindu, Sempat Diinapkan di Rumah dan Alami Gangguan Jiwa

Regional
Usai Bagikan KIA yang Pecahkan Rekor Muri, Bupati Bantul Panggul Anak

Usai Bagikan KIA yang Pecahkan Rekor Muri, Bupati Bantul Panggul Anak

Regional
Usulan Pembentukan Provinsi Surakarta Dapat Penolakan, Ini Kata Bupati Karanganyar

Usulan Pembentukan Provinsi Surakarta Dapat Penolakan, Ini Kata Bupati Karanganyar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X