Soal Dugaan "Bullying" Pelajar SD di Grobogan, Ini Komentar Ganjar

Kompas.com - 09/10/2019, 15:40 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo KOMPAS.com/RISKA FARASONALIAGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo

SOLO, KOMPAS.com - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tak ingin kasus bullying yang diduga dialami RS, seorang pelajar SD Negeri di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, terulang.

"Jangan gampang mem-bullying-lah, kasihan anak-anak," kata Ganjar, saat meninjau kebakaran TPA Putri Cempo di Solo, Jawa Tengah, Rabu (9/10/2019).

Pihaknya akan menelusuri SD tempat sekolah RS yang diduga menjadi korban bullying karena menjatuhkan jam dinding kelas saat main bola.

"Iya, nanti diurusin," kata dia.

Baca juga: Kisah Pelajar SD Anak Penjual Kerupuk Jadi Korban Bullying, Takut Sekolah hingga Depresi

Seperti diberitakan, RS, seorang pelajar SD Negeri di wilayah Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengalami depresi berat setelah diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh beberapa teman sebangkunya.

Ironisnya, siswa kelas VI  SD tersebut disebut-sebut telah menerima bullying verbal dan fisik sejak kelas IV  SD atau dua tahun ini.

Sejak saat itu, kondisi psikis bocah berusia 12 tahun ini mulai tak stabil, tak seperti biasanya. Ia lebih memilih berdiam diri di rumah hingga takut bertemu dengan seseorang.

Ibunda RS, Masrikah (49), menyampaikan terhitung selama dua tahun ini, keluarganya telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatan terapi psikologis RS.

Terlebih lagi, kondisi perekonomian keluarga yang pas-pasan. Bapak RS, Kasnawi (54), bekerja sebagai buruh bangunan.

Baca juga: Kasus Bully Anak SD: Ibu Mana yang Tega Melihat Anaknya Diperlakukan Seperti Itu...

Persoalan awal hingga berujung anak bungsunya tersebut menjadi korban bullying terjadi pada saat RS duduk di bangku kelas IV SD.

Ketika itu, saat jam pelajaran kosong, RS dan teman-temannya bermain sepak bola di dalam kelas. Naas, saat itu bola yang ditendang RS mengenai jam dinding hingga jam terjatuh di lantai.

"Jam dinding pecah dan kami belum bisa ganti karena kata pihak sekolah harganya Rp 300.000. Sejak saat itu anak saya selalu di-bully, bahkan pernah disekap di kelas oleh teman-teman sekelas. Rambutnya dijambak, diludahi, disiram air, dan kekerasan lain. Kami sudah konfirmasi ke sekolah, tetapi respons tak baik, bahkan suami saya diusir," tutur Masrikah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X