Masa Tanggap Darurat di Wamena Sudah Lewat, Wiranto: Tidak Perlu Kembali ke Daerah Masing-masing

Kompas.com - 09/10/2019, 06:06 WIB
Seorang polisi wanita bermain dengan anak pengungsi Wamena di pengungsian di kota Merauke, Papua (03/10). Muhammad Abdul Syah/Anadolu Agency via Getty ImageSeorang polisi wanita bermain dengan anak pengungsi Wamena di pengungsian di kota Merauke, Papua (03/10).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Dua pekan setelah kerusuhan, Wamena disebut berangsur pulih. Namun sebagian warga yang mengungsi mengatakan enggan kembali ke kota di Kabupaten Jayawijaya, Papua itu.

"Sudah trauma, tidak mau (kembali)," kata Agnesia Patiung (16) kepada wartawan Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, saat ditanya apakah ia berencana kembali ke Wamena pascainsiden berdarah pada 23 September lalu.

Agnes adalah salah satu warga pendatang yang baru tiba di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada Selasa (8/10/2019) siang dalam gelombang pengungsi asal Wamena.

Baca juga: Ganjar: Tidak Semua Warga Jateng di Wamena Minta Pulang Kok...

Hingga Senin (7/10/2019), sudah 286 pengungsi asal Wamena tiba di sana.

Agnes dan keluarga sempat mengungsi selama beberapa hari di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya, sebelum pindah ke Jayapura, dan akhirnya memutuskan pulang kampung ke Toraja.

"Kaca-kaca semua dilempar, kaca-kaca semua jatuh, terus kita sembunyi di bawah kolong meja," tuturnya mengingat pagi yang berubah kelam di sekolahnya di SMA Negeri 1 Wamena.

Baca juga: Sebanyak 213 Warga Asal Sumbar Memilih Tetap Bertahan di Wamena

Salah seorang pengungsi Wamena yang baru tiba di Posko Kemanusiaan Peduli Papua di Toraja Utara, Selawesi Selatan pada Selasa (08/10). Jufri Tonapa Salah seorang pengungsi Wamena yang baru tiba di Posko Kemanusiaan Peduli Papua di Toraja Utara, Selawesi Selatan pada Selasa (08/10).
Pengungsi lain, Enny Vriend, mengambil langkah serupa.

Aparatur Sipil Negara (ASN) itu membawa serta ketiga anaknya keluar dari Papua untuk menghindari kemungkinan terjadinya kembali kerusuhan.

"Saya cuma amankan anak-anak sementara saja, karena mereka trauma pada saat kerusuhan," ungkap Enny.

"(Anak) yang sudah besar itu sudah mengerti, dia bilang 'Ma, saya takut'."

Ia belum tahu kapan akan kembali ke Wamena, tapi yang pasti, anak-anaknya tidak akan ia bawa kembali ke sana dalam waktu dekat.

Enny berencana menitipkan mereka kepada orang tuanya di Toraja dan menyekolahkan mereka di sana.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X