Nasib Pengungsi Gempa di Seram Barat, Mau Dapat Bantuan Harus Angkat Parang...

Kompas.com - 07/10/2019, 21:30 WIB
Seorang lansia yang juga pengungsi korban gempa tidur dalam kondisi sakit tanpa penanganan medis di tenda darurat di Dusun Kelapa Dua, Desa Kairatu, Seram Bagian Barat, Maluku, Minggu (6/10/2019) KOMPAS.COM/RAHMAT RAHMAN PATTYSeorang lansia yang juga pengungsi korban gempa tidur dalam kondisi sakit tanpa penanganan medis di tenda darurat di Dusun Kelapa Dua, Desa Kairatu, Seram Bagian Barat, Maluku, Minggu (6/10/2019)

AMBON, KOMPAS.com - Ribuan pengungsi korban gempa yang  tersebar di sejumlah lokasi pengungsian di pedalaman hutan Kecamatan Inamosul, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku hanya bisa pasrah di lokasi pengungsian.

Meski sudah hampir dua pekan mengungsi pascagempa berkekuatan 6,8 magnitudo mengguncang wilayah tersebut, namun bantuan untuk pengungsi di wilayah itu masih sangat minim, bahkan banyak pengungsi yang sama sekali belum menerima bantuan apapun.

Kondisi mereka sangat memprihatinkan lantaran. Selain tak mendapatkan bantuan, banyak pengungsi yang kini mulai terserang berbagai macam penyakit seperti ISPA, demam, pilek, kurang darah hingga diare.

Ironisnya lantaran tersebar di gunung-gunung dan hutan yang jauh dari perkampungan mereka sulit dijangkau tim medis.

Baca juga: Susahnya Korban Gempa di Seram Barat, Sakit-sakitan, Tidur Beralaskan Tanah

“Kita warga Inamosul yang mengungsi akibat gempa seperti hidup di zaman batu,”kata Ely salah satu warga kilometer 9 saat ditemui Kompas.com di Kairatu, Seram Bagian Barat, Minggu (6/10/2019).

Mengungsi di hutan dan pegunungan karena trauma

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seram Bagian Barat, di kecamatan Inamosul ada puluhan rumah warga yang mengalami kerusakan parah dan sedang termasuk juga gedung gereja yang berlokasi di kilometer 9.

Menurut Ely sampai saat ini warga yang rumah-rumahnya rusak memilih mengungsi ke hutan-hutan dan pegunungan karena mereka masih merasa trauma dan terus merasakan adanya gempa susulan yang terus terjadi.

Minimnya bantuan kepada para pengungsi di kecamatan itu membuat warga terpaksa mengandalkan hasil kebun untuk kebutuhan makan selama berada di lokasi pengungsian.

Sementara untuk pengungsi yang sakit dan ibu hamil hanya bisa pasrah karena tidak ada obat-obatanan dan asupan gizi untuk ibu hamil.

Baca juga: 11 Hari Mengungsi, Korban Gempa di Seram Barat Masih Tidur Beralaskan Tanah

“Sampai hari ini katong (kita) yang agak dekat hanya dapat 2 kg beras dan dua bungkus Supermie, yang mengungsi jauh dari kampung itu belum dapat sama sekali,”ujarnya.

Pengungsi lain, David Pattipawae mengatakan untuk mendapatkan kebutuhan bayi dan juga kebutuhan lainnya di pengungsian, warga harus turun gunung dan menempuh perjalanan lebih dari 20 km menuju Kairatu dan Desa Waimital untuk sekedar membeli kebutuhan tersebut.

Dia mengaku ada banyak relawan yang ikut menyalurkan bantuan, namun sayang bantuan itu hanya disalurkan ke lokasi pengungsian yang berada dekat dengan akses jalan raya.

Sementara mereka yang mengungsi di wilayah pegunungan sama sekali tidak tersentuh bantuan.

“Tapi seng (tidak) apa-apa katong (kita) dari dulu juga seng pernah diperhatikan pemerintah daerah, katong pasrah saja, kalaupun dong (mereka) mau membantu, katong terima kalau seng jua (juga) seng apa-apa,”ujarnya.

Baca juga: 4 Ibu Hamil Melahirkan Bayi di Lokasi Pengungsian Gempa di Seram Barat

Tersebar di hutan, pakai tenda darurat

David mengaku pengungsi yang tersebar di hutan-hutan wilayah tersbut mendirikan tenda-tenda darurat yang dibeli dengan uang sendiri.

Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terdesak Kebutuhan Ekonomi, Warga Kulon Progo Jadi Muncikari Prostitusi Online

Terdesak Kebutuhan Ekonomi, Warga Kulon Progo Jadi Muncikari Prostitusi Online

Regional
Nasihat Hakim kepada Terdakwa yang Durhaka karena Melawan Orangtua

Nasihat Hakim kepada Terdakwa yang Durhaka karena Melawan Orangtua

Regional
Ponari, si Dukun Cilik Telah Menikah, Kini Berjualan Online dengan Istrinya

Ponari, si Dukun Cilik Telah Menikah, Kini Berjualan Online dengan Istrinya

Regional
Air Mata Hendra Tak Berhenti Mengalir Ditolak Sekolah karena Cacat, Buku Pelajaran Dikembalikan

Air Mata Hendra Tak Berhenti Mengalir Ditolak Sekolah karena Cacat, Buku Pelajaran Dikembalikan

Regional
UNU Yogya Buka Crisis Center Korban Pelecehan Seksual 'Dosen' Swinger

UNU Yogya Buka Crisis Center Korban Pelecehan Seksual "Dosen" Swinger

Regional
Sudah 2 Bulan Warga Sekitar Danau Limboto Gorontalo Terendam Banjir

Sudah 2 Bulan Warga Sekitar Danau Limboto Gorontalo Terendam Banjir

Regional
Unand Cegah Penyebaran Covid-19, Dosen di Atas 60 Tahun Harus  WFH

Unand Cegah Penyebaran Covid-19, Dosen di Atas 60 Tahun Harus WFH

Regional
Unggahan 'Kacung WHO' Jerinx SID Berujung Laporan ke Polda Bali...

Unggahan "Kacung WHO" Jerinx SID Berujung Laporan ke Polda Bali...

Regional
Seorang Perempuan di Bireuen Ditemukan Terkapar dengan Luka di Leher

Seorang Perempuan di Bireuen Ditemukan Terkapar dengan Luka di Leher

Regional
Buruh Harian Cabuli Anak Tetangga di Kamar Mandi, Pakai Iming-iming Uang Rp 35.000

Buruh Harian Cabuli Anak Tetangga di Kamar Mandi, Pakai Iming-iming Uang Rp 35.000

Regional
Sekda Akui Sempat Ikut Sidang Paripurna Bersama Anggota DPRD Maluku yang Positif Corona

Sekda Akui Sempat Ikut Sidang Paripurna Bersama Anggota DPRD Maluku yang Positif Corona

Regional
Sobek Amplop Penambang Pasir, Nelayan Makassar Mengaku Tak Niat Robek Uang

Sobek Amplop Penambang Pasir, Nelayan Makassar Mengaku Tak Niat Robek Uang

Regional
Jalan Kelok 44 Sumbar Ambles, Baru Dibuka Lagi 10 Agustus

Jalan Kelok 44 Sumbar Ambles, Baru Dibuka Lagi 10 Agustus

Regional
Marah Tak Diberi Uang oleh Ibu, Seorang Anak Divonis Hukuman Penjara

Marah Tak Diberi Uang oleh Ibu, Seorang Anak Divonis Hukuman Penjara

Regional
Bupati Langkat Izinkan Kawasan Wisata Bukit Lawang Dibuka, tapi...

Bupati Langkat Izinkan Kawasan Wisata Bukit Lawang Dibuka, tapi...

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X