Kado HUT ke-248 Kota Pontianak: Krisis Air Bersih dan Kualitas Udara Buruk

Kompas.com - 07/10/2019, 18:54 WIB
Seorang warga mengenakan masker sewaktu melintas di Jalan Putri Daranante, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (16/9/2019). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, tercatat 6.026 penderita ISPA sejak terjadinya bencana karhutla. KOMPAS.COM/HENDRA CIPTASeorang warga mengenakan masker sewaktu melintas di Jalan Putri Daranante, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (16/9/2019). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalbar, tercatat 6.026 penderita ISPA sejak terjadinya bencana karhutla.

PONTIANAK, KOMPAS.com - Musim kemarau panjang yang melanda Kota Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu, menyisakan sejumlah persoalan.

Di antara sejumlah persoalan tersebut, ialah warga kesulitan mengakses air bersih, bau tidak sedap muncul dari saluran air, dan kualitas udara memburuk.

Kondisi itu menjadi sorotan Campaigner Yayasan Natural Kapital Pontianak, Hendri Ziasmono. Menurut dia, persoalan semacam ini sudah menjadi “kado” hari jadi Kota Pontianak ke-248 yang jadi pada tanggal 23 Oktober 2019.

“Warga sudah menyampaikan kegelisahannya melalui berbagai ruang komunikasi publik. Salah satunya, kualitas air PDAM tidak layak dikonsumsi,” kata Hendri, melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com di Pontianak, Senin (7/10/2019).

Baca juga: Selama 2 Hari, Menteri Susi Tenggelamkan 40 Kapal Pencuri Ikan di Pontianak dan Natuna

Menurut Hendri, serangkaian fakta di depan mata sudah menyebutkan, penggunaan air yang disediakan negara di musim kemarau, hanya sebatas mandi dan cuci. Hal ini dipengaruhi rendahnya kualitas air yang mengalir ke konsumen akibat intrusi air laut.

Berdasarkan catatan PDAM sejak Agustus lalu, kadar garam yang terkandung dalam air dapat mencapai 3.000 miligram per liter. Jumlah ini sudah berada di atas batas normal, yakni 600 miligram per liter.

“PDAM tidak dapat berbuat banyak dengan kondisi tersebut. Pasalnya, sumber air baku yang berasal dari intake di Sungai Kapuas telah terintrusi air laut dan mengharapkan hujan segera datang agar debit air Sungai Kapuas segera meningkat,” papar Hendri.

Sebelumnya Wali Kota Pontianak juga sudah mengimbau warga untuk tidak mengonsumsi air PDAM yang tercemar oleh air laut dan menginstruksikan PDAM untuk menggunakan air baku dari Danau Penepat. Namun, hal tersebut tampaknya urung dilakukan oleh PDAM.

Baca juga: Kualitas Udara Pontianak Berbahaya, International Dragon Boat Ditunda

Hanya saja, Hendri menyebut situasi tersebut masih tertolong oleh warga Pontianak yang sudah terbiasa tidak mengonsumsi air PDAM. Warga lebih banyak mengonsumsi air hujan dan air galon yang bahan bakunya bersumber dari pegunungan.

Lebih jauh Hendri mengatakan bahwa masalah lain yang muncul saat musim kemarau ialah bau busuk yang berasal dari kanal atau parit.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Persiapan Vaksinasi Covid-19, Dokter dan Perawat di Banyumas Ikuti Pelatihan

Persiapan Vaksinasi Covid-19, Dokter dan Perawat di Banyumas Ikuti Pelatihan

Regional
Ngebut, Pajero Tabrak 1 Mobil dan 2 Motor di Jembatan Ampera, 2 Terluka

Ngebut, Pajero Tabrak 1 Mobil dan 2 Motor di Jembatan Ampera, 2 Terluka

Regional
Punya Modal Berdikari, Aep Syaepuloh Ngaku Belajar Mandiri saat Nyantri

Punya Modal Berdikari, Aep Syaepuloh Ngaku Belajar Mandiri saat Nyantri

Regional
Haul Syekh Abdul Qodir Undang Kerumunan, Ini Penjelasan Gubernur Banten

Haul Syekh Abdul Qodir Undang Kerumunan, Ini Penjelasan Gubernur Banten

Regional
3 Guru SMP di Kudus Meninggal Dunia Beruntun, 2 Positif Covid-19

3 Guru SMP di Kudus Meninggal Dunia Beruntun, 2 Positif Covid-19

Regional
Begini Cara Paslon Zairullah-Muhammad Rusli Tekan Angka HIV AIDS di Tanah Bumbu

Begini Cara Paslon Zairullah-Muhammad Rusli Tekan Angka HIV AIDS di Tanah Bumbu

Regional
Kota Bandung Zona Merah Covid-19

Kota Bandung Zona Merah Covid-19

Regional
Gubernur Riau dan Istrinya Positif Covid-19, Dirawat dalam Satu Ruangan

Gubernur Riau dan Istrinya Positif Covid-19, Dirawat dalam Satu Ruangan

Regional
Wali Kota Malang Sutiaji Positif Covid-19

Wali Kota Malang Sutiaji Positif Covid-19

Regional
Bentangkan Bintang Kejora, 6 Orang Jadi Tersangka Makar, Polisi Temukan Selebaran Republik West Papua Nugini

Bentangkan Bintang Kejora, 6 Orang Jadi Tersangka Makar, Polisi Temukan Selebaran Republik West Papua Nugini

Regional
Video Viral Warga Jarah Muatan Truk yang Terguling, Ini Faktanya

Video Viral Warga Jarah Muatan Truk yang Terguling, Ini Faktanya

Regional
Melihat Rumah Singgah Anak Penderita Kanker di Aceh, Saat Pasien Layaknya Keluarga

Melihat Rumah Singgah Anak Penderita Kanker di Aceh, Saat Pasien Layaknya Keluarga

Regional
'Jangan Sia-siakan Pengorbanan Tenaga Kesehatan'

"Jangan Sia-siakan Pengorbanan Tenaga Kesehatan"

Regional
Gunung Semeru Meletus, Seluruh Pendaki Dipastikan Sudah Turun

Gunung Semeru Meletus, Seluruh Pendaki Dipastikan Sudah Turun

Regional
Gunung Semeru Meletus, Truk dan Alat Berat Penambang Pasir di Lumajang Terjebak Lahar Panas

Gunung Semeru Meletus, Truk dan Alat Berat Penambang Pasir di Lumajang Terjebak Lahar Panas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X