Kisah Para Mahasiswa Demonstran, Kendaraan Dirazia hingga Didukung Masyarakat

Kompas.com - 01/10/2019, 16:22 WIB
Ribuan mahasiswa mengikuti aksi #GejayanMemanggil di Simpang Tiga Colombo, Gejayan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (23/9/2019). Dalam aksi demonstrasi yang diikuti oleh ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta itu, mereka menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi serta mendesak pemerintah dan DPR mencabut UU KPK yang sudah disahkan. ANTARA FOTO/ANDREAS FITRI ATMOKORibuan mahasiswa mengikuti aksi #GejayanMemanggil di Simpang Tiga Colombo, Gejayan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (23/9/2019). Dalam aksi demonstrasi yang diikuti oleh ribuan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta itu, mereka menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi serta mendesak pemerintah dan DPR mencabut UU KPK yang sudah disahkan.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Gelombang aksi mahasiswa di sejumlah kota mengklaim mengawal demokrasi demi keadilan bagi seluruh kelompok masyarakat. Bersama gerakan sipil lainnya, beragam aksi mereka menjadi salah satu isu utama publik.

Mereka punya tujuh tuntutan terutama pembatalan rancangan undang undang bermasalah, termasuk UU KPK yang telah disahkan.

Aksi ini kini mendesak Presiden Jokowi mengeluarkan perppu untuk membatalkan UU KPK. Sebelumnya, pemerintah dan DPR juga sepakat menunda sejumlah RUU yang kontroversial, termasuk RKUHP.

Baca juga: Kerugian Kerusakan Gedung DPRD Sumbar Saat Demo Mahasiswa Rp 2,5 Miliar

Di sisi lain, polisi merazia dan menangkap sejumlah mahasiswa. Dua peserta unjuk rasa mahasiswa di Kendari meninggal dunia. Sementara ratusan mahasiswa dan puluhan polisi disebut terluka akibat bentrokan.

Menurut pengamat politik, demonstrasi mahasiswa kali ini penuh kejutan: kreatif, cair, tapi tetap serius menuntut perubahan. Gelombang besar unjuk rasa mereka difasilitasi media sosial.

Baca juga: 4 Fakta Baru 2 Mahasiswa UHO Kendari Tewas Saat Demo, Ditemukan 3 Proyektil hingga 13 Polisi Ditahan


'Diputar-putar sopir bus'

Sejumlah mahasiswa dan pelajar salat Maghrib berjamaah di tengah unjuk rasa di Gedung Sate, Bandung, Sabtu (28/09). ANTARAFOTO/RAISAN AL FARISI Sejumlah mahasiswa dan pelajar salat Maghrib berjamaah di tengah unjuk rasa di Gedung Sate, Bandung, Sabtu (28/09).
Perjalanan 250 mahasiswa dari Semarang ke Jakarta untuk bergabung dalam aksi demonstrasi 24 September 2019 lalu tak mulus.

Mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (Unes) dan Universitas Diponegoro mengaku berkali-kali mendapat tekanan, mulai dari kampus, razia kendaraan sampai sopir memulangkan mereka kembali ke kotanya.

Setidaknya itu yang dirasakan Saiful Muhjab, presiden mahasiswa Unes.

Sebelum berangkat, kata Saiful, ia harus menghadapi koleganya sendiri dari unit Resimen Mahasiswa (Menwa).

"Ada laporan ke birokrasi kampus, kemudian Menwa menyisir anak-anak yang berangkat siapa saja," katanya kepada BBC Indonesia.

Baca juga: Berkah Pemulung di Balik Aksi Demo di Bandung

Tapi negosiasi terus dilakukan. Jadwal berangkat ke Jakarta pukul 22.00 WIB menggunakan lima bus akhirnya ditunda hingga 00.30 WIB.

"Sampai di Tegal. Tadinya mau lewat tol, tapi juga dicegat oleh kepolisian dari pihak polres. Akhirnya kita tak lewat tol," kata Saiful.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X