Kronologi Meninggalnya Satia, Bocah Obesitas asal Karawang

Kompas.com - 30/09/2019, 05:20 WIB
Satia Putra, bocah tujuh tahun dengan berat 97 kilogram asal Kampung Cilempung, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang bersama ayahnya, Sarli, Senin (1/7/2019). KOMPAS.com/FARIDASatia Putra, bocah tujuh tahun dengan berat 97 kilogram asal Kampung Cilempung, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang bersama ayahnya, Sarli, Senin (1/7/2019).

KARAWANG, KOMPAS.com - Satia Putra, bocah obesitas ekstrem dengan bobot 97 kilogram asal Karawang, meninggal.

Hingga sebelum mengembuskan napas terakhir, berat badannya berangsur naik hingga 110 kilogram.

Bocah tujuh tahun itu ramah. Semasa hidupnya, saat disambangi Kompas.com, Satia tak sungkan bertutur sapa.

Bahkan, ia menyapa lebih dulu. Ia pun ngobrol sembari sesekali tersenyum.

Baca juga: Sebelum Meninggal, Berat Badan Satia, Bocah Obesitas Asal Karawang, Semakin Bertambah

Berat badan naik drastis

Berat badan putra pasangan Sarli (50) dan Komariah (40) kian naik setelah ia disunat saat berumur tiga tahun. Kian hari, nafsu makan bocah itu kian naik, hingga mencapai 97 kilogram.

Bahkan, ditimbang saat pemeriksaan di RSUD Karawang, berat badan Satia 101 kilogram.

Sebelum meninggal, bobot badannya menjadi 110 kilogram, naik 5 kilogram dari sebelumnya.

Pola makan tak terkontrol

Tiap hari, Satia makan enam hingga tujuh kali. Itu belum dengan ngemil, seperti bakso.

Malam sebelum tidur, Satia juga kerap merengek meminta makan. Tiap kali makan, porsi makannya pun banyak, tak seperti anak-anak pada umumnya.

"Kalau bangun, misalnya jam 12 malam dia (Satia) juga sering minta makan. Kalau enggak dikasih, marah-marah," kata Sarli, ayah Satia.

Tiap kali makan, bocah yang seharusnya tahun ini bakal memasuki sekolah dasar itu mesti ada lauk, misalnya ikan atau telur.

"Kalau tidak ada lauk, dia rewel," kata dia.

Apalagi, Satia jarang main. Tiap hari hanya nonton TV di warung.

Baca juga: Satia, Bocah Obesitas dengan Berat 110 Kg Asal Karawang, Meninggal

Maklum, sudah lama keluarga Sarli memilih tinggal di warung dekat pantai sembari mencari nafkah.

"Main kalau pulang ke kampung (masih Kampung Cilempung, tetapi di wilayah padat penduduk), di sana banyak temannya," ujar dia.

Tidak bisa tidur telentang

Akibat obesitas yang dideritanya, Satia tidak bisa tidur telentang. Ia tidur dengan cara duduk, kemudian punggungnya diganjal dengan bantal.

"Dia sering merengek enggak bisa tidur," ungkap Sarli.

Dibawa ke RSUD Karawang

Satia kemudian dibawa ke RSUD Karawang pada Rabu (3/7/2019) sekitar pukul 10.00 WIB.

Satia sempat merengek tak mau turun dari ambulans. Orangtua Satia, camat, Wakil Bupati Karawang, hingga paramedis turut merayunya.

Satia kemudian meminta dibelikan mainan. Setelah sebuah mainan beko remot datang, barulah ia menurut untuk diobservasi oleh dokter.

Satia diobservasi sekitar setengah jam oleh dokter spesialis anak. Hasilnya, secara garis besar Satia hanya mengalami obesitas akibat pola makan yang tidak wajar.

"Hasil awal hanya mengalami kegemukan. Tensi dan lainnya wajar," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) RSUD Karawang Sri Sugihartati.

Untuk menjalani pemeriksaan secara menyeluruh dan lengkap, Satia dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Namun, rujukan tersebut urung dilakukan menunggu pemberkasan administrasi dan kesiapan keluarga.

Ditawari operasi bariatik

Sarli menyabutkan, ia pernah ditawari operasi penyempitan lambung untuk Satia. Namun, ia menolak lantaran tak tega.

"Saya tidak tega, dia (Satia) masih kecil," kata dia.

Baca juga: 5 Fakta Baru Satia Bocah Asal Karawang, Berat Badan Naik hingga Disarankan Dokter Jantung Cepat Diperiksa

Saat itu, kata Sarli, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli RSUD Karawang, Satia dinyatakan sehat.

Tidak ada gangguan pada organ dalam Satia. Ia hanya kegemukan. Sarli dan Komariah kemudian meminta obat penurun nafsu makan.

Namun, nafsu makan Satia masih saja besar dan berat badannya bertambah.

Merengek minta mainan dan mengeluh sakit

Sebelum meninggal, Satia berulang kali merengek minta mainan. "Pa beli mainan yuk. Ini yang terakhir," kata Sarli, di rumahnya Jalan Raya Tanjungbaru, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Minggu (29/9/219).

Sarli menyebut, Satia memang kerap merengek minta mainan. Bahkan, saat dibawa ke RSUD Karawang untuk pertama kali, Satia sempat menangis dan tidak mau turun.

Baru setelah dibujuk dibelikan mainan, ia mau turun untuk diperiksa dokter.

Selain minta dibelikan mainan, Satia juga mengeluhkan sakit. Pekan lalu, Satia batuk dan kemudian dibawa ke puskesmas.

Ia kemudian juga mengalami sesak napas. Oleh dokter, Satia disarankan dibawa ke rumah sakit.

"Pa saya enggak kuat, soalnya sakit banget," kata Sarli, menirukan perkataan Satia.

Meninggal

Komariah menyebut, sesuai pemeriksaan terakhir, Satia menderita asma. Satia pun sempat dirawat dan dipasang alat bantu pernapasan.

Baca juga: Ditimbang, Berat Badan Satia Bocah Obesitas Asal Karawang Naik Jadi 101 Kg

Berdasarkan saran dokter, Satia akan dibawa ke RSHS Bandung pada Minggu (29/9/2019).

Sabtu (29/9/2019) sekitar pukul 12.00 WIB, Satia masih bermain. Namun, sore hari kondisinya menurun.

Keluarga bermaksud langsung membawa ke rumah sakit sekitar pukul 21.00 WIB.

"Saya pinjam cator ke Pak Lurah (Kades Pasirjaya). Baru beres-beres, catornya dibersihin, sudah enggak ada (meninggal)," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nelayan Temukan 10 Peluru Senjata AK-47 Saat Menyelam di Bali

Nelayan Temukan 10 Peluru Senjata AK-47 Saat Menyelam di Bali

Regional
Balita Ditemukan Tanpa Kepala, Dokter Forensik: Penyebab Kematian Tak Dapat Dinilai

Balita Ditemukan Tanpa Kepala, Dokter Forensik: Penyebab Kematian Tak Dapat Dinilai

Regional
Pulang Malam Hari, Remaja Wanita di Makassar Dibius 6 Pria, Disekap 3 Hari Tanpa Makan

Pulang Malam Hari, Remaja Wanita di Makassar Dibius 6 Pria, Disekap 3 Hari Tanpa Makan

Regional
Cerita Kegigihan Tukang Kebun Sekolah yang Punya 15 Anak, Jual Cacing Sebagai Sampingan

Cerita Kegigihan Tukang Kebun Sekolah yang Punya 15 Anak, Jual Cacing Sebagai Sampingan

Regional
Bocah 11 Tahun yang Tewas Digigit Ular Weling Tangkapannya Ditemukan Ibunya dengan Mulut Berbusa

Bocah 11 Tahun yang Tewas Digigit Ular Weling Tangkapannya Ditemukan Ibunya dengan Mulut Berbusa

Regional
Kapal Pengangkut TKI ke Malaysia Tenggelam di Riau, 10 Orang Hilang

Kapal Pengangkut TKI ke Malaysia Tenggelam di Riau, 10 Orang Hilang

Regional
Tahun Depan, Ganjar Targetkan Semua Daerah di Jateng Miliki Mal Pelayanan Publik

Tahun Depan, Ganjar Targetkan Semua Daerah di Jateng Miliki Mal Pelayanan Publik

Regional
Tenaga Honorer Akan Dihapus Bertahap

Tenaga Honorer Akan Dihapus Bertahap

Regional
Hari Kelima Pencarian, Tim SAR Tak Juga Temukan Kapal Panji Saputra

Hari Kelima Pencarian, Tim SAR Tak Juga Temukan Kapal Panji Saputra

Regional
Perusahaan Kapal China Tanggung Hak Finansial ABK yang Jenazahnya Dibuang ke Laut

Perusahaan Kapal China Tanggung Hak Finansial ABK yang Jenazahnya Dibuang ke Laut

Regional
Ini Permintaan Siswi SD di Wakatobi pada Jokowi, “Bapak Presiden Tolong Bantu Saya Ikut Ujian'

Ini Permintaan Siswi SD di Wakatobi pada Jokowi, “Bapak Presiden Tolong Bantu Saya Ikut Ujian"

Regional
Pelajar yang Bunuh Begal Divonis 1 Tahun, Pengacara: Kami Pikir-pikir

Pelajar yang Bunuh Begal Divonis 1 Tahun, Pengacara: Kami Pikir-pikir

Regional
Ini Motif Pelaku Pembunuhan Pelajar SMA yang 2 Bulan lalu Menghilang dan Ditemukan Tinggal Tengkorak Kepala

Ini Motif Pelaku Pembunuhan Pelajar SMA yang 2 Bulan lalu Menghilang dan Ditemukan Tinggal Tengkorak Kepala

Regional
Bea Cukai Palembang Gagalkan Penyelundupan Ribuan Baby Lobster Senilai Rp 2,5 Miliar ke Singapura

Bea Cukai Palembang Gagalkan Penyelundupan Ribuan Baby Lobster Senilai Rp 2,5 Miliar ke Singapura

Regional
Raja Keraton Agung Sejagat Masih Mengelak soal Motif Penarikan Uang ke Pengikutnya

Raja Keraton Agung Sejagat Masih Mengelak soal Motif Penarikan Uang ke Pengikutnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X