Kompas.com - 23/09/2019, 22:34 WIB
Anggota tim gabungan karhutla Gunung Slamet di area hutan yang telah terbakar di perbatasan Kabupaten Brebes dan Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (20/9/2019). KOMPAS.COM/DOK TIM KARHUTLA GUNUNG SLAMETAnggota tim gabungan karhutla Gunung Slamet di area hutan yang telah terbakar di perbatasan Kabupaten Brebes dan Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (20/9/2019).

SEMARANG, KOMPAS.com - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sudaryanto mengatakan, untuk menangani kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Jawa Tengah, pihaknya menggunakan pemadaman secara manual.

Upaya tersebut dilakukan dikarenakan pemadaman secara manual menurutnya lebih efektif dilakukan daripada water bombing.

Mengingat water bombing sendiri saat ini masih digunakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatera.

"Sudah diputuskan penggunaan water bombing di Jawa Tengah di-pending karena masih bisa ditangani secara manual. Dengan dibantu oleh tim gabungan dari relawan, TNI/Polri dan Perhutani karena akan lebih efektif," ujar Sudaryanto, kepada Kompas.com, Senin (23/9/2019).

Baca juga: KLHK Upayakan Perampasan Aset Korporasi yang Sebabkan Karhutla

Sudaryanto mengungkapkan, pemadaman menggunakan water bombing sebenarnya cukup ideal, namun pengoperasian water bombing memang membutuhkan dana yang cukup besar.

"Paling tidak membutuhkan dana kisaran Rp 500 juta untuk pengoperasian. Operasional per jam saja butuh kisaran Rp 200 juta. Padahal, setidaknya butuh 3 hingga 4 jam terbang untuk pemadaman," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, selain biayanya yang cukup besar, ada hal-hal yang perlu diperhatikan terkait penggunaan water bombing.

Menurutnya, kebutuhan air di sejumlah wilayah karhutla dirasa sangat minim mengingat water bombing membutuhkan 500 liter air untuk pemadaman.

"Harus dipikirkan juga masalah ketersediaan air dari sejumlah wilayah titik kebakaran. Karena di daerah karhutla banyak yang mengalami kekeringan untuk itu persedian airnya kurang terpenuhi. Selain itu, juga karena alasan keamanan harus jauh dari sutet serta masih terkendala angin yang besar," terang dia.

Karena itu, tim di lapangan saat ini menggunakan drone dengan jangkauan 7 km untuk mendeteksi titik api. Sehingga, bisa dikirim pasukan relawan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

Regional
Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

Regional
Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.