Cerita Bayi 8 Bulan Batuk dan Muntah Akibat Kabut Asap Riau, Diungsikan Orangtuanya ke Medan

Kompas.com - 19/09/2019, 14:31 WIB
Yehezkiel dan keluarganya saat baru tiba di stasiun bus Makmur di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (18/9/2019). Dia meninggakan kebun kelapa dan kelapa sawitnya di Desa Tunas Jaya, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau karena asap karhutla semakin pekat. KOMPAS.com/DEWANTOROYehezkiel dan keluarganya saat baru tiba di stasiun bus Makmur di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (18/9/2019). Dia meninggakan kebun kelapa dan kelapa sawitnya di Desa Tunas Jaya, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau karena asap karhutla semakin pekat.

MEDAN, KOMPAS.com - Nama bayi tersebut Yoselin. Dia baru berusia 8 bulan. Di gendongan ibundanya, Rasiana (26), bayi perempuan tersebut tampak tertidur pulas sambil meminum susu dari botol kecil.

Sesekali mata kecilnya terbuka lalu menutup lagi. Saat ibundanya mengangkat barang bawaan, dia terbangun dan menangis. Susunya tak habis. 

Kamis pagi tadi (18/9/2019), sekitar pukul 09.45 WIB, warga Desa Karya Tunas Jaya, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, itu tiba di stasiun bus Makmur di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas.

UPDATE: Kompas.com menggalang dana untuk para korban kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Sumbangkan sedikit rezeki Anda untuk membantu mereka yang membutuhkan, terutama untuk pembelian masker dan kebutuhan lainnya yang perlu. Klik di sini untuk donasi.


Suaminya, Yehezkiel (33) tergopoh-gopoh mengangkat koper besar, termos, tas jinjing, handuk, minuman dan lainnya dari dalam bus dan bagasi ke samping toilet. 

"Rencananya 3 minggu lah di Medan. Di sana (Riau) asapnya pekat sekali," katanya dengan ramah. 

Baca juga: Tak Tahan Terdampak Kabut Asap Riau, Warga Pilih Mengungsi ke Medan

Bayi yang semula aktif jadi lemas terpapar asap

Yehezkiel mengatakan, dia bersama keluarganya sengaja ke Medan dan menginap di rumah istrinya di Setia Budi, Medan karena di rumahnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah sangat pekat.

Jarak pandang hanya 100 meter. Rumahnya hanya 3 jam dari Pelalawan, Riau. 

Untuk sementara dia meninggalkan kebun kelapa dan kelapa sawitnya yang seluas dua hektarekarena tidak tega melihat anaknya yang sebelumnya lasak (aktif), sejak terjadi karhutla, Yoselin sakit batuk dan sering muntah-muntah. 

Ceritanya sejenak terhenti saat anak di pangkuannya menangis. Yoselin pindah ke pangkuan istrinya, sambil mengenyot dot. Matanya berlinang air mata.

"Kasian dia, jadi lemes gini. Biasanya lasak. Tapi masih minum obat dia. Kemarin sempat dibawa ke mantri di sana. Mudah-mudahan sembuhlah di sini," kata Rasiana.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X