Rabu, BPBD Kalbar Modifikasi Cuaca untuk Atasi Karhutla

Kompas.com - 17/09/2019, 20:54 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Shutterstock.comIlustrasi kebakaran hutan dan lahan

PONTIANAK, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) di Kalimantan Barat masih saja terus terjadi dan belum ada tanda-tanda akan turun hujan.

Berdasarkan situs Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Selasa (17/9/2019), masih terpantau sebanyak 629 titik panas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Lumano menerangkan, langkah penanganan karhutla selanjutnya adalah dengan melakukan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk membuat hujan buatan di wilayah Kalbar.

"Sore tadi, pukul 15.27 WIB, baru landing pesawat cassa milik BNPB. Semoga besok ada awan, sehingga bisa mengikat garam untuk membuat hujan buatan," kata Lumano, kepada Kompas.com, Selasa malam.

Baca juga: Mahasiswa Sodorkan 6 Poin soal Karhutla, Gubernur Sumsel Siap Mundur, jika...

Namun, Lumano belum bisa merinci berapa banyak garam yang disediakan untuk disemai di udara.

Dia menyebut, rapat bersama tim untuk mengukur kebutuhan garam yang diperlukan baru akan digelar, Rabu (18/9/2019).

"Yang jelas, nanti BPBD akan ketemu dengan pihak BMKG di Bandara Internasional Supadio Pontianak, untuk melihat awan ada atau tidak," tutur dia.

Diberitakan sebelumnya, selain upaya hujan buatan, Pemerintah Provinsi Kalbar juga akan menggelar shalat istisqa di halaman Kantor Gubernur Kalbar, Rabu pagi.

Gubernur Kalbar Sutarmidji menegaskan, penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah dilakukan maksimal. Baik berupa pemadaman di wilayah darat maupun melalui udara.

Baca juga: Hilangkan Asap, 40 Ton Kapur Tohor Aktif Bakal Ditabur di Kawasan Karhutla Sumatera dan Kalimantan

 

Namun hasilnya belum maksimal. "Segenap upaya sebagai makhluk sudah diupayakan untuk menghentikan karhutla. Pemadaman dari darat dan udara dilakukan, tapi hasilnya belum maksimal," kata Midji, Selasa sore.

Dampak karhutla yang menyebabkan terjadinya kabut asap telah menyentuh semua lini masyarakat.

Selain Bandar Udara Internasional Supadio Pontianak sempat lumpuh, ribuan warga juga tercatat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X