Istri Ridwan Kamil: Masih Ada Warga Jabar Hanya Makan Kecap dan Kerupuk

Kompas.com - 16/09/2019, 06:42 WIB
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Bunda PAUD Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, saat membacakan buku berjudul ?Mia dan Ikan Goreng? yang dia tulis manakala mengunjungi SPS (Satuan PAUD Sejenis) Seroja dalam kegiatan Siaran Keliling (Sarling) di Kota Bekasi, Rabu (14/8/2019). Dok. Humas Pemerintah Provinsi Jawa BaratKetua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat yang juga Bunda PAUD Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, saat membacakan buku berjudul ?Mia dan Ikan Goreng? yang dia tulis manakala mengunjungi SPS (Satuan PAUD Sejenis) Seroja dalam kegiatan Siaran Keliling (Sarling) di Kota Bekasi, Rabu (14/8/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com – Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Atalia Praratya Kamil khawatir dengan gizi masyarakat Jabar yang ada di pelosok.

“Kesadaran gizi masyarakat di kota besar sudah paham. Tapi di pelosok masih banyak yang merasa capruk (kecap kerupuk) sudah cukup,” ujar Atalia di sela-sela Pameran Katering Jabar di Bandung, Minggu (16/9/2019) malam.

Bahkan, beberapa kali ia menemukan langsung, ibu yang memberikan nasi ditambah air bercampur bumbu penyedap pada anaknya.

Baca juga: Anak-anak Pulau di Batam Mayoritas Kurang Gizi


Ketika ia bertanya kenapa tidak diberikan makanan lain, ibu tersebut menjawab anaknya tidak mau. Anak itu hanya mau makan nasi dan air berbumbu penyedap.

“Kalau makan itu, anaknya lahap sekali. Saya khawatir dengan gizi mereka. Karena harus terpenuhi protein, karbohidrat, dan gizi lainnya,” ungkapnya.

Atalia mengingatkan, peran ibu-ibu sangat penting dalam pemenuhan gizi keluarga. Untuk itulah ia kerap mengajak ibu-ibu untuk datang ke Posyandu.

“Di meja ketiga dan keempat Posyandu ada sosialisasi makanan bergizi,” tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, PKK juga kerap mengadakan kegiatan. Misalnya yang baru dilaksanakan festival food ethnic yang tahun ini mengangkat tema olahan ikan.

Ikan, sambung Atalia, mengandung protein yang bagus untuk tubuh, khususnya anak-anak.

Dalam acara ini, ikan diolah dengan berbagai bentuk. Bahkan ikan bisa diolah bersama brownies dan puding tanpa bau amis.

Pihaknya juga menggelar lomba makanan olahan non beras. Itu dilakukan untuk menyosialisasikan pada masyarakat, karbohidrat tidak hanya bisa didapat dari beras.

“Ada umbi-umbian, makanan olahan non beras, jagung, dan lainnya. Ini harus diperkenalkan kepada masyarakat dan itu bisa dijadikan dengan kreasi macam-macam, tidak mesti sesuai aslinya,” tuturnya.

Baca juga: Anggota DPRD Jawa Barat Ramai-ramai Gadai SK, Ini Komentar Mendagri

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X