Dedi Mulyadi Akan Bangun Taman Habibie di Purwakarta

Kompas.com - 14/09/2019, 16:41 WIB
FOTO DOKUMENTASI. Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Sidang Tahunan MPR diselenggarakan dengan agenda penyampaian pidato Presiden Joko Widodo mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/ama. ANTARA FOTO/Sigid KurniawanFOTO DOKUMENTASI. Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Sidang Tahunan MPR diselenggarakan dengan agenda penyampaian pidato Presiden Joko Widodo mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/ama.

KOMPAS.com - Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi akan mendirikan taman BJ Habibie di Purwakarta.

Ia sudah menyediakan lahan 2 hektar di kawasan Cilodong untuk taman tersebut yang rencananya dibangun seluas 5.000 meter persegi.

Dedi mengatakan, taman untuk mengenang jasa Habibie itu akan dilengkapi fasilitas museum digital tentang biografi Habibie, mulai dari pendidikan, karier, hingga kisah cintanya bersama Ainun.

Baca juga: Keseriusan BJ Habibie Tangani Kasus Pelanggaran HAM di Aceh

Selain itu, taman tersebut juga akan dilengkapi fasilitas perpustakaan dan museum digital pesawat dan rancangan karya Habibie.

"Museum semuanya bersifat digital. Jadi nanti pengunjung bisa melihat secara lengkap perjalanan hidup Pak Habibie, mulai dari pendidikan, karier, karya, hingga kisah cinta dengan istrinya, Ibu Ainun," kata Dedi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Sabtu (14/5/2019).

Dedi mengatakan, pihaknya mendirikan taman Habibie karena kagum dengan sosok presiden ke-3 Republik Indonesia itu. Selain cerdas, Habibie juga dinilai memiliki pribadi yang sangat santun.

Saat menjabat sebagai presiden pada 1999 lalu, Habibie sudah berhasil mendongkrak nilai rupiah dari Rp 15.000 menjadi Rp 7.500. Padahal waktu itu merupakan masa-masa berat bagi pemerintah karena didera krisis ekonomi, sosial, hingga politik.

Selain itu, Habibie juga membuka kebebasan pers seluas-luasnya. Oleh karena itu, Habibie juga layak disebut Bapak Kemerdekaan Pers.

Namun, di balik keberhasilan itu, Habibie kerap dipandang negatif. Bahkan, laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR saat itu.

"Kebaikan apa pun yang dilakukan Pak Habibie saat itu selalu dipandang negatif," kata anggota DPR RI terpilih dari Partai Golkar ini.

Baca juga: Kenang BJ Habibie dengan Foto Selfie di Belakang Patung

Namun kini, setelah Habibie tiada, orang mulai menyadari jasa-jasa dan kebaikan Habibie. 

"Berbagai kebaikannya mulai tampak sekarang setelah Pak Habibie meninggal," katanya.

Menurut Dedi, kisah Habibie ini menjadi pelajaran bagi kita agar tidak menyia-nyiakan jasa-jasa pemimpin. Jangan dulu memandang negatif setiap kebijakan yang diambil pemimpin.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X